INDAYANTI sebelumnya tak pernah membayangkan bisa punya rumah. Dia dan suaminya, Wawan Setiawan, selama ini hanya pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, membawa serta dua anak mereka yang masih kanak-kanak, Sakira dan Safira.
Hingga kemudian mereka “berjodoh” dengan rumah di Bukit Indah Kapuk (BIK), sebuah perumahan subsidi di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Itu adalah rumah dengan pemandangan bukit yang indah.
Rumah KPR dari BTN itu hanya tipe 36. Punya ruang tamu dan dua kamar tidur. Namun, terasa luas bagi Indayanti. Apalagi jika mengingat perjuangannya dan suami sampai bisa mendapatkannya.
“Saya jualan jilbab. Pergi beli kain sendiri, jahit sendiri, jual sendiri, dan antar sendiri,” ucapnya. Suaminya bekerja di sebuah pabrik.
Indayanti mendapat kemudahan hingga bisa melakukan akad kredit. Baginya, program pemerintah, perumahan yang layak dari pengembang, dan kelancaran berkas di BTN adalah anugerah.
Dia kini bisa menunggu suami pulang bekerja sembari menikmati teh dari teras rumah sendiri. Ya, rumah sendiri di Blok C-37. Bukan lagi rumah kontrakan yang dibayar setiap tahun namun tak bisa dimiliki.
Di kota yang sama, komitmen BTN membantu pasangan muda juga dirasakan Erni Bundu dan suami. Entah sudah berapa perumahan yang perempuan 35 tahun itu datangi sebelumnya. Dari yang jenis subsidi sampai yang komersil. Brosur dari perusahaan-perusahaan pengembang menumpuk di lemari rumah kontrakannya. Setiap suaminya pulang kerja, satu atau dua brosur ia ambil untuk didiskusikan bersama di hadapan gelas berisi teh panas.
Tetapi begitu saja terus selama bertahun-tahun. Keyakinan mereka gampang goyah oleh simulasi angsuran yang disediakan banyak situs properti di internet.
“Dengan pendapatan keluarga kami yang tidak begitu besar, rasanya mustahil bisa memiliki rumah,” ucap Erni, Rabu lalu.
Suaminya seorang mantan karyawan yang baru merintis usaha kecil-kecilan. Erni menopang kebutuhan bumbu dapur hingga susu formula anaknya dengan menjual kue.
Sesekali Erni menepis keraguan dengan mulai membangun komunikasi dengan marketing perumahan. Ujungnya, portofolio yang ia ajukan selalu berujung penolakan dari lembaga pembiayaan. Berkali-kali ia meninggalkan kantor bank dengan langkah dan napas yang berat lantaran kecewa.
“Perbankan lebih percaya kepada mereka yang pegawai negeri atau karyawan swasta. Mungkin ada garansi pendapatan yang sama setiap bulannya. Tetapi kami juga mendambakan bisa punya rumah sendiri. Kecil dengan satu kamar juga tidak masalah,” sambung sarjana dari sebuah kampus negeri di Makassar itu.
Hingga pada suatu pagi, Erni tak ingat kapan persisnya, jelasnya di awal Desember dan sudah mulai musim hujan, Arman HS, pimpinan A3 Mulia Residence, Maros, menghubunginya.
“Bagaimana kalau coba ke BTN?” tanya Arman kala itu. Pertanyaan yang lebih bernada saran ketimbang meminta jawaban.
Keesokan hari, Erni menemui Arman di kantornya. Arman memulai percakapan dengan menyodorkan sebuah kertas berukuran A4. Isinya simulasi KPR di BTN dan sedang ada promo untuk nasabah non fixed income. Erni jelas masuk di kategori itu karena baik ia maupun suaminya tidak lagi menerima gaji tetap setiap bulan.
Promo itu membuatnya bisa memilih tenor 15 hingga 20 tahun. Lalu pada satu hingga lima tahun pertama bisa mendapatkan angsuran lebih rendah dari program reguler.
Erni ingat betul waktu itu ia tersenyum meski belum tahu berkasnya bakal diterima BTN atau tidak. Kemungkinan “tidak” belakangan ini sangat sering ia rasakan dan diakuinya menoreh rasa trauma.
Tetapi tak ada salahnya dicoba lagi. Dua pekan kemudian tim survei BTN mendatanginya dan tempat usaha suaminya di jantung kota Maros. Maros adalah sebuah kabupaten yang bertetangga dengan Kota Makassar. Bandara Internasional Sultan Hasanuddin berada di situ, walau hampir semua orang yang naik pesawat pasti menyebut dirinya menuju atau terbang dari Makassar.
