Menjaga Denyut Hilirisasi Hijau; Dari Sungai Larona Menuju Rantai Pasok Masa Depan

Jurnalis menuruni tangga di bendungan yang mengairi PLTA Balambano, satu dari tiga PLTA yang dimiliki PT Vale Indonesia Tbk. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS/SC)

Di tengah sejuknya udara Luwu Timur dan jernihnya Danau Matano yang mengalirkan kehidupan ke Sungai Larona, deru tungku raksasa PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako menjadi bukti nyata: Indonesia bukan lagi sekadar pengeruk tanah air.

***

PERJALANAN ke jantung bumi Celebes kali ini memperlihatkan bagaimana komitmen hilirisasi bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan sebuah realita, tempat bijih mentah ditransformasikan menjadi komoditas bernilai tinggi.

Nikel yang dikeruk dari sekitaran Pegunungan Verbeek, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, tidak lagi dikirim mentah dan berharga murah. Produk yang diekspor sudah dalam bentuk nikel matte dengan kadar di atas 70 persen.

Hari itu, saya mengenakan pakaian safety lengkap, dengan rompi oranye, helm putih, dan sepatu boot mengelilingi smelter PT Vale. Saya dan beberapa rekan sangat beruntung bisa diajak melintasi jembatan dan melihat langsung bagaimana komoditas dari perut bumi, “dimasak” dengan api membara untuk membuatnya memiliki nilai tambah.

Kami berjalan pelan dan dibuat takjub, sekaligus menguji komitmen hilirisasi yang digaungkan. Sekadar mengekspor bijih nikel mentah (raw ore) kini telah menjadi bagian dari masa lalu. Indonesia, melalui PT Vale, telah melangkah jauh menuju era transformasi industri, di mana komoditas tambang wajib diolah di dalam negeri untuk mengekstrak nilai tambah yang jauh lebih tinggi.

Di fasilitas smelter PT Vale, proses itu berjalan presisi melalui pendekatan pirometalurgi. Bijih nikel jenis saprolit yang ditambang dari lahan operasional diolah sedemikian rupa. Diawali dengan proses pencampuran (blending) untuk memastikan konsistensi kadar mineral.

Perjalanan perubahan wujud batuan mentah ini kemudian melewati tahap demi tahap penempaan. Mulai dari pengeringan dan kalsinasi, bijih basah dikeringkan untuk membuang kadar air bebas, kemudian dikalsinasi pada suhu 700°C–900°C untuk menghilangkan air terikat serta memicu reduksi awal.

Hasil kalsinasi bersuhu tinggi dituangkan ke dalam tanur listrik dan dilelehkan pada suhu ekstrem hingga 1.600°C. Proses ini memisahkan limbah batuan (slag) dari lelehan nikel kasar (furnace matte). Setelah itu, lelehan nikel ditiupkan oksigen untuk memisahkan kandungan besi yang tersisa.

Logam cair bersuhu tinggi disemprot air bertekanan tinggi hingga membeku menjadi butiran pasir gelap berukuran 1–4 mm. Hasil akhirnya adalah nikel matte, produk setengah jadi berdaya saing tinggi dengan kadar nikel mencapai 75–78 persen. Pasir-pasir nikel matte inilah yang kelak diproses lebih lanjut di pabrik pemurnian akhir (refinery) menjadi nikel murni hingga bahan baku untuk kendaraan listrik di seluruh dunia.

Melangkah keluar dari smelter saat petang sudah semakin dekat, saya naik ke sebuah bus yang mengantar kami ke hamparan tanah kosong. Menyaksikan limbah batuan atau slag dikumpulkan. Diangkut oleh truk-truk berwarna kuning. Bara api masih terlihat jelas dari balik kaca. Saya melihat dari jendela betapa panasnya slag itu, bagian yang sudah dipisahkan dari kadar nikel. Sementara itu, para pekerja di pabrik sedang memasukkan nikel matte ke dalam karung-karung, untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara, menghasilkan devisa dengan nilai fantastis untuk kemaslahatan negeri ini.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa hilirisasi nikel merupakan strategi utama jangka panjang perusahaan yang sudah menjadi bagian dari model bisnis mereka sejak awal beroperasi.

