Menyambut Senja dan Suami Pulang Kerja dari Rumah Milik Sendiri

Indayanti sudah enam bulan menempati rumahnya di Bukit Indah Kapuk. (FOTO: IMAM DZULKIFLI)

MAGRIB hampir tiba, Selasa, 4 Agustus 2020. Indayanti bersiap untuk duduk-duduk santai di pekarangan rumahnya di Bukit Indah Kapuk, Desa Purnakarya, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros. Tugas-tugasnya di dapur sudah selesai. Sakira (5 tahun) dan Safira (7 bulan), dua putrinya, sedang ke blok sebelah, bermain-main di rumah tetangga.

Mengenakan mukena berwarna biru, Indayanti duduk di sebuah kursi plastik. Bila menoleh ke kanan, yang dia lihat adalah sekelompok tetangga yang sedang menikmati camilan di dipan bambu. Jika menghadap ke kiri, dia akan kedatangan dua hal; pancaran matahari terbenam dan wajah suaminya.

Read More

Entah itu petang keberapa wanita 30 tahun tersebut melakukan “ritualnya” dari Blok C-37 Bukit Indah Kapuk. Yang jelas, belum sampai yang ke-200. Sebab, dia dan suami beserta buah hati mereka baru menjelang enam bulan menempati rumah itu.

“Akad kredit 7 Februari 2020. Masuk rumah 18 Februari 2020,” ujarnya. Dia tak melihat catatan apapun sebelum menyebut tanggal-tanggal itu. Dia mengingatnya karena memang menandainya sebagai peristiwa bersejarah. Saya juga menjadi bersemangat mendengarnya.

Indayanti mengaku sangat bersyukur karena akhirnya bisa menunggu suaminya, Wawan Setiawan (34 tahun) pulang kerja di rumah sendiri. Bukan lagi di rumah kontrakan yang dibayar jutaan rupiah per tahun namun tak membuat mereka bisa berstatus pemilik.

“Waktu pindah ke sini, saya bikin acara kecil-kecilan. Sebab terasa istimewa sekali. Selama ini kalau pindah rumah pasti hanya dari kontrakan lama ke kontrakan baru,” kenangnya.

Rumahnya tidak besar. Ada sedikit pekarangan, satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu dapur. Tetapi itu sudah sangat cukup untuk sebuah keluarga kecil yang dihinggapi rasa syukur seperti mereka.

Papan nama rumah yang ditempati Indayanti dan keluarganya. (FOTO: IMAM DZULKIFLI)

Rumah KPR Bersubsidi dengan papan nama berlogo Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu memang terasa luas bagi Indayanti. Apalagi jika mengingat perjuangannya dan suami sampai bisa mendapatkannya.

“Saya jualan jilbab. Pergi beli kain sendiri, jahit sendiri, jual sendiri, dan antar sendiri,” ucapnya.

Keuntungan dari berdagang jilbab itulah ditambah sisa penghasilan suami sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Makassar (setelah terpotong biaya kebutuhan sehari-hari) yang Indayanti kumpulkan. Mereka memasukkannya ke bank dan setelah dirasa cukup memadai, keduanya mulai “berani” mencari informasi di mana pengembang yang menyediakan rumah dengan uang muka rendah.

Seorang rekan suaminya memberi tahu bahwa ada rumah bersubsidi di Bumi Salam Sejahtera (BSS) 1 di Kecamatan Moncongloe, Maros, masih berbatasan dengan Kota Makassar. Panjar dan angsurannya pun cukup masuk akal untuk mereka tempuh.

Tetapi tidak berjodoh, kata Indayanti. Mereka gagal memiliki rumah di upaya perdananya memasukkan berkas.

Dicoba lagi. Kali ini ke Bukit Indah Kapuk di Kecamatan Tanralili, Maros. Wawan dan Indayanti melihatnya di peta, masih masuk kawasan Mamminasata (Makassar, Sungguminasa, Maros, Takalar).

Upaya kedua berjalan sangat mulus. Bank Tabungan Negara (BTN) menyatakan Wawan dan keluarga memenuhi syarat untuk mendapatkan rumah KPR Bersubsidi. Akad kredit digelar 7 Februari dalam suasana haru para peserta, termasuk Indayanti yang hari itu datang dengan Safira yang masih bayi.

