Surat Seorang Guru Honorer di Maros; “Tolong, Kami Lapar!”

MAROS, MM – Beberapa orang bisa tetap mendapatkan penghasilan meski di rumah. Meski ada wabah. Namun beberapa lainnya justru sangat terpukul dengan situasi ini. Untuk sekadar makan pun sulit.

Redaksi MataMaros.com menerima surat dari seorang guru honorer di Kabupaten Maros. Dia menceritakan soal kondisi keluarganya saat ini, yang diyakininya mewakili banyak keluarga lain. Banyak yang lapar dan tak ada yang mau menoleh.

Read More

Berikut isi suratnya;

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarakatuh

Bismillah…

Perkenalkan, saya Syamsidar. Seorang guru taman kanak-kanak. Dan guru privat khusus agama Islam (guru mengaji). Saya sudah melakoni profesi ini selama 2 tahun..

Tetapi sejak awal covid masuk ke Indonesia, saya mulai dirumahkan.

Ini sungguh sulit. Masuk mengajar saja pendapatan saya tidak seberapa. Sebagai guru mengaji hanya 300 rb/bulan.

Untung saja salah satu orang tua tempat saya mengajar mau mengizinkan saya mengajar anaknya di rumahnya selama wabah covid.

Saya tahu bukan saya saja yang menjerit di tengah wabah ini. Mungkin ada yang lebih dari saya. Namun ini harus diungkapkan. Biar orang-orang tahu ada yang tidak baik-baik saja dengan keadaan ini.

Ayahku seorang tukang pijat syar’i. Seorang tunanetra. Saat ini sepi langganan. Tak ada orang yang ingin disentuh. Ibuku seorang pembantu di rumah salah seorang kerabatku mengajar.

Di rumah, kami ada belasan orang. Saya banyak bersaudara. Adik-adikku masih kecil.

Satu-satunya yang membuat saya kuat saat ini adalah kalimat “saya harus melihat ke bawah”. Meski teman yang mengizinkan saya tetap mengajar menawarkan makanan untuk saya, tapi makanan itu seperti kurang menarik.

Bagaimana mungkin saya bisa makan dengan lahap sedangkan keluargaku menjerit? Di mana saat ini pemerintahku berada? Aku membutuhkan bantuanmu. Terutama keluargaku.

Aku hanya seorang anak pria tunanetra yang berhasil mendapatkan rumah gratis dari sebuah perusahaan koran harian di Makassar.

Kali ini aku kembali membutuhkan pemerintahku. Aku guru honorer.  Mewakili seluruh jeritan guru honorer, mungkin.

Di manakah rasa belas kasihmu? Membiarkan anak bangsa mengikat perutnya dan keluarganya dengan berpuasa? Di mana rasa belas kasihmu? Saat kau sibuk memborong stok makanan untuk keluargamu tapi di sini ada guru honorer taman kanak-kanak menjerit melihat keluarganya.

Aku tak ingin meminta. Namun untuk kali ini kurendahkan diriku. Kubersimpuh pada sang Maha Kuasa pemilik langit dan kepada penguasa negeri. Untuk menolong guru honorer.

Aku bukan satu-satunya yang menjerit. Di sana mungkin ada guru lain yang menjerit sama sepertiku. Tolong lihatlah ke mari.

Kami menunggu bantuanmu.

Dan jika bantuan itu ternyata sudah ada, tolong bawalah ke mari. Kami lapar.

Syamsidar, guru honorer di Maros.
(HP 081355709783)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.