Erni menanti kabar setiap hari sembari memasukkan adonan kue ke mesin kecilnya. Dia menaburi kuenya dengan keju atau cokelat atau rasa lain sambil berharap ada yang menelepon untuk urusan KPR dari BTN.
Akhir tahun, bukan panggilan telepon yang datang, melainkan pesan chat di WhatsApp. Isinya sebuah dokumen berbentuk PDF.
“Itu SP3K. Betapa senangnya kami, masih teringat sampai sekarang,” kenang Erni.
SP3K adalah Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit. Pengajuan KPR Erni diterima dan paling lambat 14 hari harus mengurusnya ke kantor BTN di Makassar.
Tentu saja, seperti yang mungkin Anda sebagai pembaca prediksi, tidak butuh 14 hari untuk Erni datang. Hanya beberapa hari kemudian dia sudah ke sana, lengkap dengan beberapa lembar materai untuk akad kredit. Hari itu Jumat. Proses tanda tangan dilakukan usai Jumatan.
Erni pun merasa berjodoh dengan BTN. Bolak-balik bank lain, berkasnya selalu ditolak. Namun di bank itu, “lamaran” diterima dan akad digelar di hari penuh berkah.
Program khusus untuk nasabah bukan pegawai atau karyawan membuatnya bisa masuk kriteria. Setelah akad kredit, dia pun rutin mengunjungi rumah di Blok G A3 Mulia Residence itu, mendampingi tukang membenahi plafon dan mengganti warna cat. Di dalam berwarna cokelat muda. Luarnya hijau menjurus biru atau biru menjurus hijau; Anda bebas membolak-balik penyebutannya.
Kini, rumah impian itu sudah ditempati Erni. Anak-anaknya saban hari bermain-main di pekarangan yang sudah diberi keramik dan di sampingnya ada taman dan ditanami rumput.
Komitmen BTN
Dua kisah dari Maros itu sejalan dengan komitmen BTN selama ini untuk menjadi jalan bagi mereka yang mendamba rumah. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) kembali mencatatkan prestasi sebagai bank penyalur Kredit Pemilikan Rumah subsidi (KPR FLPP) terbesar di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, BTN berhasil menyalurkan KPR Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 182.952 unit, atau sekitar 70% dari total penyaluran nasional, tertinggi dibandingkan bank penyalur lainnya.
Atas capaian tersebut, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada BTN atas kontribusinya dalam mendukung program perumahan rakyat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), total penyaluran KPR FLPP secara nasional hingga 19 Desember 2025 mencapai 263.017 unit dengan nilai pembiayaan sebesar Rp32,67 triliun. Program ini melibatkan 39 bank penyalur, 22 asosiasi pengembang, serta didukung oleh 7.998 pengembang perumahan di seluruh Indonesia.
Rumah subsidi yang dibiayai melalui FLPP tersebut tersebar di 12.981 kawasan perumahan pada 33 provinsi dan 401 kabupaten/kota, mencerminkan besarnya kebutuhan dan pemerataan akses kepemilikan rumah bagi MBR.
Presiden Prabowo menegaskan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk mengatasi backlog perumahan nasional yang masih mencapai sekitar 29 juta unit. “Program ini sangat membanggakan, namun kita harus bekerja lebih keras lagi agar seluruh rakyat Indonesia bisa memiliki rumah yang layak,” ujarnya.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait turut mengapresiasi kinerja BTN sebagai mitra utama pemerintah dalam pembiayaan perumahan subsidi. Menurutnya, keberhasilan program ini terlihat dari semakin beragamnya latar belakang debitur, termasuk pekerja sektor informal seperti asisten rumah tangga (ART) yang mampu membeli rumah dari penghasilannya sendiri.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menegaskan bahwa KPR Subsidi masih menjadi portofolio utama BTN dan akan terus dikembangkan secara agresif. Ke depan, BTN akan memperluas strategi penyaluran dengan menggandeng berbagai institusi, perusahaan, dan organisasi untuk menciptakan permintaan (create demand) dari calon debitur potensial.
“Mulai 2026, kami akan fokus menjalin kerja sama dengan institusi di berbagai sektor. Salah satunya, BTN telah mendapatkan komitmen untuk melayani kebutuhan KPR subsidi bagi guru-guru Muhammadiyah. Model ini akan kami replikasi ke institusi lain agar penyaluran KPR subsidi semakin cepat dan tepat sasaran,” jelas Nixon.
