MATAMAROS.COM – Destinasi kuliner kenamaan asal Kabupaten Maros, Coto Rampa, menginjak usia 6 tahun hari ini, Selasa 20 Oktober 2026. Sejak buka di Jalan Gladiol, Turikale, Coto Rampa konsisten menjaga cita rasa berbasis kekayaan rempah Nusantara.
Selama enam tahun berkiprah, Coto Rampa tak hanya menjadi tempat favorit warga lokal maupun wisatawan, tetapi juga berhasil membawa harum nama daerah. Kuliner ini bahkan sempat masuk sorotan jaringan Global Geoparks Network sebagai salah satu ikon kuliner dari kawasan Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark.
Nama “Rampa” berakar dari istilah rampa patang pulo (40 macam rempah), yang menggambarkan racikan bumbu tradisional khas Sulawesi Selatan. Berbeda dari coto Makassar yang identik dengan kuah kecokelatan, Coto Rampa menyajikan kuah berwarna kekuningan beraroma segar, hasil kombinasi belasan rempah alami seperti kunyit, serai, lengkuas, pala, kayu manis, hingga jintan.
Keunikan lain adalah pelengkap sajian berupa ketupat yang dibungkus daun pandan. Dipadukan dengan kuah hangat dan irisan daging sapi lokal.
Perjalanan menuju usia ke-6 ini tidak dilalui dengan mudah. Owner Coto Rampa, Imam Dzulkifli, mengenang, di balik perayaan hari ini terdapat satu tahun penuh pembelajaran dari kegagalan masa lalu.
”Coto Rampa seharusnya sudah berusia 7 tahun. Namun satu tahun itu kami simpan sebagai kenangan pahit, sekaligus 12 bulan yang penuh pembelajaran,” ujar Dzul, sapaan akrab Imam Dzulkifli.
Ia menceritakan, usaha coto ini berawal dari ruko di jalan poros dengan modal lumayan. Meski sajian coto kala itu sudah sama seperti sekarang, usaha tersebut berujung bangkrut.
Dari pengalaman itulah mereka menyadari bahwa industri kuliner tak sekadar menyajikan makanan lezat, tetapi juga butuh identitas nama yang kuat, pemasaran, dan keberpihakan algoritma internet.
Poin kebangkitan dimulai pada 2020 di tengah puncak pandemi Covid-19. Dengan semangat memulai kembali dari titik minus, tim menyebarkan spanduk dan poster di titik-titik strategis kota Maros. Dukungan mulai mengalir deras di ruko baru Jalan Gladiol, mulai dari tokoh masyarakat, media, hingga para kreator konten.
”Target kami, semua orang yang pernah datang mencoba karena penasaran, datang lagi lantaran ketupat dan cotonya bikin ketagihan. Beruntunglah orang-orang di dapur bertekad untuk terus menjaga rasa,” tambahnya.
Kerja keras smembuahkan hasil manis. Di ranah digital, Coto Rampa mengantongi rating rata-rata bintang 4.8 di Google (tertinggi di kota Maros), bintang 4.8 di GrabFood, serta 4.6 di GoFood dengan tren yang terus meningkat.
Momen perayaan ke-6 ini diwarnai dengan kegiatan makan bersama serta ajang silaturahmi seluruh tim. Bagi Dzul dan tim, Coto Rampa telah menjadi jalan rezeki yang menghidupi banyak rumah tangga.
”Alhamdulillah bisa tiba di hari ini. Kami bertumbuh, namun tak akan pernah melupakan akar. Karena hanya dengan merawat akar itulah batang keberlanjutan bisa tetap kokoh,” pungkasnya.
Bupati Maros, Chaidir Syam yang juga hadir memberi ucapan selamat berharap Coto Rampa tetap menjadi ikon kuliner Butta Salewangang.
“Di mana-mana orang membicarakan Coto Rampa. Para bupati, wali kota, gubernur, sampai menteri sudah merasakannya. Kita bangga karena ini berasal dari Maros. Selamat telah sukses membangun brand yang kuat dan diingat masyarakat” ucap Chaidir. (fik)