Bernardus menekankan bahwa jauh sebelum pemerintah memberlakukan larangan ekspor bijih mentah dan hilirisasi menjadi slogan nasional, PT Vale (dahulu PT Inco) sudah memproses nikel di dalam negeri. Sejak lebih dari setengah abad lalu di Sorowako, komitmen perusahaan adalah tidak menjual bijih nikel mentah (raw ore), melainkan langsung mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi berupa nikel matte. Produk ini kemudian diekspor ke pasar dunia untuk rantai pasok industri lanjutan.

Kini, perusahaan makin kuat sebab tidak hanya bergantung pada Sorowako. Hilirisasi nikel juga sedang berjalan pada proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan di Bahodopi-Morowali, Sulawesi Tengah. Bernardus optimistis prospek nikel jangka panjang tetap sangat menjanjikan. Kebutuhan volume nikel ke depan tidak lagi terbatas untuk baterai kendaraan listrik (EV) tradisional, namun sudah meluas ke sektor teknologi masa depan seperti pusat data (data center), kecerdasan buatan (AI), robotik, hingga kendaraan terbang listrik (eVTOL).

“Jadi pilar pendapatan PT Vale sekarang tidak lagi hanya bergantung pada Sorowako. Kita mengarahkan ekspansi untuk mengembangkan produk bernilai tambah, khususnya MHP (Mixed Hydroxide Precipitate), sekaligus memperluas rantai pengolahan di luar produksi nikel matte,” ungkapnya.

Komitmen di Atas Aliran Air

Namun, hilirisasi industri berat kerap menyisakan ketakutan akan kerusakan ekologi. Menjawab tantangan tersebut, Bernardus memiliki prinsip yang tegas. “Nikel tanpa ESG (Environmental, Social, and Governance) bukanlah nikel masa depan,” ucapnya.

Makanya, PT Vale memegang teguh prinsip ESG itu. Bernardus menekankan bahwa ekspansi hilirisasi PT Vale harus berjalan beriringan dengan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan (green mining).

Sebagai contoh, fasilitas smelter nikel di Sorowako telah memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA) milik sendiri, yang mampu memangkas emisi karbon hingga 55 persen dibandingkan smelter berbasis batu bara.

Keesokan harinya, bus kembali mengantar kami untuk melihat bagaimana ekosistem PT Vale bekerja. Kali ini mengunjungi PLTA Balambano, satu dari tiga PLTA yang dipunyai perusahaan tersebut untuk menyalakan operasional produksi.

Irwan Nukuhaly, Supervisor Hydro Operation PT Vale, menyambut kami dengan ramah. Diawali dengan melihat angka-angka di layar komputer kantor, dilanjut kunjungan langsung ke bendungan. Air sangat deras mengalir turun, bersumber dari Sungai Larona, yang merupakan muara dari tiga danau yang mengelilingi Luwu Timur; Danau Matano, Danau Towuti, dan Danau Mahalona.

Pembuatan tiga PLTA; masing-masing PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe adalah upaya PT Vale untuk mendukung race to zero itu. Dengan teknologi kelistrikan seperti itu, perusahaan dapat mengurangi lebih dari 1 juta ton CO2eq per tahun.

“Sumber tenaganya dari tiga danau yang berada di Luwu Timur. Mengalirkan air melalui Sungai Larona menuju turbin. Ketiganya mampu menghasilkan daya 365 megawatt,” tutur Irwan.

Di tengah desakan global terhadap isu perubahan iklim, industri manufaktur dan pertambangan dunia memang berhadapan dengan standar baru ESG. Produsen kendaraan listrik tak lagi sekadar bertanya dari mana nikel mereka berasal, tetapi juga seberapa besar jejak karbon yang ditinggalkan selama proses pengolahannya.

