Modal BRI Antar Nelayan Taklukkan Selat Makassar, Hidupkan Usaha Kerupuk Rajungan Istri

Perkampungan nelayan di Dusun Kuri Caddi, Maros. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Memulai kiprahnya sejak 16 Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah, oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden, BRI telah 130 tahun maju bersama rakyat. Termasuk rakyat yang hidup di pesisir, yang halaman rumahnya adalah laut.

***

LANGIT tidak cerah, tetapi tidak juga mendung. Bakri, 40 tahun, sedang berada di tengah laut, berjarak beberapa kilometer dari istrinya Rita, yang sedang menunggu di rumah mungil mereka di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Bakri mengendarai katinting (perahu tradisional Bugis-Makassar berukuran kecil). Setiap hari pergi menjaring sumber penghidupan. Pergi pagi pulang siang, lanjut pergi sore pulang malam untuk mencari rajungan, kepiting kecil.

Dia dan istri adalah nasabah BRI. Keduanya juga debitur yang mendapat kucuran modal lewat kredit usaha rakyat (KUR).

Bakri bertugas di Selat Makassar, Rita sang istri di dapur rumah mereka yang hanya 3×3 meter. Panci-panci menggantung di paku beton. Ada dispenser kecil di sudut kanan. Di situlah Rita membuat adonan hingga menggoreng kerupuk rajungannya.

Rajungan adalah salah satu jenis kepiting. Kakinya panjang dan memiliki bintik-bintik putih di sekujur tubuhnya. Rajungan itulah yang Bakri selalu bawa pulang. Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Rita yang 6 tahun lebih muda dari suaminya selalu menyambut dengan senyuman dan baskom. Sebab rajungan itulah yang menjadi bahan baku utama Kerupuk Rajungan Mama Muda, produk UMKM yang kini makin dikenal, apalagi setelah Presiden RI saat itu, Joko Widodo (Jokowi), membawanya ke podium BRI Microfinance Outlook 2024 di Ballroom Menara BRILiaN, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis, 7 Maret 2024.

Hal yang sangat mengagetkan Rita. Dari kediamannya yang terletak di dusun terjauh bagian barat Kabupaten Maros, dia nyaris tak percaya produknya menjadi satu dari dua yang dibawa Presiden ke panggung untuk diperlihatkan kepada para pejabat penting dan disiarkan secara langsung.

Dua pekan sebelumnya, Jokowi memang datang ke Maros untuk bertemu ribuan nasabah Mekaar dari PNM, anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, di Lapangan Pallantikang, Kompleks Kantor Bupati Maros. Rita hanya membawa tiga bungkus kerupuk, sekadar untuk mencari “nama” Masing-masing bungkusan itu untuk tiga varian rasa; original, balado, dan pedas manis.

Jokowi yang berkeliling tertarik untuk mampir dan membeli semuanya (sayang Rita cuma bawa tiga bungkus itu). Gara-gara nama “Mama Muda”, serta (seperti yang dituturkannya kepada wartawan), kemasannya yang dinilai sudah sangat bagus.

Pernyataan yang hampir sama dilontarkan Jokowi di panggung megah dan sejuk acara BRI Microfinance Outlook 2024. Dia memakai kemeja putih dengan balutan jas hitam.

Jokowi memuji nama produk tersebut yang dinilainya cukup kreatif karena ada kata “Mama Muda”. Pujian berbalut kelakar itu disambut tawa seisi ruangan.

“Bagus sekali, cara memberi namanya. Saya seneng betul, bukan saya seneng mama muda, ndak. Saya senang cara memberi nama bagus sekali, Kerupuk Rajungan Mama Muda, ini yang saya lihat di lapangan,” lanjut Jokowi.

Dia menuturkan, kerupuk rajungan ini dulunya hanya diberi plastik biasa. Sekarang sudah pakai kemasan menarik. Ada P-IRT hingga label halal.

“Dijual ke mana-mana sekarang seperti ini. Ini bisa dijual di ritel-ritel modern, Hypermart, di manapun bisa. Meskipun belum semua, packaging seperti ini, mungkin sudah 40 persen,” imbuhnya.

Endorse dari orang nomor 1 di republik ini melejitkan nama Mama Muda. Sejak berita hingga video-video pujian Jokowi viral, Rita mendapat begitu banyak telepon dan chat dari berbagai kalangan.

Bos Hypermart di Jakarta bahkan sampai menginstruksikan jajarannya di Makassar untuk mencari Mama Muda ini di Maros. Kebetulan, Makassar dan Maros masih bertetangga. Maka datanglah perwakilan supermarket itu ke rumah Rita. Hasilnya, pesanan 1.000 bungkus untuk outlet Hypermart di Mal Panakkukang, Makassar, langsung ditandatangani.

