Filosofi Bersepeda; Mengayuh Pedal Seumpama Berikhtiar

Kepala BPK Perwakilan Provinsi Sulsel, Wahyu Priyono, saat bersepeda di kawasan Tanjung Bunga. (FOTO: IST)

Oleh Wahyu Priyono*

SEKARANG ini bersepeda tampak sedang jadi olahraga yang diminati masyarakat. Hampir setiap hari kita bisa melihat orang bersepeda di keramaian jalan raya atau yang sengaja melakukan touring dengan bersepeda ke tempat-tempat tertentu.

Read More

Tak kalah menarik, munculnya komunitas atau klub-klub bersepeda di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita. Hampir semua instansi pemerintah, swasta, hingga kampung atau kompleks perumahan memiliki klub bersepeda.

Termasuk di kantor BPK. Bukan hanya di kantor pusat, di setiap kantor perwakilan pun memiliki klub bersepeda.

Apa sebenarnya yang mendorong orang menjadi hobi bersepeda? Tentu saja banyak pertimbangan yang menyebabkannya. Selain mudah dan murah, ternyata bersepeda itu memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Banyak artikel kesehatan yang telah mengulas tentang hal itu. Manfaat bersepeda, antara lain mengendalikan berat badan, mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, mengurangi risiko kanker, mengurangi risiko diabetes, meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi otot tubuh, serta mengurangi stres.

Penulis tidak akan menjelaskan satu per satu dari manfaat-manfaat bersepeda tersebut bagi kesehatan manusia. Sudah banyak artikelnya.

Akan tetapi, penulis sedikit menyampaikan mengenai filosofi bersepeda atau makna bersepeda yang penulis rasakan selama ini, di mana bersepeda itu seperti orang yang sedang menjalankan kehidupan di muka bumi ini.

Ada beberapa filosofi atau makna yang terkandung dalam kegiatan bersepeda, yaitu:

Pertama, harus ada niat, tekad, dan tujuan. Hidup di dunia ini mesti punya tujuan yang jelas, sehingga manusia tidak terombang-ambing dalam menjalankan kehidupannya. Untuk mencapai tujuan itu, mesti dilakukan dengan ikhtiar sungguh-sungguh yang dilandasi dengan niat dan tekad yang kuat.

Hal tersebut dapat dirasakan juga ketika akan bersepeda. Sebelum bersepeda, dimulai dengan menentukan tujuan ke mana, termasuk rute-rute yang akan dilalui untuk mencapai tujuan tersebut.

Penentuan dan pencapaian tujuan tersebut mesti diiringi dengan niat dan tekad yang kuat agar dapat direalisasikan. Tanpa ada niat dan tekad yang kuat, penyakit malas akan mudah menghinggapi diri kita. Karenanya, sering rencana bersepeda menjadi batal atau tidak mencapai tujuan yang diharapkan.

Kedua, inti dari bersepeda adalah mengayuh atau berikhtiar. Aktivitas utama dari bersepeda adalah mengayuh pedal agar roda berputar, sepeda berjalan menuju ke arah yang diinginkan. Berhenti mengayuh, maka berhentilah roda berputar. Sepeda tidak akan jalan ke mana-mana.

Berhenti mengayuh hanya pada waktu istirahat. Selesai istirahat, mesti mengayuh kembali sampai ke tempat tujuan yang diinginkan. Jangan kebanyakan istirahat, nanti malas lagi untuk mengayuh sepedanya.

Demikian halnya dalam hidup, manusia harus terus berikhtiar agar kehidupan terus bisa berjalan, segala kebutuhannya terpenuhi, dan tujuan hidup bisa tercapai. Tidak ada keberhasilan tanpa ikhtiar.

Ketiga, akan selalu bertemu dengan jalan datar, turunan, dan tanjakan. Ketika bersepeda dari satu tempat ke tempat lain yang dituju, pasti kita akan menjumpai jalan datar, tanjakan, dan turunan yang mau tidak mau harus dilalui.

Dari ketiga jenis jalan tersebut, tanjakan merupakan medan yang paling berat. Semakin miring dan panjang tanjakan itu, semakin berat juga kita melaluinya. Namun, ketiganya harus tetap membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan agar tidak lengah dan terjatuh.

Ketika melalui tanjakan, kita yakin bahwa seberat apa pun tanjakan yang dilalui kita akan berjumpa dengan turunan. Dan ketika kita melalui turunan, jangan terlalu gembira karena habis turunan pun kita masih bisa bertemu tanjakan.

Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, kita akan menemui jalan kehidupan yang datar-datar saja, dan menemui jalan kehidupan yang sulit dan berat. Akan menemui pula jalan kehidupan yang mudah dan ringan.

Tentu saja harus tetap hati-hati. Tidak boleh sombong dalam melalui ketiga jenis jalan kehiduapan tersebut, sehingga sampai dengan selamat kepada tujuan hidup yang dicita-citakan.

Keempat, bertemu dengan jalan yang mulus dan rusak. Selain ketiga jenis jalan tersebut di atas, ketika bersepeda biasanya kita akan berjumpa dengan jalan yang bagus atau mulus dan jalan yang jelek atau rusak.

Tentu saja kita akan merasakan dua hal yang berbeda pada saat melalui kedua jalan tersebut. Jalan mulus menggambarkan kemudahan atau kenikmatan hidup yang dirasakan oleh manusia. Sebaliknya jalan jelek atau rusak adalah gambaran kesulitan atau kesusahan hidup yang dirasakan manusia.

Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, manusia pasti pernah dan akan mengalami kedua hal tersebut. Selalu bersyukur dan bersabar adalah sikap yang sangat bijak dalam menghadapi kedua jalan tersebut.

Kelima, akan selalu ada godaan dan rintangan dalam perjalanan. Sebagaimana disebutkan dalam paragraf pertama, bahwa orang bersepeda itu harus memiliki tujuan, misalnya dari Jakarta ke Cirebon. Dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut terkadang dan bahkan sering menghadapi godaan dan rintangan.

Godaan itu banyak ragamnya. Godaan untuk berhenti dalam waktu lama di suatu tempat, terbesit untuk pindah haluan, dan godaan-godaan lain yang mengalihkan dari tujuan.

Begitu juga dengan rintangan di jalan banyak ragamnya. Selain jalan yang menanjak dan rusak, keramaian di jalan raya juga bisa menjadi rintangan.

Lalu lalang kendaraan bermotor adalah rintangan terberat di perjalanan. Risiko disenggol dan ditabrak oleh kendaraan bermotor adalah risiko yang paling tinggi bagi para peseda.

Konsentrasi dan kehati-hatian mesti dimiliki para pesepeda. Demikian pula dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kita akan menghadapi godaan dan cobaan yang tiada henti sampai manusia mengakhiri hidupnya di dunia ini.

Demikianlah sedikitnya lima filosofi bersepeda berdasarkan pengalaman penulis. Di akhir tulisan ini, penulis ringkaskan filosofi bersepeda itu dalam satu paragraf motivasi:

Yakinlah bahwa bersama tanjakan ada turunan
Yakinlah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan
Yakinlah bahwa bersama keletihan ada kenikmatan
Dan yakinlah bahwa bersama perjuangan ada kemenangan. Semoga bermanfaat. (*)

*Kepala BPK Perwakilan Provinsi Sulsel

Penulis : | Editor :

Related posts