Surat Seorang Warga Maros untuk Yang Terkasih Sri Mulyani

MAROS, MM – Seorang warga Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menulis surat terbuka untuk Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati. Terkait banyak hal. Mulai dari cukai kantong kresek, corona, hingga ibu kota baru. Diunggah di akun Facebook, Kamis, 2 April 2020.

Berikut isi suratnya;

Read More

Yang Terkasih,
Ibu Sri Mulyani

Assalamualaikum, Ibu Sri. Selamat siang. Tolong jangan telat makan. Kata dokter di dekat bekas kantor saya, berpikir keras saat perut kosong sama dengan menyakiti diri.

Maaf lancang mengirim surat. Tetapi kekaguman ini harus saya ungkapkan. Saya termasuk yang tidak setuju perasaan bisa dipendam. Rekomendasi macam apa itu. Meski saya akui belakangan sepakat bahwa cinta tak selalu mesti memiliki. Baru-baru ini saja sih.

Ibu Sri, saya semakin jarang menyalakan televisi. Saya berhenti berlangganan koran. Saya membaca berita di ponsel. Dan nama ibu yang paling sering muncul di notifikasi. Pak Terawan saja kalah. Pak Ma’ruf Amin apalagi (di mana beliau sekarang?).

Makanya saya akhirnya paham mengapa ibu bertahan di kabinet. Ibu Susi saja terpental. Saya pernah lihat beliau di IG, sedang mandi-mandi di kali.

Ibu mampu menjalankan amanah dengan baik. Padahal, tugasnya terbilang berat. Seksi dana kalau di kepanitiaan porseni kompleks kami.

Bukan cuma keuangan. Kesehatan kami pun ibu pikirkan. Saya membaca entah di mana, mungkin Kompas atau Kumparan, ibu bicara soal diabetes melitus. Rakyat banyak yang bengkak kakinya karena terlalu banyak minum gula.

Saya juga sudah lupa menemukan beritanya di mana, ibu mengulas karbondioksida. Bahaya sekali, kata ibu, jika rakyat kebanyakan menghirup udara kotor.

Ajaibnya, jalan keluar yang ibu tempuh sangat sederhana. Pajaki kopi saset dan teh botol, serta pajaki asap knalpot. Bisa simpel begitu ya? Banyak pakar ekonomi yang tidak kepikiran. Wajar kan bila saya kagum sama ibu.

Ada lagi berita. Sepertinya saya baca bulan lalu. Ibu akan dorong negara untuk dapat duit dari kantong kresek. Dan alasannya lagi-lagi soal kesehatan kami di seantero nusantara. Tidak baik hidup berdesak-desakan dengan plastik.

Satu-satunya yang sempat membuat saya heran, mengapa ada target pendapatan hingga triliunan? Kan alasannya untuk perbaikan kesehatan saja. Supaya kami-kami ini tak terlalu banyak minuman serbuk, hirup asap dari knalpot mobil, dan pakai kantong jika belanja di warung kelontong.

Tetapi ah, saya telanjur kagum, Bu. Saya lupakan analisis itu. Lagipula saya bukan ekonom. Saya pernah kuliah sih. Ambil komunikasi jurnalistik, ekskulnya karate tetapi kemudian saya tukar jadi badminton.

Dan sekarang corona. Ini badai besar. Bukan hanya karena kita tak bisa lagi bebas salaman dan ngeteh bareng, tetapi karena membuat banyak orang tidak dapat apa-apa. Kita diminta tetap di rumah.

Sebagian bisa kerja dari rumah. Saya termasuk yang cukup beruntung. Ada beberapa bagian di pekerjaan saya yang bisa terselesaikan hanya dengan menyalakan laptop di depan vas bunga istri saya.

Tetapi, tetangga saya seorang sopir travel, sudah sebulan tak keluar. Dia agak sulit kalau mau mengemudikan mobil di dalam rumah. Penjual sayur langganan kami sudah tidak pernah melintas, supliernya tutup katanya. Karyawan teman saya terpaksa pulang kampung karena hotel tempatnya bekerja tidak buka. Tak ada kamar yang harus dibersihkan setiap pagi.

Namun sebenarnya wajar saja banyak yang bangkrut. Negara saja terlihat seperti bangkrut. Terlalu banyak pengeluaran. Kesehatan nombok 75 triliun, perlindungan sosial nambah 110 triliun, talangi pajak dan kur 70,1 triliun. Hanya saja mungkin belum tiba semua ke daerah. Di tempat kami dokter dan perawat pakai jas hujan. Beras dan mi instan ada dibagikan tetapi bukan oleh negara. Mal yang nyumbang.

Dan inilah mengapa saya semakin kagum sama ibu. Selalu saja ada solusi yang akhirnya terlihat enteng tetapi saya yakin susah loh mikirnya.

Brilian sekali idenya, buka rekening donasi. Sudah jadi malahan. Lewat BRI boleh, BNI juga bisa. Pakai kode unik biar tak salah tarik nantinya.

Saya masih kurang info siapa saja yang diharap menyumbang. Tetapi mudah-mudahan untuk dunia usaha saja. Tetangga saya yang sopir travel, penjual sayur langganan kami, dan karyawan teman saya mungkin tak bisa terlibat dulu. Saya juga ini lagi bokek. Di dompet tersisa beberapa lembar uang 10 ribuan, SIM A, ATM istri, dan KTP-el yang patah ujung atasnya.

Tetapi, eh, lupa. Istri saya yang penjual donat pelaku usaha juga ya? Berarti dia masuk sasaran jadi penyumbang. Walau saya tidak yakin dia sanggup karena sudah sepekan ini pesanannya sepi. Dia lebih banyak goreng tahu daripada goreng donat.

Terserahlah siapa yang akan nyumbang. Saya hanya mau konsentrasi mengagumi Ibu Sri. Banyak sekali akalnya. Entah sudah berapa banyak duit yang masuk ke kas negara karena ide ibu. Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak jadi rugi gara-gara Brompton dan Harley yang diselundupkan di perut pesawat itu kan berkat ibu juga.

Top deh pokoknya.

Lega juga rasanya sudah mengirim surat ini. Tidak ada kegembiraan paling tinggi dirasakan seorang penggemar ketika bisa menyapa idolanya. Apalagi jika disapa balik. Saya pernah disapa Duta So7 di Jogja, seperti mau loncat-loncat di depan candi malam itu.

Satu lagi, tolong sampaikan ke Pak Jokowi, lewat Zoom juga tak apa-apa, batalkan saja pemindahan ibu kota. Baik sih maksudnya, biar ada warisan untuk cucu. Tetapi sekarang calon kakek-nenek mereka sedang dikepung virus.

Kamis, 2 April 2020

Imam Dzulkifli di Maros, punya satu unit sepeda lipat.

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.