Biarkan Ahlinya yang Bicara; Ini Alasan Mengapa Social Distancing Sangat Penting

MAROS, MM – Dari sebuah kota di China kini menginfeksi 152 negara. Sudah lebih dari 218 ribu orang yang kena dan 8 ribuan orang meninggal dunia. Jelas Covid-19 atau Corona bukan persoalan enteng.

Nah, salah satu imbauan yang kini digalakkan oleh banyak kalangan adalah social distancing. Mengambil jarak dari kerumunan, menjauhi kontak fisik. Tetapi, aplikasinya di kehidupan nyata masih banyak diperdebatkan.

Read More

MataMaros,com mengutip bagian dari tulisan panjang Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc., PhD, DIC, ahli epidemiologi penyakit menular yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Sudah saatnya menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya. Berikut ulasannya;

Social distancing itu apa?

Bahasa mudahnya adalah menjaga jarak sosial dan interaksi kita dengan orang banyak. Implementasinya? Dengan tidak makan atau nongkrong di tempat-tempat umum seperti restoran, kafe, dsb;

Tidak pergi berkumpul di keramaian (nonton konser, bioskop, kajian-kajian umum); Hindari menggunakan transportasi publik; Jangan melakukan travelling (baik ke luar kota atau luar negeri); Jangan pergi ke tempat-tempat wisata; Mengurangi kunjungan ke rumah kerabat/teman/saudara; Mengurangi frekuensi belanja dan pergi berbelanja saat benar-benar butuh, usahakan bukan pada jam ramai;

Jika dapat bekerja dari rumah, lebih baik menerapkan work from home (WfH); Jaga jarak dengan orang lain sekitar 1 meter (saat mengantri, duduk di bus/kereta); Untuk sementara waktu, anak sebaiknya bermain sendiri di rumah; Untuk sementara waktu, dapat melaksanakan ibadah di rumah (fatwa MUI bisa dibaca disini).

Kenapa social distancing ini penting? Karena kita sedang berupaya memutus rantai penularan Covid-19 yang jauh lebih luas lagi. Social distancing adalah cara paling mudah dan murah yang bisa kita lakukan. Bentuk kontribusi terkecil sebagai bagian dari masyarakat dan kelompok sosial. Dengan mengurangi interaksi sosial, kita tengah membantu kelompok rentan (dan juga diri sendiri) untuk mengurangi penularan dan penyebaran virus corona yang sangat cepat ini.

Nah, pada tulisan itu, Dewi juga memberi saran kepada setiap dari kita yang saat ini sedang flu. Begini sarannya;

Melihat kapasitas RS saat ini, disarankan bagi kita yang memiliki gejala flu ringan, tidak ada sesak nafas atau kesulitan bernafas, tidak ada penyakit penyerta atau daya tahan tubuh yang rendah, maka self-isolation (mengisolasi diri) selama 14 hari adalah metode yang tepat.

Tidak perlu buru-buru ke RS. Kenapa? Karena bisa jadi kita hanya menderita flu biasa. Dengan kita ke RS, ada kemungkinan kita justru terpapar dengan orang-orang yang benar-benar sakit. Kalaupun kita benar terinfeksi, kita juga telah mengurangi resiko penularan kepada yang lain dengan mengisolasi diri di rumah.

Cara mengisolasi/mengkarantina diri bagaimana? Dengan cara berdiam diri di kamar, keluar hanya pada saat benar-benar diperlukan, gunakan masker saat pergi keluar, patuhi etika batuk/bersin, menjaga kebersihan diri, makan-makanan sehat dan bergizi, minum multivitamin dan booster daya tahan tubuh.

Bertahanlah selama 14 hari and that’s it! Insya Allah kamu sudah bisa beraktivitas sebagaimana biasa lagi. Oh iya, jangan lupa, ga perlu stress menghadapi ini. Karena stress bisa menurunkan daya tahan tubuh.

Dewi pun memberi ulasan soal alasan memakai masker. Ini;

Masker hanya diperuntukkan bagi orang yang sakit dan tenaga medis yang merawat pasien. Jika kita adalah orang yang sehat dan tidak memiliki gejala flu, maka tidak perlu panik untuk selalu menggunakan masker.

Karena berdasarkan penelitian, menggunakan masker tidak terbukti dapat menurunkan penularan, dan di beberapa kasus justru meningkatkan penularan karena kondisi lembab dan kita jadi suka mengusap wajah.

Menggunakan masker pun ada caranya. Masker yang sekali pakai jangan digunakan berulang-ulang. Jangan sampai kita panic buying berebut membeli masker sampai-sampai tenaga kesehatan kita kehabisan stok padahal mereka adalah orang-orang yang sangat memerlukan.

Terus kita harus melakukan apa lagi? Dewi menulis seperti ini;

Sebagaimana sudah saya sebutkan di atas, kita harus menjadi bagian dari masyarakat yang saling menjaga dan menguatkan. Bukan hanya orang yang sakit atau terlihat sakit yang harus menjaga jarak dan diri, tapi kita yang sehat juga. Kenapa? Karena tadi, bisa saja kita menjadi carrier atau pembawa virus tersebut juga dan menularkannya kepada orang lain. Jadi yang perlu dilakukan adalah:

1. Menjaga kebersihan diri dan badan.
2. Sering-sering cuci tangan menggunakan air yang mengalir dan sabun, terutama saat mengunjungi tempat-tempat umum.
3. Jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.
4. Gunakan hand sanitizer pada saat bepergian dan sulit mendapatkan air untuk mencuci tangan.
5. Jangan berjabat tangan
6. Patuhi etika batuk/bersin (tutup mulut dengan tisu lalu buang tisunya – jangan dipake lagi yak!; jika tidak ada tisu maka tutup mulut menggunakan lengan dalam baju; cuci tangan menggunakan air & sabun; gunakan masker).
7. Langsung mengganti baju sesampainya di rumah setelah bepergian.
8. Mulai terapkan social distancing.

Selengkapnya bisa dibaca di dewinaisyah.wordpress.com. (*/fik)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.