MATAMAROS.COM — Krisis air bersih di Kabupaten Maros kian memprihatinkan. Hingga awal Oktober, kekeringan meluas ke 12 dari 14 kecamatan setelah wilayah ini tercatat tidak diguyur hujan signifikan selama kurang lebih 122 hari berturut-turut.
Dampak kemarau panjang ini memaksa Pemerintah Kabupaten Maros mendistribusikan lebih dari 5 juta liter air bersih menggunakan lebih dari 1.000 armada tangki demi menyokong kebutuhan dasar warga.
Dari 12 wilayah terdampak, tujuh kecamatan di antaranya mengalami kekeringan total di seluruh wilayahnya. Tujuh kecamatan tersebut meliputi Bontoa, Lau, Maros Baru, Mandai, Marusu, Moncongloe, dan Tanralili.
Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengungkapkan, total penduduk yang berada di tujuh kecamatan terdampak parah tersebut mencapai 253.389 jiwa.
“Sementara lima kecamatan lainnya terdampak sebagian, yakni Simbang, Bantimurung, Turikale, Cenrana, dan Tompobulu. Untuk Tompobulu, pasokan air bersih mulai kami fokuskan ke pemukiman warga dan beberapa pondok pesantren,” ujar Towadeng, Rabu, 7 Oktober 2026.
Saat ini, praktis tersisa dua kecamatan yang belum masuk dalam peta terdampak kekeringan, yakni Camba dan Mallawa.
Untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat, BPBD Maros mengerahkan puluhan armada tangki saban hari. Kecamatan Bontoa menjadi titik terparah dengan alokasi minimal delapan tangki per hari, disusul Lau sebanyak empat tangki, serta Maros Baru.
“Setiap hari rata-rata 30 hingga 31 tangki air dikerahkan. Jumlahnya bisa melonjak hingga 35 tangki saat permintaan meningkat,” tutur Towadeng.
Proses penyaluran air bersih di lapangan pun tak lepas dari dinamika ketat. BPBD harus berkoordinasi erat dengan pemerintah desa dan aparat setempat untuk menertibkan warga di titik-titik pembagian.
Langkah antisipasi ini diambil untuk mencegah perebutan air hingga aksi nekat warga di jalan raya.
“Pengaturan di lokasi sangat krusial untuk mencegah insiden. Selama ini, kalau tidak ditata dengan teratur, armada mobil tangki kami kerap dicegat warga di tengah jalan,” ungkapnya.
Melalui koordinasi bersama Pemdes, warga kini diarahkan untuk berkumpul secara tertib di titik distribusi resmi yang telah ditentukan, sehingga penyaluran air dari pemerintah maupun relawan dapat berjalan aman dan merata. (ast)







