MATAMAROS.COM — Wakil Ketua DPRD Kabupaten Maros, Nurwahyuni Malik, menyayangkan dugaan penolakan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr La Palaloi.
Ia menilai peristiwa yang viral di media sosial tersebut telah melukai rasa kemanusiaan dan menjadi catatan serius bagi kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Maros.
“Sangat prihatin, saya sudah melihat video yang beredar tersebut. Rumah sakit adalah tempat terakhir harapan masyarakat ketika dalam kondisi kritis,” kata legislator Nasdem itu, Jumat, 30 Oktober 2026.
Menurutnya, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama dibandingkan persoalan administrasi maupun kendala pelayanan lainnya.
“Atas nama pimpinan DPRD, saya menyampaikan empati mendalam kepada pasien dan keluarga yang mengalami kejadian tersebut. Tidak boleh ada cerita penolakan pasien dalam kondisi darurat, apa pun alasannya,” tegasnya.
Wahyuni menilai persoalan itu tidak bisa dianggap sebagai kesalahpahaman biasa. Menurutnya, evaluasi pelayanan RSUD dr La Palaloi perlu dilakukan menyeluruh. Mulai dari penerapan SOP, kesiapan sumber daya manusia (SDM), hingga pengawasan internal manajemen rumah sakit.
“Kualitas pelayanan RSUD sebagai rumah sakit milik pemerintah daerah harus menjadi yang terbaik dan menjadi contoh,” paparnya. “Kami ingin ada klarifikasi dari direktur dan manajemen rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi di IGD saat itu,” tambah Wahyuni.
Sebelumnya, Direktur RSUD dr La Palaloi, dr Sri Syamsinar, membantah tudingan adanya penolakan pasien. Menurut dia, suasana IGD saat kejadian memang penuh sesak. Tempat tidur kosong yang terekam dalam video diklaim memiliki peruntukan khusus yang tidak bisa digunakan sembarang orang.
Bupati Maros, Chaidir Syam telah meminta manajemen rumah sakit mengambil tindakan tegas terhadap petugas keamanan yang terlibat dalam insiden viral tersebut.
“RSUD sudah melakukan tindakan dengan mengeluarkan sekuriti tersebut sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatannya,” ucap Chaidir. (ast)