“Saya kaget sekali. Baru kali ini ada pesanan sebanyak itu. Semua berkat endorse Pak Presiden di acara BRI itu,” kenang Rita kepada saya yang mengunjunginya Kamis pagi, 21 November 2024. Kunjungan yang membutuhkan perjuangan ekstra sebab jalan belum diaspal atau dibeton. Masih berupa tanah merah, sebagian ditutupi batu kali, sebagian lagi begitu becek. Saya memarkir mobil cukup jauh dan perlu lanjut dengan jalan kaki selama 9 menit dan 47 detik untuk bertemu sang pemilik Mama Muda.

Sekali lagi, kampung Rita adalah dusun terjauh di kabupaten ini. Pekarangan depan rumah para warga adalah laut, bukan taman penuh bunga.

Pesanan dalam jumlah ratusan juga diterima Rita dari salah satu cabang Ramayana di Jakarta. Rajungan hasil tangkapan suaminya tak lagi cukup untuk jadi bahan baku. Rita harus membeli sangat banyak rajungan dari pengumpul, demi “durian runtuh” yang menimpa usaha kecilnya.

Dari Kuri Caddi yang terpencil itu, Mama Muda kini ada di rak-rak supermarket, toko-toko ritel kenamaan.

Rita mengunjungi toko ritel di Makassar yang kini menjual Kerupuk Rajungan Mama Muda. (FOTO: IST)

Pesan WhatsApp Rita juga makin sering menerima orderan kecil-kecilan dari berbagai daerah. Seringkali dia mengantarkan langsung pesanan, dibonceng Bakri, suami tercinta.

Dia paling ingat ketika mendapat orderan 50 bungkus dari seseorang di Pallangga, Kabupaten Gowa. Jaraknya kira-kira 40 kilometer. Namun apes, mereka melanggar lalu lintas. Karena baru pertama kali ke kota, mereka mengira jalan tol bisa dilalui sepeda motor. Saat melintas, mereka ditahan polisi. Keuntungan yang sudah di depan mata sirna karena harus membayar denda tilang.

“Kadang saya juga antar sendiri, melewati jalan becek di pematang empang. Sering saya nyaris jatuh gara-gara licin,” ucap Rita. Kami mengobrol di teras rumahnya. Di situ tergeletak beberapa rakkang atau perangkap kepiting milik suaminya. Saya disuguhi kerupuk rajungan dan teh daun mangrove yang dibuat Cora (49 tahun), ibu kandungnya. Kerupuk yang renyah dan teh serta sambutan yang hangat dari tuan rumah.

Modal Kecil

Rita sudah punya bakat jualan sejak kecil. Usianya baru 10 tahun saat dia mulai jualan kue keliling dusun. Dia menjajakannya dari rumah ke rumah. Beranjak remaja, dia menjual nasi kuning dan songkolo (penganan khas Sulsel, terbuat dari beras ketan).

Umur 17 tahun, Bakri mempersuntingnya. Kehidupan baru dimulai. Kebutuhan semakin banyak, apalagi setelah Sahrul dan Misnawati, anak-anak mereka lahir. Sahrul kini kelas 1 SMP, Misnawati kelas 2 SD.

Kebetulan saat itu sebuah yayasan nirlaba sedang punya program di Kuri Caddi. Mulai dari pembersihan hutan mangrove hingga membina istri-istri nelayan yang kadang hanya melamun di rumah menunggu suami pulang melaut.

Rita ikut pelatihan membuat kerupuk. Awalnya cuma kerupuk mentah, terbuat dari cangkang dan daging rajungan. Namun dia merasa harus membuat sesuatu yang berbeda. Terpikirlah membuat kerupuk siap makan.

Nama “Mama Muda” langsung terlintas karena yang membuat camilan itu rata-rata ibu berusia belasan dan 20-an tahun. Mulailah Rita dengan bantuan modal Rp3 juta dari PNM, membuka usahanya. Namun belum langsung kemasan yang bagus seperti sekarang, melainkan hanya plastik bening yang ditempeli stiker. Dari PNM, Rita mendapat kepercayaan dari BRI.

Pada 2022, Universitas Negeri Makassar (UNM) mengirim mahasiswanya untuk membina warga Kuri Caddi. Rita berkenalan dengan seorang dosen bernama Sri Bulan. Nama yang masih diingatnya betul hingga kini karena orang itulah yang mengikutkannya program bantuan. Mulai dari cara mendesain kemasan, dilanjut bantuan blender, mesin press, hingga spanduk dan banner.

Setahun kemudian, Rita mulai mendapat kredit usaha rakyat (KUR) dari BRI. Dia sekaligus ikut BRI UMi, program BRI untuk masyarakat ultra mikro, khususnya nasabah eksisting PNM dan Pegadaian.

