Makassar dan Gowa Sudah, Maros Kapan PSBB?

Oleh Zainal Abidin*

HARI ini, 4 Mei 2020 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Itu setelah mendapat persetujuan yang ditanda tangani langsung oleh Menteri Kesehatan Terawan tertanggal 23 April 2020.

Read More

Gowa yang jumlah positifnya Covid-19 terbesar kedua di Sulsel juga merupakan daerah kedua penerap PSBB. Makassar yang peringkat pertama lebih dahulu memberlakukan, per 24 April 2020.

Lalu bagaimana dengan Pemkab Maros yang daerahnya terbanyak ketiga positif setelah Makassar dan Gowa, apakah akan mengajukan PSBB juga?

Melansir dari beberapa berita yang beredar, termasuk MataMaros.com, rasanya berat. Bupati Maros relatif enggan mengikuti imbauan Presiden Jokowi segera PSBB dengan alasan masih melihat PSBB Makassar yang belum efektif.

Keefektifan PSBB akan terlihat dari data yang ada. Pada 6 April, jumlah positif di Gowa tercatat 16 kasus dan di Maros sebanyak 11 kasus. Sedangkan per 3 Mei 2020 tercatat positif Covid-19 di Gowa sebanyak 35 kasus dan Maros sebanyak 33 kasus. Berarti kasus positif di Gowa naik 2 kali lipat sedangkan di Maros naik pas 3 kali lipat.

Tentu kita tidak ingin ke depan jumlah kasus di Gowa sudah flat sebagaimana di Jakarta yang jumlah positifnya sudah berkurang sejak PSBB diberlakukan, sedangkan di Maros masih terus bertambah karena tidak melakukan PSBB.

Kita juga tidak ingin PSBB diberlakukan dengan tidak resmi karena ini akan merugikan masyarakat Maros. Karena ketika PSBB diberlakukan dengan tidak resmi maka Pemkab Maros tidak memiliki kewajiban untuk menjamin sembako bagi warganya.

Grand Mall dan Kawasan Kuliner PTB misalnya sudah ditutup, lalu bagaimana dengan warga Maros yang selama ini mencari hidup di sana? Mereka harus makan sedangkan sumber penghidupan mereka telah ditutup.

Dalam pengelolaan keuangan daerah, memberi sembako bagi masyarakat memang tidak tampak nyata. Tidak seperti misalnya membangun jalan beton yang tampak berkilo-kilo meter.

Namun, Pemkab Maros harus hadir di tengah masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Jumlah 110 ribu paket sembako tidaklah terlalu besar dibanding keselamatan masyarakat Maros.

Semoga Covid-19 ini segera berlalu. (*)

*Dosen pada FEB Universitas Muslim Maros

Penulis : | Editor :

Related posts