Kisah Dokter dari Maros Sendirian Tangani 190 Pasien Covid-19, Menangis Rindukan Anak

dr Sugih Wibowo (depan). (FOTO: IST)

MAROS, MM – Perjuangan tenaga kesehatan (nakes) sering dipuji sebagai garda terdepan. Sayangnya, giliran bicara insentif, malah dibelakangkan.

Salah seorang nakes asal Maros, dr Sugih Wibowo, sangat kecewa. Ia menganggap nakes sedang diabaikan.

Read More

Sugih ditugaskan di Hotel Harper, salah satu tempat isolasi terpusat pasien Covid-19. Bebannya di sana amat berat. Jumlah nakes bertugas minim, sementara jumlah pasien yang ditangani ratusan.

“Yang membuat saya kecewa itu bukan hanya soal uang harian yang dijanjikan Rp200 ribu per hari. Tapi juga soal penugasan saya di sini. Bayangkan, saya sendirian dokter bersama 3 perawat menangani 190 pasien,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu, 1 Juli 2020.

Sebelumnya, ia memang sempat dijanji insentif Rp200 ribu per hari. Namun, tak juga ditunaikan. Padahal, menurut Sugih, itu pun belum sebanding jika melihat perjuangan nakes.

“Kalau mau dihitung-hitung, jelas tak sebanding. Ini jelas berisiko. Tetapi awalnya memang saya merasa terpanggil sebagai dokter. Jadi memang sayalah yang mengajukan diri untuk ditugaskan,” tuturnya.

Padahal, ia punya keluarga, seorang istri dan bayinya yang baru berusia tiga bulan. Pertemuan mereka pun jadi sangat terbatas sejak Sugih diberi amanah.

“Kalau saya rindu, terkadang saya hanya bisa menangis. Bercampur semua rasa kecewa itu,” ujar mantan kepala Puskesmas Cenrana ini.

Namun, kata dia, petugas medis harus profesional. Mesti tetap tegar. “Padahal, kami ini jujur sudah sangat capek,” ungkapnya.

Meskipun sudah terbiasa dengan tugas 24 jam, Sugih tak habis pikir saja mengapa Dinkes tak memperbantukan dokter lain. Padahal, di hotel tempat isolasi lainnya, dokter bertugas secara bergantian.

“Padahal kan banyak dokter di Maros. Ini seolah saya dikorbankan. Mereka bilang, takut kalau ada klaster baru,” katanya.

Karenanya, ia berharap masa tugasnya di hotel tak diperpanjang lagi. Keluarga yang menjadi pertimbangannya.

“Karena jujur, saya sudah sangat jenuh. Banyak hal dari awal tidak sesuai dengan yang dijanjikan,” ungkap Sugih.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Maros, dr Sitti Maryam Haba, mengaku mendapatkan surat edaran terbaru. Insentif nakes ternyata dianggarkan juga di pusat.

“Menurut pusat kalau ada APBD, tidak ada pusat. Jadi serba salah. Kalau pun APBD, mengikuti perhitungannya pusat,” kata Maryam.

Karenanya, insentif nakes Rp2 miliar yang rencananya dianggarkan dalam APBD dibatalkan. Pemkab Maros memilih mengusulkan insentif nakes ke pusat. Jumlahnya Rp1,4 miliar untuk dua bulan, Maret-April. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts