Masuklah di Rumah Kalian!

Oleh Hamka Mahmud, Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika

KETIKA sebuah komunitas makhluk terancam nyawanya akibat invasi makhluk lain, maka pasti ada yang diberi ilham untuk mengetahui tanda bahaya itu di antara mereka.

Read More

Kemudian memberi komando pada bangsanya. Agar bersembunyi dalam rumah. Peristiwa seperti itu terekam dalam Alquran. Meski ribuan atau jutaan tahun kejadian itu telah terjadi, tetap bisa diambil pelajaran.

“Udhukhulu masakinakum.”Artinya: masuklah ke rumah kalian. Ucap pemimpin semut pada koloninya. Diabadikan percakapan itu dalam surah an-Naml pada ayat 18.

Di dalam buku yang ditulis oleh Dr Zakir Naik berjudul The Miracles of Al-Qur’an dan As-Sunnah, terungkap hasil penelitian pakar ilmu zoologi atau ilmu hewan.

Bahwa hewan yang paling mirip gaya hidupnya dengan manusia adalah semut. Kesamaan itu terungkap di antaranya:

• Semut mengubur rekannya yang mati seperti manusia.

• Dalam hal manajemen tenaga kerja, semut memiliki sistem yang canggih di mana mereka juga punya manajer, supervisor, mandor, pekerja, dan lain-lain.

• Sesekali ketika bertemu, mereka melakukan obrolan.

• Mereka memiliki cara komunikasi khusus antarsemut.

• Mereka punya pasar untuk saling tukar barang.

• Para semut menyimpan biji-bijian untuk waktu yang lama pada musim dingin. Jika mulai tumbuh tunas, mereka akan potong akarnya seolah mereka memahami jika itu dibiarkan akan membusuk. Jika biji-bijian mereka basah karena hujan, maka para koloni semut akan membawanya keluar untuk dijemur dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering, mereka akan membawanya kembali ke dalam sarang, seperti mereka telah paham bahwa kelembaban dapat menyebabkan pembusukan.

Kembali kita bedah, sebab kalimat perintah dari pimpinan semut untuk masuk dalam rumah para rakyatnya. Tidak lain dan tidak bukan karena nyawa terancam.

Pemimpinnya sudah membaca situasi dan kondisi. Bahwa hanya dengan masuk dalam rumah, jiwa mereka dapat selamat dari bahaya.

Yang mana boleh jadi di luar sana, ada ladang mereka, ada tempat ibadah mereka, ada kerabat dari koloni semut lain. Tapi sekali lagi masuk dalam rumah lebih tenang dan dapat selamat dari bahaya.

Dan hal itu dapat dilakukan kembali setelah keadaan aman dan damai: mencari rezki, berkerumun untuk bekerja, berjemaah untuk ibadah.

Ketaatan rakyat semut kepada pemimpin membuat Allah abadikan dialog genting tersebut dalam Alquran. Karena pola hidup semut banyak kesamaan dengan pola hidup manusia.

Tujuannnya apa? Agar kita dapat mengambil pelajaran. Lalu ikuti himbauan, stay at home dari pemerintah. Sebab apalah gunanya berduit, jika tidak sehat. Sementara sehat adalah mahkotanya orang hidup.

Ada hewan membawa ke mana saja pergi rumahnya. Ketika dalam pengembaraannya ada bahaya mengancam. Maka ia masuk dalam rumahnya. Itulah hewan kura-kura.

Di sisi kain ada rumah hewan yang tak dapat melindungi pemiliknya dari ancaman bahaya. Itulah rumah laba-laba.

Menurut penulis, ini mungkin hikmah kenapa Allah gunakan kata “al-buyut” yang berasal dari kata “bayt”. Yang artinya rumah bagi sarang laba-laba.

Terjemahan ayat di bawah ini;

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sungguh rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui. (QS.Al-Ankabut, Ayat 41).

Sementara rumah semut Allah gunakan kata, “masakina” asal kata dari “sakanun”. Artinya juga rumah. Namun dalam arti makna bahasa adalah ketenangan.

Terjemahan ayat terkait;

Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut, masuklah ke dalam rumah kalian, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. (QS. An-Naml, Ayat 18)

Jika ada bahaya mengancam, maka rumah tempat paling aman untuk berlindung. (*)

*Ini adalah Kajian Seri 526 penulis

*Kontak dengan penulis di nomor HP 081285693559

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.