Mampir di Maros, Sutradara Sexy Killers Singgung Tik Tok

MAROS, MM – Jangan terlalu memikirkan biaya kalau mau bikin film. Peralatan yang terbatas bukan persoalan utama. Kekhasan yang perlu dipikirkan.

Beruntung bisa mendengarkan langsung tips itu dari Dandhy Laksono. Dia meluangkan waktunya untuk mampir di salah satu warung kopi di Jl Poros Maros-Makassar, Kamis malam, 5 Maret 2020.

Read More

“Saya dari Polman, selanjutnya mau ke Makassar. Tetapi teman-teman Oi minta saya singgah. Mereka ada rapat kerja. Ya sudah, saya mampir,” kata sutradara film Sexy Killers ini.

Dia membagikan pengalamannya bagaimana memproduksi film selama ini. “Kami ingin kawan-kawan tahu bahwa memproduksi film atau dokumenter itu gak harus mahal,” katanya.

Dandhy mengatakan, buat film tak serumit dulu lagi. Sampai bawa-bawa banyak kru, lighting yang besar, sampai colokan 1.000 watt.

“Sepanjang perjalanan, pernah saya bawa 16 baterai (hp). Jadi, shoot-nya pakai hp. Sekarang kan juga sudah ada LED yang Rp400.000-an,” bebernya.

Dia juga mengungkapkan, pernah memproduksi film yang 60 persen gambarnya diambil GoPro. “Itu kan teman-teman juga bisa beli atau paling tidak pinjam,” kata mantan jurnalis ini.

Yang dibutuhkan, lanjut Dandhy, adalah kekhasan dari karya. Jangan pernah mengejar tren. Dia pun mencontohkan, dulu ada Poco-poco, kemudian berganti lagi. Sekarang Tik Tok.

“Saya juga tidak yakin bagaimana Tik Tok ke depan. Makanya, jangan mengejar tren. Trending itu bayangan. Anda kejar sampai berapa pun, tidak ada habisnya,” ujar aktivis lingkungan ini.

Sementara itu, kepada pengurus Oi di Maros, dia berharap, persoalan sosial dan lingkungan lebih sering dibicarakan. Seperti tema-tema lagu Iwan Fals.

“Saya senang, Oi bisa menerjemahkan lirik lagu Iwan Fals ke dalam program kerjanya,” tutur Dandhy. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.