“Awalnya saya dapat pembiayaan Rp30 juta dari BRI. Itulah yang terus saya putar,” ucap perempuan yang hanya tamat sekolah dasar itu. “Kami dulu tidak sanggup sekolahkan dia tinggi-tinggi karena tidak punya biaya,” timpal Cora, sang ibu yang juga terus menemani kami mengobrol. Saya masuk ke ruang tamu dan melihat berbagai piagam dan sertifikat atas nama Rita terpajang. Pendidikannya terbatas, namun prestasinya tidak.

Rita pun menjadi debitur kepercayaan BRI. Setiap kali pelunasan, dia selalu mendapat tambahan modal baru. Dia bahkan jadi agen BRILink di kampungnya. Saat kami berbincang-bincang itu, seorang ibu rumah tangga masuk untuk menarik uang. Notifikasi di ponsel Rita langsung berbunyi, hanya beberapa detik setelah transaksi. Notifikasi itu berbunyi “BriMo…”, menandakan transaksi telah berhasil dilakukan.

Rita punya harapan ke BRI. Dia mengimpikan limit pinjamannya bisa terus bertambah sebab impiannya juga tinggi. Rita ingin Mama Muda semakin dikenal, semakin laris, dan bisa diekspor.

“Terus, kalau bisa saya diundang juga ke acara-acara BRI. Biar bisa ikut pamerkan produk ini. Kalau bisa lagi, saya diajak ke Jakarta. Saya baru satu kali ke sana, naik pesawat, tegangnya bukan main,” ucapnya, tertawa.

Pantang Mundur

Rita bersungguh-sungguh dengan Mama Muda-nya. Dia sudah dihadapkan dengan berbagai rintangan namun bisa terlewati. Selain fokus memproduksi kerupuk rajungan, dia juga rajin ikut pelatihan dan pameran. Dia tidak pelit memberi tester. Jika orangnya suka dan beli, syukur. Kalaupun tidak, dia tak sedih.

Rita di dapur produksi kerupuk rajungan sekaligus dapur rumah tangganya. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Dia pernah membawa produknya untuk sebuah acara di Makassar yang dihadiri Sandiaga Uno. Sayangnya, di perjalanan, sepeda motornya menyerempet kendaraan orang. Dia dan suaminya dituntut ganti rugi namun memelas dimaafkan karena tak punya uang lebih.

“Alhamdulillah bapak itu kemudian bisa terima. Saya kasih kerupuk dua bungkus sebagai permintaan maaf,” tuturnya.

Kadang kalau ada acara keluarga semisal pernikahan, dia bawa juga kerupuknya biar semakin banyak orang yang mencoba.

Jalan yang becek dan jarak jauh ke kota tak menyurutkan tekadnya. Sinyal seluler yang terbatas di dusun paling ujung dan berbatasan laut tidak menghalanginya untuk aktif di media sosial.

Usahanya masih kecil, namun impian besar selalu dirawatnya baik-baik. Dia mengaku tak putus berdoa. Dukungan keluarga dan pembiayaan dari BRI serta PNM juga makin menguatkannya.

Dia telah membuktikannya. Dari doa dan usaha, produknya dilirik presiden, bahkan dibawa khusus ke acara besar di Jakarta. Mama Muda makin aduhai. Namun, jujur kata Rita, pesanan lain di luar Hypermart dan Ramayana itu belumlah besar. Kadang ada yang pesan hanya dua bungkus, tiga bungkus, pokoknya tidak banyak.

Namun dia yakin, suatu saat nanti akan kebanjiran orderan lagi. Rita juga berharap suatu saat bisa punya toko sendiri di lokasi yang lebih strategis, di tengah-tengah keramaian.

Perempuan kampung nelayan itu tak putus berikhtiar dan bertawakal. Apalagi ada lembaga keuangan yang setia mendampingi dan membina.

Pembiayaan UMKM

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan konsistensinya dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), BRI menunjukkan komitmen nyata dalam mewujudkan Asta Cita, khususnya pada pilar peningkatan lapangan kerja yang berkualitas serta mendorong kewirausahaan.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi menegaskan bahwa BRI senantiasa berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah, termasuk penyaluran KUR sebagai bagian dari implementasi Asta Cita untuk memperkuat UMKM, khususnya pada sektor produktif seperti pertanian, perdagangan, dan perikanan.

