Hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari pabrik PT Semen Tonasa, terpahat sebuah “rahasia” berusia 48.000 tahun yang harus terus dijaga.
***
Tanah “merah” di Minasatene, Kabupaten Pangkep, sempat basah oleh hujan yang cukup deras sehari sebelumnya. Bagian bawah sepatu yang dikenakan Fadli Zon, Menteri Kebudayaan RI, tampak lengket, seiring langkahnya memasuki situs prasejarah Leang Bulu Sipong 4, Kamis, 29 Oktober 2026.
Dengan rompi hijau stabilo dan helm merah, Fadli menuntaskan rasa penasarannya. Ia bahkan harus naik tangga setinggi 10 meter untuk bisa melihat lukisan anoa di dinding gua itu. Kemeja putih lengan panjangnya harus kotor terkena debu.
Perjuangan yang menghasilkan pengalaman yang sepadan. Fadli bisa benar-benar menatap lukisan tangan manusia purba itu dari jarak dekat. Lukisan itu teridentifikasi dibuat lebih dari 48.000 tahun lalu. Jauh lebih tua dari lukisan serupa di Gua Lascaux, Prancis (17.000 tahun), Altamira di Spanyol (20.000 tahun), maupun Bhimbetka di Bhopal, India (sekitar 10.000 hingga 20.000 tahun).
“Saya sangat senang dan bangga. Tetapi juga menyimpan kekhawatiran,” ucap Fadli.
Kekhawatiran yang dia maksud adalah ketahanan lukisan yang bisa saja terkikis oleh waktu dan perubahan iklim. Makanya, Fadli sangat menekankan perawatan dan pelindungan warisan masa lampau itu.
“Kita bersyukur karena kini pemantauan kondisi dinding dan gambar cadas dilakukan secara berkala sebanyak empat kali dalam setahun oleh tim gabungan Balai Pelestarian Kebudayaan dan PT Semen Tonasa,” imbuh pria 55 tahun itu.
Situs prasejarah Leang Bulu Sipong 4 memang terletak langsung di dalam kawasan operasional PT Semen Tonasa. Secara spesifik, gua ini masuk wilayah konsesi tambang tanah liat (clay) aktif milik perusahaan tersebut. Jika menarik garis lurus dari kompleks pabrik utama PT Semen Tonasa (Pabrik Tonasa II, III, IV, V di Desa Biring Ere, Bungoro), jaraknya ke area bukit konservasi Bulu Sipong ini hanya berkisar antara 3 hingga 5 kilometer.
Inilah kesempatan bagi PT Semen Tonasa membuktikan bahwa deru industri dan denyut pelestarian cagar budaya purba Leang Bulu Sipong 4 mampu berjalan seiring. Boleh saja menambang untuk masa depan, namun jangan sampai mengikis masa lalu.
Leang Bulu Sipong menyimpan setidaknya 365 motif gambar cadas. Mulai dari cap tangan, babi kutil, anoa, hingga figur therianthrope.
“Leang Bulu Sipong 4 merupakan bukti peradaban tua Nusantara yang harus kita jaga bersama. Ini menandakan bahwa nenek moyang kita 48 ribu tahun yang lalu sudah mengenal tradisi perburuan,” ujar Fadli.
Kunjungan menteri tersebut tidak sekadar menjadi momen administratif perlindungan warisan sejarah, tetapi juga memperlihatkan titik temu antara pelestarian budaya, dunia riset, dan tanggung jawab korporasi yang beroperasi di jantung kawasan UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep.

Jalinan Sejarah dan Komitmen Konservasi
Perjalanan panjang PT Semen Tonasa berakar dari komitmen untuk meningkatkan hajat hidup orang banyak melalui pemerataan pembangunan nasional. Sejarah berdirinya perseroan ditandai dengan diresmikannya proyek pembangunan pabrik pada 1968 oleh Jenderal M. Jusuf, Menteri Perindustrian RI kala itu.
Pabrik ini didirikan di Desa Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sebuah wilayah yang saat itu terpencil namun menyimpan kekayaan alam berupa cadangan bahan baku semen yang melimpah.
PT Semen Tonasa pun terus memproduksi serta memasarkan semen untuk kebutuhan dalam negeri maupun mancanegara sejak tahun berdirinya. Menempati lahan seluas 1.571 hektare di Sulawesi Selatan, perusahaan bertransformasi menjadi produsen semen terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
PT Semen Tonasa secara bertahap memperkuat kapasitas produksinya melalui pembangunan empat unit pabrik berproses kering yang andal. Mulai dari Pabrik Tonasa II dan III (masing-masing berkapasitas 590.000 ton per tahun), Pabrik Tonasa IV (berkapasitas 2.300.000 ton per tahun), hingga pembangunan Pabrik Tonasa V (berkapasitas 2.500.000 ton per tahun). Keberadaan pabrik-pabrik ini turut disokong oleh infrastruktur utilitas mandiri berupa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2×25 MW dan 2×35 MW di Biringkassi.
Titik balik strategis dalam tata kelola korporasi terjadi pada 15 September 1995, ketika perseroan resmi terkonsolidasi dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang sebelumnya dikenal sebagai PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Melalui sinergi ini, PT Semen Tonasa terus berbenah. Berbagai terobosan dilakukan untuk mewujudkan visi menjadi produsen semen yang paling efisien dan memiliki keunggulan kompetitif di kancah nasional maupun global.
Namun, deru mesin pabrik tidak mengurangi komitmen untuk ikut menjaga warisan peradaban. Dan upaya itu bukanlah cerita kemarin sore. Jauh ke belakang pada 2018 silam, PT Semen Tonasa bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (kini BPK Wilayah XIX) dan Badan Pengelola Geopark Maros-Pangkep melihat potensi besar topografi karst unik berhias tanaman endemik serta warisan arkeologi di atas lahan tambang yang dikelola perusahaan.
