Suhartina Bohari, Antara Komitmen dan Peluang Mencetak Sejarah

Suhartina Bohari berjalan di tengah hujan pada sebuah sesi kampanye Pilkada Maros 2020, beberapa waktu lalu. (FOTO: IST)

MAROS, MM – Suhartina Bohari mengisahkan awal perjalanannya sebagai kontestan Pilkada Maros 2020.

Ternyata, mantan anggota DPRD Maros itu menyiapkan diri untuk menjadi calon bupati. Makanya dia termasuk figur yang paling dulu “bergerak”.

Read More

Belakangan, konstalasi politik makin terbaca. Putri mendiang Haji Bohari, pengusaha legendaris Maros itu menjadi sosok yang paling tinggi elektabilitasnya, namun sebagai calon wakil bupati.

Beberapa tokoh pun mengajaknya berkomunikasi. Termasuk Andi Harmil Mattotorang. Keduanya bahkan sudah bertemu serius di Sidrap, difasilitasi Ketua DPW Partai Nasdem Sulsel, Rusdi Masse. Selangkah lagi paket Harmil-Suhartina jadi.

Suhartina pun sempat tak berpikir akan berpasangan dengan Chaidir Syam, tandemnya kini, dengan nomor urut 2.

Tetapi mereka akhirnya merekalah yang berpaket. Selain karena sama-sama kader PAN yang memiliki kursi dominan di DPRD Maros, Chaidir-Suhartina ternyata menyepakati komitmen sebelum mantap berpasangan.

Komitmen utama ialah urusan pemerintahan akan dibahas berdua.

“Tak boleh ada pihak lain yang mencampuri urusan bupati dan wakil bupati di pemerintahan, termasuk orang dekat kita. Komitmen tersebut disepakati dan kami pegang teguh,” bebernya pada sesi wawancara dengan sebuah media cetak di Makassar, Senin, 9 November 2020.

Suhartina pun yakin komitmen itu akan terus terjaga. Sebab, dia dan Chaidir sudah lama saling kenal. Pernah 10 tahun sama-sama jadi anggota DPRD Maros dari Fraksi PAN. Sudah saling memahami karakter masing masing.

“Jadi kami saling percaya dan yakin bisa langgeng bekerja sama,” ucap Wasekjen DPP PAN itu.

Di luar kesepakatan dengan Chaidir, Suhartina mengaku terpanggil melihat berbagai persoalan perempuan yang tak pernah sampai di tangan pengambil kebijakan.

“Selama ini, masalah perempuan dan anak hanya sampai di DPRD saja,” kata ketua yayasan sebuah pondok pesantren di Maros itu.

Padahal, lanjutnya, potensi perempuan tidak boleh diabaikan di politik saat ini. Dari segi jumlah, perempuan lebih banyak dari kaum laki-laki.

Dia juga ingin mencetak sejarah. Sebagai perempuan pertama yang jadi pimpinan daerah di Maros. Bahkan majunya dia sebagai kontestan Pilkada Maros 2020 pun sudah sebuah sejarah. Belum pernah ada sebelumnya calon bupati yang menggandeng perempuan sebagai calon wakil bupati. (fik) 

Penulis : | Editor :

Related posts