Sebelas hari kemudian, rumah pertama yang mereka idamkan akhirnya ditempati. Wawan dan Indayanti memindahkan seluruh perabot dan mimpi-mimpi mereka lainnya ke rumah bercat merah hati dan kuning gading itu, enam tahun setelah menikah.

Wawan memang mesti menempuh perjalanan yang lebih jauh ke tempat kerjanya, dibanding ketika masih tinggal di rumah kontrakan. Tetapi pertambahan sekian menit di atas kendaraan masih lebih baik jika dilakoni dari dan ke rumah sendiri. Bukan lagi rumah sewaan yang harus dibayar juga namun tak bakal pernah dipunyai. Pasangan muda ini berpindah-pindah rumah kontarakan sebelum akhirnya berjodoh dengan Bukit Indah Kapuk, sebuah perumahan di perbukitan, namun berada di tepi jalan nasional.

Suka Suasananya

Bukan perumahan elite yang Indayanti tempati. Tetapi segala yang ada di kompleksnya begitu dia sukai. Model rumah, bahan bangunannya, hingga suasana asri khas pedesaan, walaupun jaraknya dari kota cukup dekat.

Indayanti juga tinggal di perumahan yang jalanannya mulus. Terbuat dari beton. Sebab Bukit Indah Kapuk memang termasuk perumahan yang mendapatkan hibah aset program bantuan Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) dari Kementerian PUPR melalui kepala daerah. Sebab, di dalamnya bermukim masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), orang-orang yang baru saja berhasil meraih rumah pertamanya.

Jalanan beton di Bukit Indah Kapuk. (FOTO: IMAM DZULKIFLI)

Indayanti dan ratusan warga di perumahan tersebut juga beruntung karena PT Sanusi Karsa Tama (Sakatama), sang pengembang, membangun klaster lain di lokasi yang sama. Ada klaster ruko dan vila. Perpaduan ketiga klaster ini diyakini tak lama lagi akan berefek baik bagi perekonomian warga sekitar.

Apalagi, Sakatama sedang membangun juga taman-taman bunga. Spot yang disiapkan untuk menjadi godaan bagi pelancong yang suka berfoto. Ada pula kafe dan kedai dengan konsep terbuka. Orang-orang dari banyak arah akan datang, jalan-jalan, dan belanja di situ.

“Dan, vila-vila itu beserta segala fasilitasnya hanya berjarak seratusan meter dari klaster rumah bersubsidi. Kami juga bisa ikut menikmati keindahannya dan berdoa bisa juga menempati salah satu unitnya di masa depan,” tambah Indayanti.

Saat saya mewawancari Indayanti, tukang-tukang sedang bekerja di calon taman itu. Rerumputan sudah tumbuh dan tertata. Akan disiapkan lajur untuk pejalan kaki. Pejalan kaki diarahkan untuk bergerak mengitari aneka bunga.

Dia makin bersemangat karena mendengar kabar, Sakatama juga sedang merintis destinasi wisata alam baru bernama Bukit Indah Glamping. Lokasinya tepat di sebelah Bukit Indah Kapuk.

Indayanti akhirnya paham mengapa tak berjodoh dengan perumahan sebelumnya. Ternyata Tuhan memilihnya sebagai salah satu penghuni klaster rumah bersubsidi yang punya jarak dan akses dekat ke spot-spot yang Instagramable.

Dia mengenang lagi perjuangannya mengumpulkan uang untuk membayar uang muka perumahan. Tidak sampai menitikkan air mata, namun dia gagal menyembunyikan rasa haru.

            Rumah Bersubsidi

Indayanti hanyalah satu dari ratusan orang yang begitu terbantu dengan adanya program pembelian rumah dengan KPR Bersubsidi. Di Bukit Indah Kapuk itu, sudah ada 300-an unit rumah yang terbangun dengan tingkat hunian di atas 40 persen.

Petang itu, usai menemui Indayanti, saya mewawancarai Abdul Salam, owner Sakatama yang mengembangkan perumahan tersebut. Kami berbincang di dekat vila yang menjadi rumah contoh di klaster tersebut. Di perbukitan yang lebih tinggi lagi. Kami memandangi rumah-rumah bersubsidi yang sudah berdiri kokoh.

