Waspada RS di Maros Jadi Mata Rantai Penularan Covid-19

MAROS, MM – Adanya seorang dokter di RSUD Salewangang, Maros, yang positif terinfeksi Covid-19 tak bisa dipandang enteng. Apalagi, dokter spesialis kandungan yang tak disebutkan namanya itu seorang residen. Berpindah-pindah tempat tugas.

Pihak RSUD Salewangang pun bergerak cepat. Sebanyak 54 (bukan 50) tenaga medis yang ditengarai pernah kontak dengan sang dokter sudah menjalani swab test. Semuanya juga dirumahkan, menjalani isolasi mandiri sambil menunggu hasil tes.

Read More

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Maros, dr Syahruni Syahrir mengakui, dokter RSUD Salewangang yang positif Covid-19 merupakan dokter residen. Bertugas di RSUD Salewangang per 1 April 2020.

Namun, selama enam hari bertugas, dokter tersebut sama sekali belum mengetahui jika dirinya terpapar corona.

Senin malam, 6 April 2020, baru mulai tak bertugas. “Pada 6 April malam sudah meninggalkan rumah sakit (RSUD Salewangang), tes swab di Rumah Sakit Unhas. Kemudian, 8 April keluar hasilnya positif. Sekarang isolasi 14 hari,” ungkap sejawat yang juga dokter kandungan di RSUD Salewangang itu.

Mengetahui hal tersebut, pihak RSUD Salewangang melakukan sterilisasi ruangan. Seluruh tenaga medis yang bertugas di ruangan obstetri dan ginekologi pun langsung dirumahkan. Jumlahnya 54 orang.

“Isolasi mandiri. Menunggu hasil swab 5-7 hari ke depan,” kata dr Syahruni.

Semua memang perlu waspada. Apalagi, berdasarkan penelusuran tim MataMaros.com, dokter tersebut sebelumnya bertugas di RS Labuang Baji, Makassar. Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit rujukan corona.

Menurut seorang sumber MataMaros.com yang layak dipercaya, RS Labuang Baji termasuk fasilitas kesehatan yang paling awal merawat pasien terindikasi corona.

Sementara itu, satu dari 12 pasien positif corona di Kabupaten Maros merupakan perawat di RS Siloam. Pernah kontak dengan pasien.

“Maka patut diduga telah muncul klaster baru corona di Maros. Klaster rumah sakit. Dari Makassar ke Maros,” kata sumber yang dekat dengan kalangan dokter tersebut.

Makanya, imbuhnya, Pemkab Maros atau tim yang ditunjuk perlu proaktif. Memutus mata rantai penyebaran virus. Tes masif dan masal. Bisa dimulai dari para petugas medis. Sejauh ini baru 54 tenaga medis itu yang menjalani swab test. Itu pun antre dua hari karena keterbatasan alat.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Pencegahan Penyebaran Covid-19 Kabupaten Maros, dr Syarifuddin, mengakui, alatnya (swab test kit) memang terbatas.

Alat test yang dipesan Pemkab Maros juga tak kunjung tiba. Itu pun hanya berupa rapid test. Sementara swab test kit yang ada sangat terbatas. Bantuan dinas kesehatan di provinsi. Hasilnya kemudian harus dikirim lagi ke lab PCR (Polymerase Chain Reaction) di Makassar yang saat ini juga cuma ada dua unit. Ada tiga unit untuk RS Wahidin namun kabarnya ruangannya belum siap. Kapasitas 1.500-an sampel bisa dites dalam sehari.

Warga Maros bisa sedikit lega andai lab penguji di Balai Besar Veteriner Maros benar-benar bisa digunakan untuk tes corona. Tetapi masih butuh konfirmasi dan penjelasan dari pihak terkait. Tim MataMaros.com sedang berupaya.

Dalam penanganan virus corona, ada istilah super-spreader atau penyebaran yang tinggi dan super cepat. Misalnya yang sempat terjadi di Korea Selatan. Seorang pasien secara signifikan menginfeksi lebih banyak orang. Begitu seterusnya. Hal yang bisa dicegah jika secepatnya ada tes masif dan masal. (abr)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.