Pada kesempatan yang sama, Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho mengungkapkan bahwa pencapaian penyaluran 263.017 unit KPR FLPP pada 2025 merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah, meningkat signifikan dibandingkan lima tahun lalu yang hanya mencapai 109.253 unit pada 2020.
“Peningkatan ini menunjukkan tingginya minat MBR terhadap hunian layak dan terjangkau, sekaligus membuktikan efektivitas peran BTN sebagai lokomotif pembiayaan perumahan nasional,” ujarnya.
Wujudkan Impian
Ya, BTN telah membantu banyak orang. Sebab tempat pulang terbaik sepulang kerja adalah rumah sendiri. Bukan indekos, bukan kontrakan, apalagi kafe.
Tak ada yang senyaman kembali ke rumah sendiri saat petang atau malam telah tiba. Faktanya, tiga dari lima orang pada rentang usia milenial belum memiliki rumah. Artinya, orang-orang muda dengan usia 24-39 tahun saat ini kebanyakan masih menjadikan rumah sebagai impian. Belum jadi kenyataan.
Riset tSurvey.id menunjukkan, semakin strategis kota yang ditinggali, misalnya di ibu kota provinsi, semakin rendah juga juga tingkat kepemilikan rumah.
Penyebabnya, menurut survei tersebut, tidak lain tidak bukan adalah semakin tingginya harga properti. Pandangan dari survei lain bahwa milenial sulit memiliki rumah karena terlalu sering membeli kopi dan nongkrong, sedikit terbantahkan dari sisi ini.
Milenial bukannya tak mau mempunyai rumah. Terbukti, 57 persen responden survei tersebut menyatakan berkeinginan untuk membeli hunian dalam kurun waktu dua tahun ke depan.
Sayangnya, keinginan belum berbanding lurus dengan kesiapan. Dalam survei yang sama terungkap bahwa tujuh dan sepuluh responden mengaku baru berkisar dua tahunan memiliki tabungan khusus untuk rumah.
Makanya, kredit pemilikan rumah atau KPR pun menjadi pilihan paling realistis bagi mereka. Sebab, ada banyak kemudahan dan kelonggaran yang bisa didapat. Ya mirip-mirip jika mereka membeli ponsel terbaru dengan skema paylater. Ponsel sudah bisa dipakai bekerja dan bergaya namun bayarnya diangsur.
Sebanyak 45 persen responden memilih untuk menggunakan KPR syariah, 35 persen yang kemungkinan mengambil KPR konvensional, dan 20 persen yang cukup optimistis bisa membeli rumah secara tunai.
BTN pun kini mempermudah kepemilikan rumah melalui transaksi digital. Mereka meluncurkan Bale by BTN. Bale tampak lebih muda dan ceria dalam desainnya. Juga lebih mudah dan fleksibel dalam penggunaannya.
Nixon menuturkan, segala jenis transaksi bisa dilakukan dengan super app Bale by BTN. Sejalan dengan visi BTN yang ingin selalu menjadi pilihan utama keluarga Indonesia dalam melakukan transaksi finansialnya. Transaksi yang praktis, dalam satu genggaman.
Aplikasi Bale by BTN jufa memiliki fitur Cari Properti yang memungkinkan nasabah untuk mencari rumah dan mengajukan KPR. Fitur ini memungkinkan warga mendapatkan berbagai informasi, seperti harga, lokasi, dan pengembang.
Fitur tersebut juga memungkinkan nasabah untuk mengajukan KPR secara online tanpa perlu datang ke kantor cabang. Ada juga fitur Tracking Pengajuan yang memungkinkan nasabah untuk memantau proses pengajuan KPR secara transparan.
DPD Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) Sulsel mengapresiasi kinerja BTN selama ini. Menurut mereka, bank tersebut menjadi yang terdepan dalam memberikan kemudahan.
Ketua DPD REI Sulsel, Mahmud Lambang menuturkan, butuh sedikit sentuhan lagi agar program penyediaan rumah bagi rakyat makin terarah, yakni kemudahan investasi dari pemerintah daerah.
Mahmud menegaskan, ke depan perlu ada kemudahan lanjutan, lebih dari yang ada saat ini. Apalagi pemerintah pusat juga sudah sangat menekankan itu. Bersama-sama mengatasi backlog. Jika pengembang, perbankan seperti BTN, pemda, dan masyarakat bisa saling berkolaborasi, kesulitan memiliki rumah bagi mereka yang selama ini hanya menjadikannya impian bisa diatasi. (imam dzulkifli)