Upaya ini sekaligus mendorong penguatan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah. “BRI terus mendorong pertumbuhan sektor UMKM agar tetap sehat dan berkelanjutan sebagai tulang punggung perekonomian nasional. BRI juga memastikan program KUR berjalan optimal dengan sisa kuota sebesar Rp29,8 triliun yang siap disalurkan hingga akhir tahun 2025 untuk mendukung pertumbuhan dan pemberdayaan pengusaha UMKM di seluruh Indonesia,” ujar Hery dalam keterangan resmi, Jumat, 21 November 2025.

Tercatat, hingga akhir Oktober 2025, BRI berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp147,2 triliun kepada 3,2 juta debitur. Realisasi tersebut setara dengan 83,2% dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp177 triliun, di mana angka ini meningkat dari alokasi awal sebesar Rp175 triliun seiring tingginya permintaan pembiayaan produktif dari pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia. Untuk diketahui, kuota KUR BRI tahun 2025 tersebut terdiri atas Rp160 triliun untuk KUR Mikro (pinjaman di bawah Rp100 juta) dan Rp17 triliun untuk KUR Kecil (pinjaman Rp100 juta hingga Rp500 juta).

Sebagai bank penyalur KUR terbesar di Indonesia, BRI memastikan pemberian KUR dilakukan secara prudent, transparan dan akuntabel, sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini dikarenakan KUR merupakan kredit yang 100% bersumber dari dana bank, atau menggunakan dana perbankan yang berasal dari penghimpunan dana masyarakat, sehingga kualitas kreditnya harus terjaga dengan baik.

Seriusi Sulawesi

Di wilayah Sulawesi, tempat Bakri dan Rita tinggal, urusan KUR ditangani PT BRI Regional Office (RO) Makassar. Sebaran KUR mencapai Rp855 miliar khusus di Provinsi Sulawesi Selatan hingga akhir Februari 2025.

Regional Mikro Banking Head RO Makassar Iwan Supriyanto menyebut RO Makassar yang mencakup empat provinsi yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Maluku telah menyalurkan sebanyak Rp1,7 triliun selama dua bulan, Januari dan Februari 2025.

“Penyaluran KUR ini melampaui target proporsional bulanan kami yang telah mencapai 201 persen, sementara khusus Sulsel telah mencapai 185 persen untuk bulan berjalan,” ujarnya di Makassar, Sabtu.

Transaksi di Kerupuk Rajungan Mama Muda sudah bisa menggunakan QRIS. Rita juga kini menjadi agen BRILink. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Kendati demikian, penyaluran KUR BRI RO Makassar pada periode Januari dan Februari 2025 terbilang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,741 triliun, sementara tahun ini dengan periode yang sama hanya Rp1,716 triliun.

“Dari segi nilai mungkin tahun ini menurun dibanding tahun ssbelumnya, tetapi jumlah debitur yang kita jangkau tahun ini lebih besar yakni 39.835 debitur, sementara tahun 2024 hanya 36.608 debitur,” urainya.

Tahun 2025 ini, ditargetkan penyaluran KUR oleh BRI RO Makassar sebesar Rp15,6 triliun, sementara khusus di Sulawesi Selatan ditargetkan Rp10,2 triliun.

Menurut Iwan, tingginya antusias masyarakat mengakses dana KUR tidak lepas dari komitmen BRI untuk selalu hadir dalam mendukung perekonomian masyarakat di tingkat ultra mikro hingga super mikro.

Demikian pula dengan hadirnya kebijakan swasembada pangan yang kini menjadi prioritas utama di era Pemerintahan Presiden Prabowo. Sementara Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai lumbun pangan merupakan salah satu penyumbang ketahanan pertanian dan perdagangan.

“Tentu BRI akan hadir untuk mendukung program pemerintah dengan memberikan kredit, termasuk KUR itu terhadap sektor-sektor ekonomi produktif dan unggulan. Termasuk menangkap peluang dari program ini,” tambah Iwan.

Penyaluran KUR di BRI tercatat sebanyak 59,1 persen disiapkan untuk KUR Pertanian di 2025 ini, yang meliputi modal pertanian, nelayan dan sektor perkebunan.

Pada tahun lalu, penyaluran KUR BRI RO Makassar ditargetkan sebanyak Rp17 triliun dan khusus Sulawesi Selatan ditarget Rp11,5 triliun.

“Tapi serapannya justru lebih besar dari itu. Jadi tahun lalu itu, kami bisa berhasil membukukan penyaluran KUR Rp18,1 triliun, sedangkan khusus Sulawesi Selatan telah disalurkan dana KUR sebanyak Rp13,2 triliun,” ungkap Iwan.

Bakri dan Rita di pesisir Makassar, di dekat Selat Makassar termasuk yang merasakan manfaat KUR. Usaha perlahan mulai maju. Sebagai rakyat, mereka bisa mandiri mengusahakan penghidupan yang layak. (imam dzulkifli)