OPINI  

Perginya Haro, Sang Penjaga Macaca maura

MATAMAROS.COM — Haro, sosok legendaris di Hutan Karaenta, Kappang, Kabupaten Maros, meninggal dunia, Rabu, 15 April 2026. Dia dikenal sebagai penjaga kera endemik Sulawesi, Macaca maura.

Berikut adalah tulisan memorabilia tentang Haro karya Imam Dzulkifli, wartawan MataMaros.com;

Jika menuju Camba atau ke arah utaranya dan tidak tertidur di mobil, Anda akan melihat kawanan kera di Hutan Karaenta. Mungkin juga akan mampir untuk memberi makan karena merasa kasihan.

Kemunculan kera-kera itu seperti jadi hiburan. Meski sebenarnya itu bukan hal baik. Habitat mereka bukan di aspal, melainkan di dalam rimbun pohon. Makanan mereka bukan Cheetoz, Taro, atau jalangkote, namun biji-bijian, daun, hingga serangga.

Kera-kera di sana berspesies Macaca maura, kera endemik Sulawesi yang terancam punah. Jumlah mereka makin berkurang, apalagi setelah mulai menjadikan jalanan sebagai tempat mencari makan.

Andai waktu tidak berjalan, Macaca maura tak akan seperti itu. Sebab mereka punya seorang teman dekat. Haro namanya. Seorang jagawana yang benar-benar menjaga mereka.

Media-media pernah memberi julukan Tarzan dari Maros untuk Haro. Karena hanya dia yang bisa menjinakkan Macaca maura.

Siulannya sungguh ajaib dan manjur.

Saya pernah ikut dengannya memberi camilan pagi untuk Macaca maura. Ternyata hanya butuh tiga kali siulan untuk membuat mereka patuh.

Siulan pertama, dahan-dahan mulai bergerak. Para kera turun dari pohon. Siulan kedua, mereka duduk membentuk lingkaran. Siulan ketiga, saatnya menyantap jagung atau kacang yang dibawa Haro.

Haro tak hanya menjaga Macaca maura, namun juga ekosistem di cagar alam. Dedikasi yang berbuah penghargaan dari Presiden Gus Dur waktu itu. Piala berbentuk kerucut tersebut dipajang di ruang tamu rumahnya.

Entah sudah berapa peneliti mancanegara yang menjadi doktor berkat pendampingan Haro. Sebab tidak akan ada penelitian jika bukan lelaki gagah itu yang mengantar. Macaca maura hanya tunduk padanya.

Namun itu tadi, waktu tak bisa ditahan. Jam berdetak dan Haro makin menua. Dia harus pensiun 24 tahun lalu dan menikmati hari tua bersama cucu.

Haro adalah orang yang paling sedih melihat Macaca maura kini hidup di jalan. Dia bahkan menangis jika ada kera yang mati terinjak mobil.

Makanya meski sudah purnabakti, dia sesekali tetap ke Hutan Karaenta untuk menengok teman-temannya itu.

Hari ini, Rabu, 15 April subuh, Haro mengembuskan napas terakhir di RSAU Dody Sardjoto. Meninggalkan istri, tiga anak, lima cucu, dan puluhan Macaca maura.

Entah bagaimana nasib kera-kera itu di masa depan. Jumlah mereka makin menyusut dan tidak ada lagi sang “pawang” yang menjaga.

Doa terbaik kita berikan kepada almarhum Haro. Semoga kerja kerasnya di dunia berbuah kasih sayang Tuhan di alam sana.

Selamat jalan, Om. Selamat jalan, sang penjaga hutan dan Macaca maura. (*)