Ecobrick, Upaya Lain Merawat Rammang-rammang

Ecobrick menjadi lantai salah satu tempat bersantai di Rammang-rammang. (FOTO: MUHAMMAD YUSUF/MATAMAROS.COM)

Siapa yang tak takjub saat melihat gugusan batu kapur karst Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Siapapun yang datang kemungkinan bakal melontarkan pujian.

SELAIN bentangan alam, lukisan tangan dan simbol-simbol prasejarah juga menjadi daya tarik. Masih bisa dinikmati hingga saat ini.

Read More

Setiap tahunnya salah satu objek wisata terkenal Maros ini dikunjungi ribuan orang. Baik lokal hingga mancanegara.

Dari jumlah kunjungan wisatawan besar itu, sampah pun mulai tak terkendali. Berceceran, mengganggu pemandangan, terlebih lagi merusak lingkungan.

Di situlah ide ecobrick muncul. Dimulai kira-kira dua tahun lalu. Berawal dari keresahan atas kondisi kampung kelahirannya yang penuh sampah, mulai dari limbah rumah tangga hingga plastik-plastik sisa para wisatawan, Iwan Dento tergerak.

Di sekitar rumah, sepanjang jalan, dan juga di sungai yang membelah Rammang-rammang, sampah hampir saja menjadi pemandangan satu-satunya.

Diskusi kecil yang penuh keresahan pun dimulai. Sebagai aktivis lingkungan Iwan merasa terpukul akan kondisi itu. Pemuda dan warga lain pun sama.

Penjelajahan di dunia maya pun dilakukan, mencari dan melihat bagaimana orang-orang di luar sana mengakali masalah sampah.

Satu hal yang pasti, bagaimana memahamkan orang-orang disekitarnya agar peduli dengan lingkungan. Begitu juga kepada wisatawan yang datang berkunjung.

Pencarian pria berambut gondrong itu berakhir pada cara mengendalikan sampah dengan metode ecobrick. Ecobrick adalah botol plastik yang berisi berbagai macam plastik dengan kepadatan yang ditentukan. Fungsinya sebagai blok yang bisa digunakan kembali, juga dapat dimanfaatkan sebagai furnitur, dinding taman, dan banyak lainnya.

Plastik bekas kemudian dikumpulkan, mulai dari botol, gelas, pembungkus plastik dan banyak lainnya.

Iwan membuat ecobrick dengan cara mengajak anak-anak kecil memungut sampah. Setiap sampah yang dikumpulkan lalu ditukar dengan makanan ringan seperti kerupuk. Tujuannya adalah edukasi sejak dini.

Sampah plastik yang terkumpul lalu dilipat kecil-kecil, rapi, dan dimasukkan ke dalam botol air mineral yang juga adalah sampah.

“Dalam satu botol ukuran 800 mililiter, ada sekitar 500 buah sampah plastik seukuran kemasan mi instan,” kata Iwan, Sabtu, 7 Februari 2021.

Sedikitnya 2.000 botol lebih ecobrick yang telah dibuat Iwan dengan masing-masing 500 buah sampah plastik di dalamnya. Jika tidak salah sekitar satu juta sampah. Bisa dibayangkan.

Sampah-sampah tersebut kemudian dipajang Iwan di kafe miliknya, namanya Rumah Ke-2. Mulai dari penyangga tempat duduk, pot bunga juga lantai, semuanya dibuat dari sampah tadi.

“Ada banyak masukan yang datang. Sepertinya ini yang pas, selain unik juga memiliki pesan bagi setiap orang yang berkunjung,” ucap nominator peraih penghargaan Kalpataru 2020 itu.

Iwan yang wajahnya mungkin sering kita lihat di acara televisi, mengatakan, hal-hal sederhana seperti ini perlu jadi perhatian setiap orang. Bukan hanya untuk menjaga kebersihan tapi juga ekosistem dan kelestarian lingkungan.

“Lingkungan butuh kesadaran diri, bukan lempar melempar tanggung jawab apalagi saling menyalahkan. Kita hanya mau mengajak untuk diri kita masing-masing bahwa seberapa banyak sampah yang kita buang bukan pada tempatnya dan jika itu kita olah dengan baik maka inilah hasilnya. Sangat berguna,” ungkapnya.

Tidak hanya ecobrick, ada banyak bentuk kerajinan yang bisa dihasilkan dari sampah. Misalnya tas, tikar, pas bunga untuk ruangan, dan sebagainya. Selebihnya sampah yang terkumpul kemudian ditimbang dan dijual ke pengepul barang bekas. (muhammad yusuf) 

Penulis : | Editor :

Related posts