Jangan Suul Khatimah Ramadan

Oleh Hamka Mahmud*

SUNGGUH ibadah yang dikerjakan di bulan Ramadan tahun ini, 1441 H, amat berat ujiannya. Sebab banyak masjid yang ditutup aktivitasnya. Hingga menggerus semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Read More

Namun, di balik beratnya ujian Nabi saw pernah bersabda tentang ganjaran besar pahala berbanding lurus pada ujian yang menyertainya.

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan, menyertai cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka akan memberikan cobaan kepadanya, maka barangsiapa yang rida maka Allah akan meridainya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Istilah suul khatimah, artinya akhir yang buruk. Hanya lazim didengar pada saat berita kematian. Namun, penulis ingin gunakan istilah itu terkait bulan Ramadan tahun ini. Agar jangan sampai kita termasuk insan yang ditinggalkan bulan Ramadan dengan amal yang minus atau buruk.

Jika ada yang bertanya, siapa insan yang berakhir bulan Ramadan dengan suul khatimah, jawabnya mari kita renungkan kisah berikut;

Pada suatu masa, Raja Iskandar Zulkarnain beserta pasukannya hendak berangkat menaklukkan suatu daerah. Pagi hari sebelum berangkat, Iskandar Zulkarnain berpesan kepada pasukannya,

“Dalam perjalanan, nanti malam kita akan melintasi sungai. Ambillah apa pun yang terinjak yang ada di sungai itu.”

Ketika malam gelap tiba dan pasukan Iskandar Zulkarnain melintasi sungai, ada tiga golongan prajurit. Golongan yang pertama tidak mengambil apa pun yang terinjak di sungai karena yakin itu hanya batu.

Golongan yang kedua mengambil ala kadarnya yang terinjak di sungai, sekadar mengikuti perintah raja.

Yang ketiga mengambil bekal sebanyak-banyaknya yang terinjak di sungai sehingga tasnya penuh sekalipun kepayahan meneruskan perjalanan karena beratnya bawaan.

Setelah melanjutkan perjalanan dan tiba pagi hari, Iskandar Zulkarnain bertanya kepada pasukannya, “Apa yang kalian dapatkan semalam?” Ketika para prajurit memeriksa tasnya, ternyata isinya intan berlian.

Prajurit yang tidak mengambil apa-apa sangat menyesalinya. Prajurit yang mengambil ala kadarnya ada perasaan senang bercampur penyesalan, “Kenapa aku tidak mengamil banyak?”

Prajurit yang sungguh-sungguh dan mengambil, perasaannya diliputi bahagia. Sebab dialah yang paling banyak perbendaharaannya.

Cerita ini dikutip dari buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka. Ibrahnya bahwa kita akan melewati Ramadan. Di dalamnya banyak sekali keberkahan. Dan kita memiliki tiga pilihan yaitu;

1. Melewati Ramadan tanpa mengambil keberkahannya sedikit pun. Artinya sama amalnya datang Ramadan dengan tidak. Seperti ini adalah suul khatimah Ramadhan.

2. Melewati Ramadan dengan mengambil keberkahan ala kadarnya. Juga yang ini termasuk suul khatimah Ramadan. Sebab tidak ada upaya menambah pahala.

3. Melewati Ramadan dengan bersungguh-sungguh mengambil keberkahannya, yaitu dengan cara memperbanyak ibadah dan amal kebaikan lainnya. Terutama saat masuk 10 terakhir bulan Ramadan.

Sebagaimana dicontohkan Nabi saw saat memasuki 10 terakhir puasa. Keseriusan beribadah berkali lipat bertambah intensitasnya. Ditandai dengan berdiam diri di masjid yang amal itu disebut iktikaf hingga usai Ramadan.

Olehnya itu, Ramadan tahun ini masih ada dua kali hari Jumat dan masih ada empat kali malam ganjil dapat kita lalui, insyaallah. Dan boleh jadi salah satunya turun Lailatulkadar, lalu sementara kita sedang mengamalkan ibadah pada malam itu. Maka kualitas amal kita saat itu sama dengan 1.000 bulan atau 83 tahun usia.

Ya Allah, sebagaimana Engkau pertemukan kami bulan Ramadan, pertemukan pula kami Lailatulkadar dan jadikan doa-doa kami saat itu dikabulkan. Dan jadikanlah kami di antara hamba-Mu yang meraih kemenangan, wahai Rabb Alamin.

Jangan bersedih; nyalakan semangat, hidupkan jiwa, cari malam Lailatulkadar. (*)

*Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika. Ini kajian seri ke-539. Penulis bisa dihubungi di HP 081285693559.

Penulis : | Editor :

Related posts