MATAMAROS.COM — Dugaan penolakan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr La Palaloi, Kabupaten Maros, masih memanas.
Setelah pihak rumah sakit membantah melakukan penolakan, keluarga pasien justru memberikan kesaksian berbeda terkait kronologi kejadian tersebut.
Anak pasien, Syahrani, membantah pernyataan Direktur RSUD dr La Palaloi, Sri Syamsinar, yang menyebut ayahnya telah menjalani pemeriksaan dokter jaga sebelum diarahkan ke puskesmas terdekat.
Syahrani mengaku membawa ayahnya ke RSUD dr La Palaloi setelah sebelumnya mendatangi rumah sakit lain.
“Saya jelaskan bapak sudah muntah terus, makanan susah masuk, sudah lemah sekali, berat badannya turun drastis. Kondisinya bisa dilihat sendiri, matanya sudah kuning parah, badannya juga sudah kuning parah,” ungkap Syahrani.
Menurut Syahrani, setibanya di IGD, dirinya bersama keluarga dipersilakan duduk dan bertemu dokter serta tenaga kesehatan. Namun, setelah menjelaskan kondisi ayahnya, keluarga justru mendapat informasi bahwa tempat tidur IGD sedang penuh.
Dia mengaku meminta agar ayahnya tetap mendapatkan pemeriksaan dan pertolongan awal sebelum diarahkan ke rumah sakit lain. “Namun, keluarga justru diminta membawa pasien ke puskesmas untuk mendapatkan infus dan kembali ke RSUD jika sudah ada tempat tidur kosong,”tuturnya.
Ia menegaskan tidak ada pemeriksaan fisik terhadap pasien, termasuk pengecekan tekanan darah maupun suhu tubuh. “Saya bilang kalau memang pernyataan direktur seperti itu, silakan buka CCTV. Lihat kapan bapak saya diperiksa. Coba tunjukkan hasil pemeriksaannya, berapa suhu badannya, dan berapa tensinya kalau memang diperiksa,” tegasnya.
Ia menilai persoalan tersebut bukan semata-mata soal ketersediaan tempat tidur, tetapi juga bagaimana rumah sakit memberikan penanganan kepada pasien yang datang dalam kondisi sakit.
Ia juga mengaku kecewa dengan sikap petugas keamanan yang ikut menjawab pertanyaan keluarga saat berkomunikasi dengan dokter.
Setelah meninggalkan RSUD dr La Palaloi, Syahrani kembali membawa ayahnya ke rumah sakit sebelumnya. Di rumah sakit tersebut, ayahnya kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan berupa USG dan pemeriksaan darah.
Menurut Syahrani, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tumor berukuran sekitar 5,5 sentimeter pada saluran empedu ayahnya. Pemeriksaan darah juga menunjukkan kadar bilirubin yang tinggi.
Direktur RSUD dr La Palaloi, dr Sri Syamsinar, membantah tudingan adanya penolakan pasien.
Menurut dia, suasana IGD saat kejadian memang penuh sesak. Tempat tidur kosong yang terekam dalam video diklaim memiliki peruntukan khusus yang tidak bisa digunakan sembarang orang.
Satu tempat tidur disiapkan khusus untuk tindakan kegawatdaruratan kritis seperti penanganan korban kecelakaan, sementara empat tempat tidur lainnya dikhususkan bagi pasien anak sehingga tidak memenuhi kriteria bagi pasien dewasa
Menurut Sri, pasien yang datang sebenarnya telah diperiksa oleh dokter jaga. Berdasarkan asesmen awal, kondisi pasien dinilai tidak masuk dalam kategori gawat darurat meski ditemukan indikasi kuning pada bagian mata. Pasien diarahkan ke puskesmas terdekat.
Manajemen RSUD La Palaloi mengungkap akar persoalan yang sedang dihadapi. Kapasitas 38 tempat tidur di IGD dilaporkan tidak pernah kosong selama dua bulan terakhir akibat tingginya angka kunjungan pasien.
Di tengah polemik tersebut, Bupati Maros, Chaidir Syam telah meminta manajemen rumah sakit mengambil tindakan tegas terhadap petugas keamanan yang terlibat dalam insiden viral tersebut.
“RSUD sudah melakukan tindakan dengan mengeluarkan sekuriti tersebut sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatannya,” ucap Chaidir. (ast)







