Dari Terbawah Kedua, Pertumbuhan Ekonomi Maros Melejit Jadi Terbaik Kedua

Bupati Maros, Chaidir Syam dan wakilnya Suhartina Bohari pada refleksi 2 tahun kepemimpinan mereka, Senin, 27 Februari 2023. (FOTO: IST)

MATAMAROS.COM — Kabupaten Maros masih di posisi kedua terbawah pertumbuhan ekonomi di Sulsel pada 2021. Hanya setahun bisa rebound.

Tidak tanggung-tanggung, Maros naik menjadi tertinggi kedua di Sulsel pertumbuhan ekonomi 2022, dengan angka 9,13 persen. Hanya kalah dari Kabupaten Bantaeng.

Pada 2021, pertumbuhan ekonomi Maros hanya 1,36 persen. Pada 2020 malah minus di angka -10,87 persen.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Maros di atas pertumbuhan ekonomi Sulsel dan nasional. Ekonomi Sulsel pada tahun 2022 hanya sebesar 5,09 persen.

Bupati Maros, Chaidir Syam mengaku sangat bersyukur laju pertumbuhan ekonomi meningkat tajam setelah dihantam badai Covid-19.

“Awal pemerintahan kami pertumbuhan ekonomi Maros sempat terpuruk diangka -10,87 persen, kemudian tahun 2021 mulai naik di angka 1,36 persen dan tahun 2022 ini sudah menyentuh angka 9,13 persen. Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat dan semua pihak yang terus mendorong bangkitnya perekonomian Maros setelah pandemi Covid-19,” katanya, Selasa, 28 Februari 2023.

Kontribusi Kabupaten Maros terhadap perekonomian Sulsel sepanjang 2022 sebesar 3,89 persen.

Kepala BPS Maros, Guruh Wahyu Martopo mengatakan, terdapat tiga lapangan usaha terbesar di Maros yang menyumbang cukup tinggi dalam laju pertumbuhan ekonomi Maros. Transportasi dan pergudangan sebesar 35,56 persen; pertanian, kehutanan, dan perikanan 16,50 persen; dan industri pengolahan 15,57 persen.

“Sektor terbesar perekonomian Maros ada transportasi, industri semen dan pertanian. Sektor transportasi dan pergudangan bahkan tumbuh sebesar 33,42 persen,” imbuh Guruh.

Dia mengakui bandara memiliki pengaruh besar terhadap laju perekonomian Maros. Meski, imbuhnya, masih bisa melambung karena pergerakan penumpang di bandara dinilai belum normal.

Guruh menyebut jika jumlah pergerakan penumpang telah normal, seharusnya pertumbuhan ekonomi Maros bisa lebih tinggi. (ast)