Oleh Isyraf Madjid
Aktivis komunitas Balla’ Loro
KABUPATEN yang letaknya tidak jauh dari Kota Makassar ini sebetulnya menyimpan berbagai pemandangannya yang indah, sumber daya alam yang melimpah, dan budaya yang semarak. Namun, di balik itu semua, ada ancaman berbahaya yang mengintai. Membuntuti di balik permukaannya: sampah.
Bayangkan, pinggiran Kabupaten Maros, terdapat gunungan sampah yang menjulang tinggi menjulang cakrawala. Di sini, para pemulung bekerja keras di bawah terik matahari, mengais-ngais tumpukan sampah untuk mencari sesuatu yang berharga untuk dijual. Di tengah kekacauan tersebut, bau menyengat dari sampah yang membusuk merembes ke udara, mengingatkan semua orang akan krisis lingkungan yang semakin parah.
Ketika sampah yang datang dari berbagai daerah menumpuk di tempat pembuangan sampah, hal ini tentunya bukanlah hal sepele. Berbagai ancaman berbahaya pastinya tak terelakkan. Seperti cairan beracun yang terbentuk saat air hujan merembes ke dalam sampah, cairan tersebut kemudian membawa campuran bahan kimia, logam berat, dan polutan yang merembes ke dalam tanah dan air tanah, meracuni ekosistem dan membahayakan kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Namun, di sinilah bagian menariknya. Di kala nasib daerah dan warga sekitar yang tinggal di daerah yang berdekatan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah sedikit terganggu, berbagai pihak pun beramai-ramai untuk turun tangan. Pemda dengan beragam perangkatnya pun melakukan langkah inovasi. TPA Bontor Rmba pun dibenahi.
Oleh sebab itu, kami, sekelompok pemuda yang tinggal di daerah sekitar TPA Bonto Ramba ini pun menyambut kegelisahan yang dimiliki sekelompok orang ini. Kami percaya, perubahan dapat dilakukan jika seluruh elemen berkolaborasi dan bergerak ke arah yang sama.
Alhasil, kami berkomitmen untuk bersatu guna memerangi krisis yang diakibatkan oleh sampah ini. Alhasil, lahirlah inisiatif meningkatkan kesadaran tentang pengelolaan sampah, mempromosikan praktik daur ulang dan pengomposan baik pada lingkungan rumah tangga, sekolah, maupun bisnis.
Kami pun turut memberdayakan pemulung, memberi mereka upah yang adil dan kondisi kerja yang lebih aman dalam cita mewujud praktik pengelolaan sampah menjadi harta karun melalui upaya-upaya daur ulang.
Kami sadar, perjuangan melawan sampah di Indonesia masih jauh dari selesai. Tetapi momentum dan aksi kolektif yang terus berkembang menunjukkan secercah optimisme. Dengan komitmen, edukasi, dan inovasi yang berkelanjutan, kami percaya, Maros, memiliki potensi untuk membalikkan arus sampah dan mengembalikan keselarasan antara masyarakat dan lingkungan.
Sejauh ini, meski diterpa berbagai kendala, kami Komunitas Peduli Sampah Balla’ Loro masih terus berupaya untuk menciptakan inovasi terkait bagaimana pengelolaan sampah yang baik. Sebab kami percaya dengan hal tersebut dapat menambah setidaknya dua poin bagi masyarakat sekitar, yakni peningkatan kualitas lingkungan hidup serta peningkatan pendapatan ekonomi.
Namun, semua ini bakal menjadi cita-cita sejak awal, jika tidak dibantu oleh berbagai pihak, hingga hari ini PT AirNav dan DLH Kabupaten Maros telah menjadi katalisator yang baik dalam upaya kami mewujud pembaruan di Maros. Listrik dan mesin pencacah yang kami miliki tentunya menjadi hal yang mewah dan sulit kami miliki jika tidak ada bantuan tangan dari pihak tersebut.
Alhamdulillah dua bantuan tersebut turut menjadi semacam angin surga bagi berbagai kalangan masyarakat sekitar TPA Bonto Ramba.
Oleh karena itu, kami turut menunggu peran lembaga pemerintah dan pembuat kebijakan setelah menyadari urgensi dari masalah ini. Kami percaya, rencana pengelolaan sampah yang disikapi dengan ambisius, seperti pendirian fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dan pengenalan kerangka kerja tanggung jawab produsen yang diperluas, serta pengalihan beban pengelolaan sampah dari masyarakat ke produsen dan perusahaan, dapat menciptakan sebuah lingkungan yang lebih layak untuk dihuni ke depannya.
Narasi tentang sampah dan dampaknya terhadap lingkungan di Indonesia menjadi pengingat bahwa pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan warisan yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang. Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak akan praktik-praktik berkelanjutan, konsumsi yang bertanggung jawab, dan upaya kolektif untuk melestarikan keindahan alam yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Besar harapan kami, Maros bukan hanya sebuah kabupaten dengan pemandangan yang menakjubkan dan sumber kekayaan alamnya yang melimpah. Tetapi juga menjadi bukti dari potensi yang ada di dalam diri setiap masyarakat untuk menentukan nasib mereka sendiri dan memberikan dampak positif bagi dunia.
Kami bercita-cita melakukan perubahan dengan mengambil langkah sederhana: Bijak mengelola sampah.
Pengelolaan sampah yang bijak tidak diragukan lagi merupakan pilar penting dalam membangun masa depan yang lebih hijau, tidak hanya untuk Maros tetapi juga untuk seluruh dunia. Kami berharap apa yang kami lakukan dalam Komunitas Balla’ Loro dapat menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana upaya proaktif dan pendekatan inovatif dapat menghasilkan perubahan lingkungan yang signifikan.
Kesimpulan kami, praktik pengelolaan sampah yang bijak di Maros tidak dapat disangkal lagi merupakan pilar menuju masa depan yang lebih hijau. Kisah transformatif ini bisa menjadi inspirasi bagi kota-kota di seluruh dunia, menyoroti pentingnya edukasi, kolaborasi, dan inovasi dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. (*)