PT Semen Tonasa bergerak cepat dengan menetapkan kawasan Bulu Sipong seluas 31,64 hektare atau setara dengan 11,3% dari total luas lahan tambang 280 hektare, sebagai kawasan konservasi mutlak.
Langkah preventif dan protektif ini terus dirawat. Berbagai upaya taktis dilakukan berkala. Mulai dari revegetasi di kawasan konservasi, memonitor serta mengontrol ketat aktivitas operasional agar efek getaran dan debu selalu berada di bawah ambang batas aman, melakukan pengecoran akses jalan situs dan pengairan jalan tambang guna menekan debu, memasang rambu serta pembatasan akses, hingga mengedukasi masyarakat secara masif mengenai pentingnya menjaga situs prasejarah dari ancaman perusakan.
Menembus Batas Industri Hijau
Komitmen PT Semen Tonasa menjaga kelestarian lingkungan hidup terbentang luas melampaui batas wilayah operasional pabrik. Perusahaan mengintegrasikan prinsip industri hijau dan keberlanjutan melalui berbagai pilar utama.
Langkah strategis ini diperkuat dengan pengelolaan sampah perkotaan melalui teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) bekerja sama dengan pemerintah daerah seperti Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Barru untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif, sekaligus menjaga kebersihan lingkungan regional.
Komitmen ekologis perusahaan juga diwujudkan lewat reklamasi lahan bekas tambang, perlindungan ekosistem laut, penanaman pohon massal dan pemanfaatan sekam padi, serta partisipasi aktif mendukung revalidasi UNESCO Global Geopark. Roda kepedulian lingkungan turut menyentuh tingkat akar rumput. Ada pengelolaan bank sampah untuk limbah organik masyarakat serta gerakan bersih-bersih kampung bekerja sama dengan warga dan pemerintah setempat.
PT Semen Tonasa pun secara konsisten diganjar penghargaan bergengsi PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta berbagai penghargaan efisiensi energi.
Tantangan pelestarian situs cadas prasejarah diakui tidak mudah. Mulai dari perubahan suhu, kelembapan, hingga ancaman pengelupasan permukaan dinding gua akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, kolaborasi mitigasi dilakukan secara intensif, termasuk pemantauan kondisi dinding dan gambar cadas yang dilakukan secara berkala.
Perpaduan Profit dan Pelestarian
Gelontoran biaya dan kepedulian kepada situs-situs prasejarah nyatanya tidak mencekik “dompet” perusahaan. Direktur Utama PT Semen Tonasa, Anis menuturkan, perseroan malah mampu melaju sehat. Saat menutup tahun buku 2025 misalnya, PT Semen Tonasa mencatatkan kinerja solid di tengah tantangan industri semen nasional yang diwarnai oleh kondisi kelebihan pasok (oversupply) serta tekanan biaya energi.
“Perusahaan berhasil mempertahankan posisinya sebagai produsen semen terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan menguasai pangsa pasar sebesar 39,5% di wilayah tersebut,” ucap Anis.
Berdasarkan Laporan Tahunan 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Liana Ramon Xenia & Rekan, PT Semen Tonasa membukukan total pendapatan Rp5,59 triliun. Hasilnya adalah laba bersih tahun berjalan sebesar Rp406,80 miliar!
Dari sisi operasional, perusahaan mencatatkan volume produksi semen sebesar 5,14 juta ton dan produksi klinker mencapai 4,89 juta ton sepanjang 2025. Total volume penjualan gabungan domestik dan ekspor berhasil ditutup di angka 7,07 juta ton. Perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan positif pada kinerja ekspor. Pengiriman klinker ke luar negeri melonjak hingga 49,7% menjadi 1,51 juta ton.
Tidak hanya fokus pada aspek finansial, PT Semen Tonasa terus memperkuat komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Sepanjang 2025 itu, perusahaan kembali meraih predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta sertifikasi Industri Hijau level Platinum.
Komitmen dekarbonisasi diwujudkan melalui pencapaian Thermal Substitution Rate (TSR) sebesar 11,78% lewat pemanfaatan energi alternatif seperti biomassa tanaman Kaliandra dan program Refuse-Derived Fuel (RDF), yang turut menekan intensitas emisi karbon menjadi 543 kg CO2/ton setara semen.
Pada 2026 ini, manajemen PT Semen Tonasa tetap optimistis industri semen akan berada pada jalur yang lebih terarah. Didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional, stabilitas suku bunga, serta berbagai program prioritas pemerintah seperti pembangunan 3 juta rumah dan Koperasi Desa Merah Putih, perusahaan siap mengoptimalkan kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok, dan menjalankan transformasi strategis.
Di luar pencapaian angka, konservasi dan pelestarian alam tetap memuncaki daftar prioritas. Komitmen hijau itu diwujudkan lewat penanaman ribuan pohon di Geosite Bulu Sipong, aksi Mangrove Planting Day di pesisir Pangkep, hingga penandatanganan kajian dampak lingkungan Life Cycle Assessment (LCA) bersama PLN UBP Barru.

Langkah-langkah progresif ini selaras dengan napas tema HUT ke-58 PT Semen Tonasa, “Navigating Transformation in Harmony”. Di antara riuh kepatuhan ESG, angka pendapatan triliunan rupiah, dan deru mesin pabrik, ada “jemari” korporasi yang dengan lembut ikut merawat warisan peradaban dunia di langit-langit gua Bulu Sipong. Sebuah harmoni yang memastikan bahwa esok hari, kemajuan industri tidak harus dibayar dengan hilangnya memori masa lalu. (imam dzulkifli)