Di sinilah keunggulan strategis Sorowako bertumpu. Kebutuhan daya raksasa untuk mengoperasikan tanur listrik peleburan nikel tidak disuplai dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara, melainkan memanfaatkan energi bersih terbarukan dari Sungai Larona melalui tiga PLTA tersebut. Ada PLTA Larona, pembangkit perdana yang beroperasi sejak 1979 dan berkekuatan 165 MW. Kemudian PLTA Balambano yang beroperasi sejak 1999 untuk menopang ekspansi produksi pabrik peleburan karena mampu menghasilkan 110 MW. Berikutnya Adalah PLTA Karebbe yang dipacu sejak 2010 dengan teknologi roller-compacted concrete (RCC) guna memanfaatkan sisa daya terjun air secara maksimal dan menghasilkan 90 MW.

Dengan total kapasitas mencapai lebih dari 360 MW, ketiga PLTA ini menjadi tulang punggung yang menekan intensitas emisi karbon per ton nikel hingga ke titik terendah di kelas industri nikel dunia. Hilirisasi di Sorowako bukan hanya tentang penciptaan nilai tambah ekonomi, melainkan penciptaan nilai tambah yang hijau (green value added).

Di sisi lain, ketiga PLTA juga berfungsi sebagai bangunan pengendali banjir melalui sistem kontrol di pintu-pintu air tersebut.

Mengembalikan Hutan

Nikel memang dibutuhkan. Mulai dari pemanfaatan untuk peralatan medis hingga baterai kendaraan listrik. Namun tanah bekas pengerukan tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Itulah komitmen yang dijaga PT Vale Indonesia Tbk hingga melakukan sebuah inovasi tak terduga.

Saya melihatnya lagi-lagi dengan mata sendiri. Bus listrik yang kami tumpangi melaju pelan di jalan yang kanan dan kirinya adalah pepohonan. Terus mendaki, berkelok, hingga akhirnya tiba di Solia Hill setelah menempuh perjalanan beberapa menit dari pabrik pengolahan nikel PT Vale.

Solia Hill bukan semacam Beverly Hills di California, namun lahan bekas tambang di Sorowako, Luwu Timur, yang perlahan menjadi hutan baru. Semilir angin menerpa wajah dan hati kami selama di Solia. Sejauh mata memandang adalah areal hijau. Orang-orang yang mengenakan rompi oranye tampak menanam bibit-bibit pohon.

Ini adalah tahun kelima sejak Solia dinyatakan mining out, artinya sudah tidak ditambang lagi. Tugas selanjutnya adalah bukan pergi begitu saja, namun mengembalikan habitat alam, termasuk tanaman dan hewan-hewan.

Dari puncak Solia, kita bisa merenungi hubungan antara manusia, lingkungan, dan makhluk hidup. Semuanya ternyata terikat dalam satu ekosistem besar.

Begitulah cara PT Vale dalam mewujudkan dekarbonisasi. Uniknya, tanah yang dipakai adalah tanah yang sama saat lahan itu dahulu dibuka sebagai area tambang. Tanah penutup dikeruk lalu disimpan. Pohon-pohon diambil bibitnya untuk ditanam kembali nanti. Hewan-hewan endemik dipelihara untuk dipulangkan lagi saat waktunya tiba.

Saat ini ada 11 hill yang aktif dalam wilayah konsesi PT Vale. Termasuk Solia yang eksotis itu. Terletak di puncak bukit yang permai.

Senior Manager Short & Medium Term Mine Plan PT Vale, Muhammad Firdaus Muttaqi yang kami temui menjelaskan, proses reklamasi berjalan kencang, sekencang putaran mesin pengolahan nikel yang perusahaan punya.

“Dalam setiap hektare, kami menanam 714 pohon,” ucap Firdaus.

