Nikmat Tak Ternilai Itu Bernama Aman

Hamka Mahmud. (FOTO: IST)

Oleh Hamka Mahmud*

KENAPA kita semua wajib turut serta menjaga rasa aman?

Read More

Sebab keamanan adalah kebutuhan makluk hidup. Terutama manusia, juga hewan, begitu pula tumbuhan. Manusia tak dapat bekerja normal dan ibadah khusyuk jika tak aman.

Hewan tidak dapat berkembang biak jika tak aman. Nabati pun tak dapat tumbuh hijau royo-royo dan dipetik buahnya jika tak aman.

Agar aman lestari di persada bumi, dibuatlah aturan atau regulasi yang bentuknya Undang-Undang, Kepres, Perpu, Permen, Perda, Aturan Adat. Agar mengikat semua yang berakal yaitu manusia untuk disepakati kita semua yang bernurani, kemudian kita semua menaatinya.

Jika taat aturan, maka dapat reward yaitu jiwa diri dan nyawa orang lain selamat. Jika dilanggar, pasti dapat sanksi melalui tubuh kita jadi luka lara dan jiwa kita pun merana.

Saking pentingnya rasa aman, ada seorang gadis usia 21 tahun rela dinikahi duda berumur 60 tahun. Sartika nama si gadis dari Kabupaten Pangkep. “Aman” nama si duda beruntung itu berasal dari kota penulis, Kabupaten Maros.

Tetapi itu canda. Ini yang serius; karena faktor keamanan jiwa pula lalu Menteri Agama Jenderal (Purn) TNI Fachrul Razi mengumkan pada Selasa, 2 Juni 2020. Bahwa ibadah haji tahun 1441 Hijriah ditiadakan karena wabah pandemi Covid-19 masih membahayakan jemaah.

Nikmat rasa aman ini juga yang saat ini telah raib di Amerika. Dua faktornya yaitu wabah, korbannya paling banyak di dunia, dan demo rusuh bernuansa rasisme seluruh negara bagian.

Dipicu seorang pemuda dari etnis negro dituduh berbelanja gunakan uang palsu, lalu diringkus paksa, diborgol, ditindih lehernya di atas aspal dengan lutut selama 7 menit oleh seorang polisi Minneapolise hingga membuat tewas.

Penangkapan George Floyd itu di-live streaming oleh temannya. Publik pun melihat tewasnya ia di tangan polisi berkulit putih Derek Chauvin pada 25 Mei 2020. Gelombang unjuk rasa anarkis menyebar.

Tuntutan mereka adalah agar oknum polisi yang bunuh Floyd dihukum. Namun ternyata hanya dibebastugaskan bersama tiga kawan polisinya. Gelombang unras sudah sampai pada penjarahan toko, pembakaran mobil, dan penutupan jalan. Pembunuh pun digugat cerai oleh istrinya.

Persis rusuh yang pernah terjadi di Kota Makassar pada 1997. Penulis saksi mata saat itu. Bernuansa konflik etnis juga.

Demi mengembalikan rasa aman Presiden Amerika, Donald Trump telah mengeluarkan ancaman jika tak bisa ditangani polisi maka ia akan kerahkan tentara.

Jelas, tak ada pekerjaan yang dapat dikerjakan jika tak aman. Tak ada gadis yang mau dinikahi jika tak merasa aman, tak ada ibadah khusyuk nan syahdu jika tak aman.

Semua bermuara pada rasa aman.
Orang beriman membuat suasana aman, dan melestarikan rasa aman. Menjaga lisan dan tangannya agar tak merusak rasa aman yang ada.

Piagam Madinah dibuat agar ada rasa aman. Umat Islam dan Yahudi bisa sama hidup di Madinah. Aman adalah nikmat yang tak ternilai, ia digandengkan dengan iman. Allah berfirman;

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk. QS. Al-An’am: 82

Aman dan iman seperti dua sisi keping mata uang emas yang saling menguatkan. (*) 

*Dai Kamtibmas

Penulis : | Editor :

Related posts