“Itu juga yang membuat kami bahagia menyediakan perumahan bersubsidi. Keluarga-keluarga baru atau mereka yang tak punya banyak penghasilan, akhirnya bisa juga memiliki rumah,” ucap Salam.

Abdul Salam, owner Sakatama, pengembang Bukit Indah Kapuk. (FOTO: IMAM DZULKIFLI)

Dia mengaku kadang begitu terharu pada setiap acara akad kredit. Sebab akan ada saja calon user yang menitikkan air mata. Ada juga, lanjut Salam, yang bahkan datang khusus untuk mengucap terima kasih. Sebab telah disediakan rumah yang memungkinkan mereka bayar dengan ringan dan diangsur.

Pria yang baru saja mengikuti wisuda insinyur dan magisternya dalam sehari itu pun mengenang bagaimana Sakatama mulai ikut mengurusi rumah bersubsidi.

Waktu itu, kira-kira pada 2013, ekonomi sedang lesu. Penjualan ruko dan tanah kavling yang digeluti Sakatama terdampak. Tak banyak uang masuk selama berbulan-bulan.

Hingga pada 29 April 2015, Salam menyaksikan tayangan pencanangan program pembangunan sejuta rumah untuk rakyat yang dilakukan Presiden Joko Widodo di Ungaran, Jawa Tengah.

Salam melihat celah pasar dan kemungkinan mengabdi dari program itu. Sakatama pun melebarkan sayap bisnisnya dengan membangun perumahan bersubsidi. Kebetulan ada lahan perusahaan yang kosong di Moncongloe.

Di lahan itulah terbangun Bumi Salam Sejahtera (BSS) 1 dengan 122 unit rumah di dalamnya. Diikuti BSS 2 yang memiliki 446 unit rumah, di sekitar situ juga.

Sakatama dalam relatif waktu singkat mampu membangun banyak rumah. Sebab BSS Land Mandai, beberapa kilometer dari BSS 1 dan BSS 2, juga mampu diwujudkan. Kini sudah ada 800 unit rumah di situ dan Salam yakin bisa membangun hingga 2.500 unit.

Itu masih ditambah dengan Bukit Indah Kapuk. Sudah terbangun 300 unit perumahan bersubsidi (sebagian besar didirikan cukup “nekat” di tengah lesunya pasar karena pandemi Covid-19). Targetnya hingga 1.500 unit.

“Pandemi memang jadi tantangan. Tetapi itu tadi, kami sudah berkomitmen untuk terus ikut membantu MBR. Bahagia melihat mereka begitu bahagia pula setiap menerima kunci rumahnya,” lanjut Salam.

Program Strategis

Laman perumahan.pu.id merilis, program sejuta rumah memang menjadi salah satu program strategis nasional pemerintah. Diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

Program ini bukan berarti pemerintah membagi-bagikan rumah gratis kepada masyarakat. Namun dengan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengembang, perbankan, sektor swasta, muaranya bisa tersedia rumah layak huni dengan harga yang sangat terjangkau dan bisa diangsur.

Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan pun mencatat, bahwa target satu juta rumah bahkan sudah tercapai pada 3 Desember 2018. Saat itu capaian program sudah mencapai 1.076.856 unit rumah. Sebanyak 70 persen untuk MBR dan sisanya bagi non-MBR.

Indayanti di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan adalah salah satu yang terbantu dengan program tersebut. Hari ini dia dan suami serta anak-anaknya tak lagi melakoni kisah hidup dari rumah kontrakan, tetapi sudah di rumah sendiri. Tidak besar, namun layak huni, serta terasa amat lapang bagi mereka yang tak lelah berjuang serta tidak lupa bersyukur.

Indayanti bersama Sakira, putri pertamanya. (FOTO: IMAM DZULKIFLI)

Tak lama setelah saya mewawancarai Indayanti hari itu, Sakira dan Safira, anak-anaknya, pulang ke rumah setelah “jam” bermain di rumah tetangga selesai. Suami yang sedari tadi dinanti pulang kerja juga tiba beberapa saat kemudian.

Matahari perlahan terbenam. Keluarga kecil itu masuk ke istana mereka, melanjutkan malam yang bahagia. Esok pagi hari baru akan hadir, memperbarui semangat mereka untuk terus memperbaiki kualitas hidup. (imam dzulkifli)

Penulis : | Editor :

Related posts