Buka di Tengah Corona, Warung Remang-remang Ditutup Paksa Warga

MAROS, MM – Sekelompok warga di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, mendatangi beberapa warung, Selasa malam, 14 April 2020. Mereka tak tahan lagi melihat ada pemicu keramaian dan perkumpulan orang di tengah masifnya imbauan otoritas kesehatan untuk tetap di rumah.

Apalagi, warung-warung tersebut dicurigai memberi layanan prostitusi. Warga di sana menjulukinya dengan istilah warung remang-remang.

Read More

Kira-kira pukul 19.30 Wita, kelompok warga itu pun turun untuk melakukan penutupan paksa. Tiga warung didatangi secara bergantian. Hasilnya, menurut Ustaz Hamid Matta, salah seorang warga, dua di antaranya kedapatan mempekerjakan perempuan “pelayan”. Mereka bukan warga setempat. Tetapi pemilik warung warga Labuaja.

“Makanya langsung kita tanya, mau pulang sekarang atau besok? Ada yang langsung pergi, kita tahankan mobil. Ada juga yang minta waktu untuk berkemas,” ujarnya.

Hamid mengaku heran dengan adanya warung seperti itu yang buka. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang, pandemi Covid-19. Tidak elok katanya. “Sedangkan orang saja singgah berbuat baik, di masjid, kita tidak izinkan. Kenapa orang yang mau datang ‘menjual’ kita biarkan. Tidak boleh begitu, ” ucapnya lagi.

Saat digerebek warga, para pelayan di salah satu warung sempat sembunyi. Mendengar ada banyak orang yang datang, mereka langsung keluar lewat pintu belakang warung. Namun, telanjur ada warga yang melihat.

Mereka pun menampakkan wajahnya satu per satu. Salah seorang di antaranya diketahui dalam keadaan hamil.

Kepala Desa Labuaja, Asdar Nasir mengakui adanya aksi warga. Namun, dia tidak menyebut itu penggerebekan. “Penutupan saja. Aman kok,” katanya.

Saat hendak dikonfirmasi lebih lanjut, ponselnya langsung tidak mengeluarkan suara. Lalu tidak aktif.

Pada November 2019 lalu, pernah juga muncul polemik warung remang-remang di desa yang sama. Warga mempersoalkan diberinya izin operasional kepada sebuah warung bernama “Warkop Wandha” yang dituding menyediakan minuman keras dan perempuan pelayan.

Akhirnya setelah digerebek tim operasi yustisi kabupaten dari gabungan Satpol-PP, TNI, dan Polri, ditemukan 500 botol bir dan lima kamar yang disekat khusus.

Tim operasi yustisi gabungan Kabupaten Maros saat menggerebek Warkop Wandha di Desa Labuaja, November tahun lalu. (FOTO: DOK)

Kasus tersebut sempat menjadi bahan rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Maros. Warkop Wandha kemudian diperintahkan untuk ditutup, meski belakangan beroperasi lagi.

Saat penggerebekan warga beberapa jam yang lalu, Warkop Wandha juga ikut didatangi karena buka kembali. Namun, warga tidak menemukan ada perempuan pelayan di sana. (abr)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.