Bantah Pernyataan Tim Gugus; “Bapak Saya Tidak dari Bandung, Hasil Tesnya Juga Negatif”

MAROS, MM – Keluarga almarhum Pasien dalam Pengawasan (PDP), EK (53) membantah pernyataan tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Maros. Warga Dusun Salarang, Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru tersebut, diakui tak pernah melakukan perjalanan ke Bandung baru-baru ini.

“Tidak. Memang pernah ke Bandung, sudah sekitar lima tahun yang lalu,” jelas Eva, putri bungsu almarhum kepada MataMaros.com, Kamis, 16 April 2020.

Read More

Penjelasan lain soal ayahnya terdaftar dalam PDP, ia mengaku tak mengetahuinya. “Kita juga kaget dia langsung PDP. Tidak ada (pemberitahuan) selama bapak saya sakit. Kita tahu status PDP semenjak ada pemberitaan meninggal,” ungkapnya.

Dia mengatakan, ayahnya memiliki diabetes. “Selama diabetes itu, sesak napas,” kata Eva.

Ayahya sempat mondar-mandir ke puskesmas. Namun, lanjutnya, dokter menyarankan kalau bisa ayahnya jangan dibawa ke rumah sakit karena adanya wabah Covid-19.

“Takutnya, kondisi bapak saya lagi drop, virus itu (Covid-19) bisa lebih mudah masuk,” imbuh Eva.

Sekitar dua minggu lalu, kondisi ayahnya sangat drop. “Muntah-muntah, batuk, makan dan minum juga tidak mau, akhirnya diinfus. Saya panggil perawat ke rumah,” jelasnya.

Namun, tak ada perubahan, termasuk sesak napasnya. Karena itu, dibawa ke RSUD Salewangang. “Tidak ada juga perubahan. Jadi,  dirujuk ke Wahidin,” ujar Eva.

Lalu, pihak keluarga diminta ke RSUP Wahidin Sudirohusodo untuk penandatanganan permohonan cuci darah lantaran dianggap sudah kompilkasi. “Mungkin gagal ginjal, saya juga kurang paham. Yang jelas diminta tanda tangan untuk cuci darah,” jelasnya kembali.

Eva pun mengungkapkan, keluarganya telah menerima hasil swab test ayahnya, Kamis, 16 April 2020. “Dibawakan dokter. Dinyatakan negatif Covid-19,” sebutnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Maros, dr Syarif, menjelaskan, awalnya pasien memang masuk ke RSUD Salewangang di ruang perawatan biasa.

Tetapi, setelah itu, petugas medis di rumah sakit mulai waspada saat mengetahui pasien tersebut pernah ke wilayah zona merah Covid-19. Makanya, EK dimasukkan dalam daftar PDP. Bahkan setelah meninggal dunia, EK dimakamkan berdasarkan protap pemakaman Covid-19 yang lokasinya sudah ditentukan Pemprov Sulsel di Kabupaten Gowa.

“Informasi bahwa ada riwayat perjalanan ke Bandung baru-baru ini tim peroleh dari pihak rumah sakit,” ungkapnya.

Namun, pihak keluarga pasien lagi-lagi menyebut bahwa kabar soal PDP dan pernah ke zona merah Covid-19 itu keliru. “Pernyataan juru bicara Gugus Tugas Covid-19 itu tidak benar,” tutup Eva. (kar)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.