Kemarau Panjang, Panen Padi Sidrap Justru Melonjak 10,4 Ton/Ha Berkat Elektrifikasi Sawah

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif (depan) meninjau sawah di daerahnya yang sudah menggunakan pompanisasi listrik PLN.

SIDRAP — Bayang-bayang kecemasan saat musim kemarau dan ancaman El Nino panjang tak lagi menghantui para petani di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Mengalirnya arus listrik PLN hingga ke tengah petak sawah menjadi pendorong utama Sidrap, sebagai salah satu lumbung pangan nasional, tetap mampu memanen hasil melimpah sekaligus memangkas biaya operasional di tengah cuaca ekstrem.

Di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, misalnya. Keberadaan listrik masuk sawah langsung memberikan dampak instan pada produktivitas. Pada panen Agustus 2026, panen padi di wilayah ini melonjak hingga 10,4 ton per hektare, naik signifikan dibanding musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran 7 ton per hektare.

Capaian ini diraih berkat perpaduan ketersediaan 39 titik sumur bor di lahan seluas 395 hektare. Diintegrasikan dengan jaringan listrik PLN untuk menggerakkan pompa air secara optimal.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mappasitujue Desa Takkalasi, Mahmuddin mengakui pompanisasi berbasis listrik mengubah cara kerja petani menjadi jauh lebih praktis dan hemat.

“Sudah mudah sekarang. Tinggal isi voucher listrik sesuai kebutuhan, air langsung keluar. Dengan voucher Rp100 ribu bisa digunakan tiga hari untuk pompanisasi. Listrik mengalir, air mengalir,” tutur Mahmuddin.

Manfaat penghematan akibat konversi energi ini dirasakan nyata di tingkat usaha tani. Ketua Gapoktan Duampanua Desa Baranti, Ruslan, mengungkapkan, berdasarkan kalkulasi riil, peralihan dari pompa berbasis gas elpiji 3 kg atau bahan bakar minyak (BBM) ke daya listrik mampu memotong pos biaya operasional pengairan hingga di atas 80 persen.

Saat menggunakan pompa gas LPG 3 kg, petani menghabiskan 2 hingga 3 tabung per hari dengan biaya mencapai Rp60.000 per hari. Setelah beralih ke pompa listrik, konsumsi energi hanya berkisar 4 kWh per hari dengan tarif komersial nonsubsidi Rp1.100 per kWh, sehingga petani cukup mengeluarkan biaya Rp4.400 per hari.

“Melalui inovasi pompa listrik ini, biaya produksi ditekan hingga sepertiganya. Nilai tambah lainnya adalah kenyamanan kerja karena mesin tidak bising, tidak perlu mengangkut tabung gas setiap hari ke sawah, dan tidak ada asap buangan,” beber Ruslan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Sidrap, Ibrahim, menilai program Electrifying Agriculture menjadi momentum penting untuk memangkas ketergantungan pada komoditas energi bersubsidi seperti LPG 3 kg dan solar.

“Langkah konversi energi bersih ini sekaligus diposisikan sebagai pilar penopang utama dalam mengejar target ambisius produksi 1 juta ton gabah yang dicanangkan Bupati Sidrap melalui percepatan Indeks Pertanaman IP300 atau tiga kali masa tanam setahun,” tegas Ibrahim.

Target 18.000 Hektare Sawah Teraliri

Untuk menopang target daerah tersebut, PT PLN (Persero) memperkuat akselerasi program pompanisasi di Sidrap. Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Parepare, Muh Akbar, menjelaskan, kolaborasi PLN dan Pemkab Sidrap menyasar pemasangan sekitar 1.500 titik pompa listrik bertahap dari 2025 hingga akhir 2026.

Secara agregat, target 1.500 titik pompanisasi tersebut diproyeksikan mampu mencakup total lahan pertanian hingga seluas 18.000 hektare.

“Hingga pertengahan tahun 2026 ini, realisasi fisik elektrifikasi telah menyentuh angka 20 persen dari total target di Sidrap, atau telah memfasilitasi pasokan daya setrum bagi sekitar 3.600 hektare lahan pertanian. Satu titik pompanisasi dirancang efisien untuk mengakomodasi kebutuhan 3 kelompok tani,” jelas Akbar.

Pemkab Sidrap juga mau membuat langkah tak terduga. Danau Sidenreng “dibelah”. Itu untuk membangun saluran irigasi teknis sepanjang satu kilometer. Air danau disedot menuju sungai irigasi di Desa Mojong, kemudian didistribusikan ke petak sawah menggunakan pompa listrik PLN.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif menyebut, kolaborasi irigasi air permukaan dan listrik masuk sawah merupakan solusi cepat menyelamatkan tanaman padi saat kemarau panjang.

“Ini jalan keluar agar petani bisa tetap panen di tengah kekeringan,” imbuh mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel itu.

Pemasangan jaringan listrik PLN di tengah hamparan sawah di Sidrap.

Sinergi ini terbukti memperkuat posisi Sidrap di peta pangan. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi padi Sidrap pada t2025 menembus 556.362 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 319.261 ton beras. Naik 24,23 persen dibanding tahun sebelumnya.

Akselerasi Menjelang HLN ke-81

Pemanfaatan energi listrik di sektor agrikultur Sidrap sejalan dengan kebijakan PLN nasional dalam mendukung agenda ketahanan pangan dan modernisasi pertanian.

Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero), M Fahrur Rozy, mencatat hingga Agustus 2026, realisasi pelanggan Electrifying Agriculture dan Electrifying Marine (EA-EM) PLN di seluruh Indonesia telah menyentuh 450.654 pelanggan, dengan total daya terpasang 5.646 Megavolt Ampere (MVA) dan pemakaian energi mencapai 4.970,98 Gigawatt Hour (GWh).

“Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Fahrur.

Pencapaian ini menjadi kado menyambut peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81 pada 27 Oktober 2026. Di wilayah PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (UID Sulselrabar), pelanggan program Electrifying Agriculture hingga September 2026 telah mencapai 4.438 pelanggan dengan daya tersambung 208.553,3 kVA.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, menegaskan, kehadiran listrik di sektor pertanian dirancang untuk memberikan nilai tambah langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kami ingin listrik hadir sebagai energi yang menggerakkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, dan menghadirkan kesejahteraan yang merata,” pungkas Didik. (imam dzulkifli)