Pohon-pohon itu kini mulai memperlihatkan batang yang semakin besar. Setiap hari diawasi dan disirami. Dalam hitungan tahun, Solia akan betul-betul menjadi hutan kembali. Hampir sama persis ketika lokasi itu hendak dieksplorasi.

Rahasia sukses reklamasi tak lepas dari ramuan tanah penutup itu. Sebab hasil penelitian menunjukkan, tanah permukaan itu memang sangat dibutuhkan oleh pepohonan. Makanya, sebelum ditambang, harus dikeruk terlebih dahulu. Tanah dikumpulkan di suatu tempat, hingga tiba waktunya mengembalikannya lagi ke lokasi semula.

Mau contohnya? Tidak perlu jauh-jauh. Cukup naik mobil sekitar 3 menit, Anda akan tiba di Hutan Himalaya. Sebuah hutan yang rindang dengan 40 jenis pohon. Luasnya mencapai 50 hektare. Hutan Himalaya yang terletak di area konsesi PT Vale, sebelumnya juga adalah lahan tambang. Tentu saja pernah gundul setelah kandungan nikelnya dikeruk.

Rimbun pohon Hutan Himalaya di Sorowako. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS/SC)

Tetapi kini area itu sudah hijau kembali. Bahkan menjadi hutan buatan yang lebat. Terhitung sudah 20 tahun sejak pohon pertama ditanam oleh Menteri ESDM (kala itu), Purnomo Yusgiantoro pada 2006.

Himalaya ini juga menggunakan teknik tanah penutup itu. Hal yang tampak sepele namun ternyata begitu berpengaruh terhadap rindangnya hutan yang dibuat kembali.

Saya telah dua kali menjejakkan kaki di tanah Himalaya. Melihat eboni, jambu-jambu, beringin, dan pohon lainnya sudah berbatang besar. Udara sejuk. Kadang-kadang terlihat rusa atau monyet Macaca yang kembali mendapatkan habitat.

Hutan Himalaya hanyalah satu dari banyak area reklamasi lahan bekas tambang yang dilakukan PT Vale. Seperti layaknya Solia Hill, bukit yang sudah berstatus mining out, artinya sudah tidak ada penambangan dan sekarang sedang ditanam berbagai bibit pohon.

Supervisor Reklamasi PT Vale, Erlin Harry menuturkan, semua pohon yang ditanam dihasilkan di nursery yang juga dikembangkan perusahaan tempatnya bekerja.

Nursery itu juga telah saya datangi. Sebuah tempat persemaian bibit dengan luas mencapai 2,5 hektare. Menjadi bagian dari Taman Kehati atau Taman Keanekaragaman Hayati yang memiliki luas total 75 hektare namun baru dimanfaatkan 15 hektare.

“Bibit yang dipelihara di sini awalnya juga dari kawasan yang hendak ditambang. Sebelum penambangan dimulai, tanaman dipindahkan dan dibuat menjadi bibit. Nanti dikembalikan lagi untuk penghijauan. Tanahnya pun tanah yang sama dengan awal sebelum ditambang,” tutur Harun Tandionga, Team Leader Nursery PT Vale.

Nursery atau pusat pembibitan modern PT Vale rata-rata memproduksi 700.000 bibit setiap tahun. Itulah yang kemudian dibawa lagi ke lahan yang sudah ditambang.

Perusahaan sadar pertambangan yang baik adalah eksplorasi yang berkelanjutan. Tidak ada lahan yang ditinggalkan setelah direguk manisnya. Semuanya diperlakukan sebagaimana seharusnya. Diolah dan dibentuk menjadi lereng lagi, ditanami kembali, menjadi lebat oleh pepohonan lagi.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni juga telah merasakan semilir angin di Solia hingga Himalaya. Dia melihat langsung praktik industri yang berkelanjutan PT Vale. Apalagi, perseroan menegaskan diri sebagai pelopor dalam transformasi industri pertambangan nasional menuju model yang lebih hijau, transparan, dan berkeadilan.

