OTW New Normal

Imam Dzulkifli. (FOTO: IST)

Oleh Imam Dzulkifli

CATATAN ini mulai diketik tanggal 7 Juni 2020, pukul 20.48 Wita, di depan sebuah lemari. Tetapi ada kemungkinan Anda baru membacanya keesokan hari. Barangkali karena terlambat menerima tautan, sibuk, atau baru sempat mengisi pulsa data.

Read More

Jika iya (juga bagi yang membacanya lebih awal), saya mengucapkan selamat datang di tatanan hidup baru. Saya tidak menyebut new normal karena agak mirip dengan nama sebuah kafe di Grand Mall. Nanti dikira diselipi pesan sponsor. Meski akhirnya saya sebut juga di kalimat kedua alinea ini. Bahkan menjadikannya judul.

Senin, 8 Juni 2020, babak baru dimulai. Sebenarnya tidak benar-benar baru. Kita saja yang selama ini terlalu abai.

Cuci tangan misalnya. Sejak dahulu kakek-nenek kita selalu menyediakan gentong di dekat tangga rumah. Isinya tentu saja air, bukan minyak tanah. Kita diharap sudah dalam keadaan bersih sebelum menginjakkan kaki di anak tangga pertama.

Dari perspektif lain, anjuran membersihkan tangan sesering mungkin pun sangat berfaedah untuk mata rantai ekonomi. Produsen sabun, distributor sabun, agen sabun, warung-warung yang menjual sabun, minimarket yang menjual sabun, bahkan ojol yang kita pesan untuk membelikan sabun.

Sebuah merek elektronik dari Korea meluncurkan Hand Wash. Dengan aplikasi ini, penggunanya tak lagi sekadar sering mengingat mantan, namun juga bakal kepikiran untuk selalu mencuci tangan. Aplikasi ini dilengkapi fitur yang membuat Anda diawasi, sekurang-kurangnya harus menggosok dan membilas selama 25 detik.

Jaga jarak seharusnya juga tidak sulit kita lakukan. Menikmati kopi bersama teman-teman akan tetap nikmat meski kita tak saling bersandar di bahu. Memposisikan diri agak jauh baik pula untuk menghindarkan kita dari hantaman siku.

Batuk dan bersin pun tidak dilarang. Kita hanya perlu menerapkan etika yang semestinya. Khusus bersin, betapa itu salah satu nikmat Tuhan paling asyik. Nikmati saja sendiri, jangan dibagi.

Memakai masker juga bukan lagi hal yang merepotkan. Tiga hingga empat bulan terakhir kita terlatih untuk selalu menutupi mulut dan hidung dengan kain. Prof Idrus Paturusi yang sembuh dari Covid-19 kemudian menyempurnakan dengan anjuran menyelipkan tisu di baliknya, setelah terlebih dahulu ditetesi minyak kayu putih.

Di tatanan baru ini, kita juga sudah diikhlaskan keluar rumah, hanya saja dengan perlindungan diri yang lebih mumpuni. Bermunculan desain grafis petunjuk berangkat kerja di tengah wabah. Ransel harus diisi lebih banyak benda dibanding era sebelumnya. Termasuk tisu basah dan hand sanitizer. Ada juga yang memasukkan sajadah sebagai item yang perlu dibawa sehari-hari.

Kita pun diminta lebih menyayangi diri. Tidur paling telat pukul sepuluh malam, sarapan, perbanyak buah dan sayur, berolahraga, rihat siang, mengatur stres, ibadah yang khusyuk, hingga lauk bergizi. Satu lagi, berjemur di bawah matahari pagi juga jangan dihentikan. Minum susu sering-sering, kalau sanggup beli.

Di tulisan ini, semua syarat new normal (boleh ya saya sebut) tampak cukup mudah. Tetapi bagaimana pun, menuliskan atau menyarankannya tak sesulit mempraktikkannya. Kemarin saya bertemu teman di sebuah warung kopi, jarak antarkursi kurang dari 1 meter, mungkin hanya 45 hingga 56 sentimeter. Sayang saya tak membawa mistar untuk memastikan.

Apapun itu, saya sekali lagi ingin mengucapkan selamat memasuki babak baru kehidupan. Meski kita tidak tahu apakah new normal ini dikampanyekan karena negara tak lagi sanggup mengirimkan kita beras atau memang sudah layak diterapkan berdasarkan hasil riset. Kita juga tidak tahu apakah new normal ini terpaksa disarankan karena takut perekonomian akan macet atau benar-benar sudah bisa dilaksanakan menurut kacamata ilmiah.

Entahlah, yang pasti semuanya tak lagi sama. Ucapkan selamat tinggal pada beberapa hal di masa lalu. Anda yang malas mandi dan memakai sampo juga sudah harus mengganti tabiat.

Tetapi khusus kita di Maros, silakan berkreasi dan menerjemahkan sendiri new normal. Tak banyak penjelasan dari pemerintah daerah. Memang ada beberapa surat edaran namun sebatas informasi bahwa mulai Senin kita sudah bisa ke PTB, Bantimurung, GM, Rammang-rammang, juga warung-warung coto. Dengan syarat disiplin menjaga diri dan orang lain dari droplet dan mudarat.

Kota Makassar sedikit lebih baik. Wali kotanya yang orang Maros itu rutin menggelar konferensi pers di posko gugus tugasnya. New normal disambut dengan banyak penjelasan kepada warganya.

New normal bahkan dibuatkan istilah sendiri. Pemerintahnya mencanangkan gerakan hidup sehat dan produktif, dengan menerapkan interaksi terbatas dan imunitas tinggi berbasis kearifan lokal. Walau belum ada jaminan kata-kata panjang itu benar-benar diterapkan atau hanya bumbu penyedap rasa.

Tetapi setidaknya ada panduan dari kepala daerah. Warganya diajak menuju kebiasaan baru dengan tetap diberi petunjuk arah.

Dan ini yang membuat warga di daerah tetangga bisa lebih tenang. Istilah dan detail new normal versi Makassar itu adalah hasil diskusi dengan para pakar kesehatan. Prof Yusran Yusuf bahkan konon menandatangani nota kesepahaman dengan mereka yang sungguh kompeten. Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI, Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh, Dekan Fakultas Kedokteran UMI, Dekan Fakultas Farmasi Unhas, Dekan Fakultas Universitas Bosowa, Rektor Mega Rezki Makassar, Direktur Stikes Panakukkang, Direktur GIA Makassar.

Dengan Dekan Fakultas Keolahragaan UNM ada kerja sama yang berujung video senam aerobik. Warga kota diharap mengikuti gerakan-gerakan itu setiap pagi sebelum bertebaran mencari rezeki.

Pencanangan program-program tersebut diakhiri dengan minum jus bersama dari tempat masing-masing. Sebuah gestur untuk mengingatkan masyarakat bahwa ada yang lebih bermanfaat ketimbang minuman berkarbonasi.

Ya, pemerintah daerah tetangga sampai sedetail itu mengantar warganya ke era baru. Namun kita di Maros tak boleh berkecil hati. Toh kita tetap ada yang memandu. Kalau bukan Google ya YouTube.

Jika new normal itu sebuah tempat yang akan dituju, kita berangkat sendiri-sendiri saja. OTW-nya masing-masing. Stay safety dan jangan lupa, kemarin ada tujuh tambahan pasien positif. Rekor tertinggi sejak kita di kabupaten ini tahu membedakan mana Covid-19 mana pilek. (*)

Penulis : | Editor :

Related posts