Hobi Bersepeda, Kepala BPK Perwakilan Sulsel Berhasil Turunkan Berat Badan 20 Kg

MAROS, MM – Padahal target sering bersepeda bukanlah untuk menurunkan berat badan. Namun, malah turun hingga 20 kg.

Awalnya, Kepala BPK Pewakilan Provinsi Sulsel, Wahyu Priyono, memilih bersepeda karena saran tuntutan kesehatan. Tekadnya, ingin mengurangi risiko penyakit jantung dan lainnya.

Read More

“Rekomendasi dokter, rutin berolahraga,” kata Wahyu yang ditemui di Maros, saat bersepeda dengan rute Makassar-Barru, Senin lalu, 1 Juni 2020.

Sebelum bersepeda, ia sebenarnya punya hobi sepak bola, futsal, dan badminton. Hanya saja, menurutnya, itu sudah teralu berisiko di umurnya yang sekarang.

“Sudah tidak pas lagi. Berapa kali cedera parah, sampai tendon putus. Akhirnya saya putuskan untuk bersepada. Tepatnya Oktober 2017,” ungkap mantan Kepala BPK Pewakilan Provinsi NTB.

Persoalan merunkan berat badan, ia tertantang karena salah seorang stafnya pernah bilang “sepeda tiap hari percuma, masih gendut aja”. Berat badan Wahyu kala itu memang 84,5 kg. Hampir 85 kg.

“Jadi saya bilang, kamu lihat yah setelah puasa. Akhirnya saya usahakan bersepeda tiap hari, pagi-sore. Dan setelah lebaran berat badan saya turun 78 kilo. Artinya kan ada hasil,” katanya.

Ia pun terus merutinkan terus bersepda hingga kini. “2019 menjadi 73 kg. Akhirnya 2020 jadi 65 kg. Turun 20 kg,” bebernya.

Bersepeda, lanjutnya, butuh kedisiplinan juga. Minimal tiap pagi. “Saya ambil dari jam 05.30 sampai 07.00. Itu 1,5 jam. Jadi, masih bisa istirahat, mandi, lalu ke kantor,” imbuhnya.

Rute yang kerap ditempuhnya, yakni Jl AP Pettarani-Jl Sultan Alauddin-Jl Veteran-Urip Sumoharjo atau berjarak 12 km.

“Biasanya saya dua putaran. Jadi 24 km dengan rata-rata kecepatan 15 km/jam,” sebut Wahyu.

Kemudian, rute lainnya, ke kawasan Pantai Losari-Tanjung Bunga sejauh 20 km. Kadang ke sekitaran jembatan kembar Gowa yang jaraknya juga berkisar 20 km.

“Kadang ditambah sore, pukul 17.00-18.00. Kalau Sabtu-Minggu sepedanya bareng tetangga atau teman-teman sekantor,” ungkap lelaki asal Purwokerto ini.

Bahkan kerap ke luar daerah di hari libur. Pernah ke Bantimurung, Paddivalley, dan Bili-bili. “Di Hari Lahir Pancasila yang juga hari lahir saya, ke Barru,” tambahnya.

Makin sering bersepeda, makin terasa ringan pula jarak yang ditempuh. Kalau dahulu 5 km, 10 km, dan 15 km terasa berat, sekarang tak lagi.

“20-30 km itu sudah biasa. Bahkan puasa kemarin, ada yang sampai 50 km,” sebut Wahyu.

Bersepeda betul-betul sudah menjadi kebutuhannya. Tahun lalu, dari 365 hari, ia hanya absen bersepeda 12 hari.

“Mungkin itu pas di luar kota. Tahun ini, targetnya tiap hari harus bersepeda,” ujar mantan kepala bagian publikasi dan layanan informasi Sekretariat Jenderal BPK RI ini.

Namun, ia tak asal bersepeda untuk menjaga kesehatan. Selain disiplin berolahraga, disiplin beribadah, bekerja, makan, dan istirahat tak kalah penting.

“Salat on time. Jangan sampai bersepeda mengganggu pekerjaan. Kurangi makan nasi, perbanyak berkuah. Saya kalau lembur, paling lama tidur jam 11.00 malam,” ungkapnya.

Tak hanya di Makassar, ia juga sudah bersepeda di hampir seluruh daerah Sulsel. Jika tugas keluar daerah, Wahyu selalu membawa sepeda.

“Tinggal Sidrap, Wajo, dan Sinjai yang belum. Target sebelum dipromosi, saya target bersepeda di seluruh daerah di Sulsel,” pungkas lelaki berusia 50 tahun ini. (*)

Penulis : | Editor :

Related posts