3 Makna Merdeka di Tengah Pandemi Bagi Muzayyin Arif

Wakil Ketua DPRD Sulsel, Muzayyin Arif. (FOTO: IST)

MAROS, MM – Peringatan hari kemerdekaan Indonesia tahun ini cukup berbeda. Pandemi Covid-19 membuat banyak hal menjadi berubah.

Namun bagi Wakil Ketua DPRD Sulsel, Muzayyin Arif, ini momentum bagi generasi muda untuk bangkit, bersatu mewujudkan indonesia yang lebih baik. Sesuai dengan tema Indonesia Maju.

Read More

“Kemerdekaan indonesia diraih karena bersatunya para pejuang, termasuk para ulama yang gigih berani melawan penjajah,” ungkapnya, Selasa, 18 Agustus 2020.

Legislator PKS itu menyebut tantangan perjuangan kali ini yakni mengisi kemerdekaan dengan karya produktif untuk mewujudkan indonesia maju dan sejahtera. Apalagi di tengah pandemi, keterbataan yang dimiliki harus jadi motivasi untuk bangkit.

Ada tiga makna kemerdekaan yang disampaikan koordinator Komisi E tersebut. Pertama, pemerataan kesejahteraan. Ia mengatakan, selama 75 tahun indonesia merdeka, terjadi kesenjangan masyarakat yang besar di depan mata. Penduduk miskin terus bertambah.

“Bahkan data yang kami peroleh di Sulsel, masa pandemi ini membuat 500 ribu orang miskin baru. Bertahun pula terjadi Krisis air bersih di Bontoa, Kabupaten Maros misalnya,” imbuh dia.

“Di 75 Tahun Indonesia, kita berharap krisis air ini bisa berakhir dan kita terus desak pemerintah memperhatikan itu,” ucap putra Maros itu.

Muzayyin juga berharap pemerintah berupaya memeratakan kesejahteraan masyarakat daerah terpencil, utamanya di Sulsel, peduli pada warga terdampak Covid-19, membantu warga Masamba yang terdampak banjir.

Kedua, menciptakan pendidikan yang layak dan berkualitas. Tujuan utama pendidikan di negara ini yakni menciptakan SDM yang unggul. Pemerataan pendidikan harus jadi prioritas. Sekolah-sekolah di Sulsel harus lebih maju.

“Kita tidak boleh lagi mendengar ada sekolah yang tidak belajar karena tak ada guru. Utamanya di daerah terpencil dan kepulauan. Pemerintah juga harus fokus memperbaiki kualitas guru. Kualitas guru yang baik dan membangun semangat belajar para peserta didik,” lanjut Muzayyin.

“Kita berharap di Sulsel lahir generasi yang mampu menyeimbangkan kompetensi dengan karakter, Karakter generasi muda yang terbentuk dari perpaduan moral dan spiritual,” terangnya.

Ketiga, hadirnya pemimpin yang peduli dan melayani. Merdeka dengan adanya pemimpin yang peduli dan melayani, bagi Muzayyin, adalah sebuah keharusan. Apalagi di tengah pandemi yang terasa dampaknya saat ini. Masyarakat memiliki kerinduan pada pemimpin yang mendorong kebersamaan, semangat persatuan, gotong royong.

“Hari kemerdekaan harus jadi ruang introspeksi diri sehingga kita bisa semakin giat bekerja mempersembahkan yang terbaik buat masyarakat dan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (abr)

Penulis : | Editor :

Related posts