Saat berada di arboretum Himalaya yang merupakan salah satu lokasi konservasi beberapa spesies tanaman lokal dan endemik serta fasilitas nursery modern di Taman Keanekaragaman Hayati Sawerigading Wallacea, Raja Juli melihat sendiri keseriusan itu.

Dia pun menyampaikan apresiasinya atas pendekatan PT Vale dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi, konservasi lingkungan, dan kesejahteraan sosial. “Pembangunan tidak boleh berhenti. Namun hutan juga tak boleh punah. Kita harus menyeimbangkan keduanya. PT Vale menunjukkan bahwa industri dapat bergerak maju tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem,” ucapnya.

Raja Juli pun memuji keberhasilan restorasi Hutan Himalaya serta kehadiran Taman Kehati sebagai bentuk nyata dari reklamasi yang berdampak.

“Sebagai salah satu perusahaan pertambangan yang melakukan pertambangan secara berkelanjutan, saya ingin membuktikan dan hal ini langsung saya saksikan bagaimana proses pertambangan mereka yang memang sangat sesuai aturan,” ujarnya.

Hal ini menandakan, lanjut dia, bahwa sebenarnya antara pembangunan dengan lingkungan bisa sejalan, antara ekonomi dan ekologi bisa berjalan kalau regulator bisa memastikan dan menegakkan aturan dengan baik, tidak kongkalikong, tidak negosiasi, dan pihak swasta juga memiliki komitmen tinggi untuk memberikan yang terbaik untuk alam.

Pendekatan jangka panjang PT Vale dalam pengelolaan sumber daya air dan energi terbarukan mendapat perhatian dari Dewan Energi Nasional (DEN). Anggota DEN, Sripeni Inten Cahyani, menilai pengelolaan tiga PLTA di Sorowako menunjukkan praktik yang dapat menjadi pembelajaran dalam pengembangan energi terbarukan dan penguatan ketahanan energi nasional.

“Di tengah kondisi cuaca yang ekstrem saat ini, banyak pembangkit listrik tenaga air mengalami penurunan kemampuan produksi. Namun yang menarik, PLTA milik PT Vale tetap mampu beroperasi dengan baik. Ini menjadi lesson learned yang sangat penting mengenai bagaimana pengembangan dan pengelolaan PLTA dilakukan secara terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan dan kawasan tangkapan airnya,” ujar Sripeni.

Menurutnya, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pembangkit, tetapi juga oleh kemampuan menjaga ekosistem yang menjadi sumber energi tersebut.

Meskipun pencapaian ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, narasi hijau di Sorowako tetap menghadapi catatan kritis dari pengamat lingkungan dan organisasi seperti Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Para aktivis lingkungan mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap risiko erosi dan limpasan sedimen tanah ke sistem Danau Matano, Danau Towuti, serta Danau Mahalona, terutama saat curah hujan ekstrem.

Bagi para pengamat, komitmen ESG PT Vale tidak hanya diukur dari rimbunnya pohon di Solia Hill atau Hutan Himalaya, melainkan pada konsistensi jangka panjang, menjaga hak ruang hidup masyarakat sekitar, serta keanekaragaman hayati asli yang tidak selalu bisa digantikan secara instan oleh hutan reklamasi. Ada kekhawatiran bahwa ekosistem hutan sekunder hasil reklamasi memerlukan waktu dekade untuk benar-benar menyamai fungsi ekologis hutan primer yang hilang.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto menyatakan bahwa pihaknya memahami bahwa mewujudkan pertambangan berkelanjutan bukanlah tugas sederhana.

“Kami percaya ini adalah tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Kami tidak mengklaim telah sempurna, namun kami terus berupaya belajar, berbenah, dan melangkah maju agar kehadiran kami memberikan nilai nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan negara,” pungkas Bernardus. (imam dzulkifli)