Kehadiran Corona; Kealpaan Kita dan Negara

MAROS, MM – Imbauan self quarantine dan social distancing masih jadi pembiaran. Realitasnya, masih banyak orang yang tak bisa menjaga diri dari keramaian. Salah satunya di warkop. Berikut ulasan yang ditulis oleh Mahasiswa Pascasarjana Unhas, Amul Hikmah Budiman:

Dunia sudah terguncang, tapi bukan soal gencatan senjata. Negara-negara sedang kalang kabut. Berperang melawan makhluk kecil yang tak terlihat oleh mata dan membunuh ratusan ribu manusia di dunia dengan sekejap. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), World Health Organization (WHO) sebagai serikat bersama negara-negara telah memberikan formulasi kepada seluruh negara tentang upaya preventif melawan virus tersebut.

Read More

Sejak kehadirannya di Kota Wuhan, China pada akhir 2019 telah membuat dunia cemas. Kekhawatiran akan menjadi Pandemi, terlihat nyata hari ini. Bukan hanya di Asia, bahkan seluruh benua turut merasakan dampak dari mewabahnya virus tersebut. Dunia mengenalnya dengan covid-19 atau corona.

Di antara 100 lebih negara yang terkena dampak, salah satunya adalah Republik Indonesia. Kurang lebih sepekan, pemerintah kita telah direpotkan dengan masuknya virus ini. Berawal dari Kota Depok, dua orang yang dinyatakan positif terkena virus corona, semakin menyebar luas hingga ke 17 provinsi di republik ini. Tercatat sudah ada 514 manusia di negeri ini yang dinyatakan positif oleh negara. Diprediksikan akan semakin bertambah.

Negara memang telah mengeluarkan berbagai imbauan untuk mencegah virus tersebut masuk ke dalam tubuh kita. Akan tetapi, negara belum sigap untuk menyediakan dukungan fasilitas dan persiapan yang matang dalam memerangi virus tersebut. Manusia yang dinyatakan positif jumlahnya terus bertambah signifikan setiap hari. Bahkan persentase yang meninggal dunia di atas delapan persen. Melebihi negara-negara lainnya yang lebih dulu terkena dampak, termasuk negara asalnya, China.

Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan kita belum siap menerima pasien yang membeludak tersebut. Alat pelindung diri untuk tenaga medis juga belum memadai, sehingga mereka yang di garis terdepan memerangi virus ini, turut menjadi pasien. Bahkan beberapa tenaga medis dikabarkan meninggal dunia akibat tertular virus ini.

Saat negara lain mulai terkena dampak, negara ini masih terkesan santai untuk pasang “kuda-kuda”. Dia lupa bahwa negara ini juga masih menjadi target pasar Warga Negara Asing (WNA) berlalu-lalang. Alhasil, ketika telah ada warga yang tertular, kita kelabakan. Hanya sebatas imbauan preventif yang mampu diberikan. Lantas apakah imbauan-imbauan tersebut ampuh bagi warga negara?

Boleh dikata, imbauan tersebut yang gencar ditayangkan di berbagai media masih menjadi pembiaran oleh orang-orang. Imbauan self quarantine atau tidak keluar rumah dan social distancing atau jaga jarak hanya sekadar narasi saja. Masih banyak dari kita yang nongkrong kafe atau warkop, berkunjung ke mal, tempat hiburan, membuat acara-acara, dan berjemaah di tempat ibadah. Ada kealpaan pikiran kita dan negara.

Institusi pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi diliburkan, akan tetapi mereka yang bekerja dan fasilitas umum masih terbuka lebar. Negara belum mengkategorisasi siapa-siapa saja pelaku usaha yang masih bisa beroperasi.

Kategori pekerja apa saja yang bisa menerapkan Work From Home (WFH). Sebab, ada beberapa dari kita, yang pendapatannya tidak per bulan seperti ASN atau pejabat negara. Akan tetapi, kerja-kerja mereka setiap hari dengan upah yang tidak menentu. Jika tidak bekerja sehari, mereka tak bisa memberikan makan untuk keluarga. Sehingga, negara harus benar-benar menyiapkan segala kebutuhan pangan dan pelindung diri bagi warga negaranya agar benar-benar mampu tidak keluar rumah.

Para politikus dan pemangku kepentingan harus bergotong-royong menanggalkan segala kepentingan politik untuk kemanusiaan dan masa depan negara. Negara sedang genting, rakyatnya semakin cemas dan khawatir. Pasien makin bertambah, bahkan diprediksi bisa mencapai 700.000 orang jika negara tidak tegas dan total memberikan regulasi dalam pencegahan ini.

Kita tidak ingin seperti Italia yang puluhan ribu rakyatnya menjadi korban karena kelalaian dan tidak tertibnya dengan perintah. Negara tidak ingin lockdown, setidaknya harus memperhatikan segala kebutuhan dasar rakyatnya pada wilayah yang masuk kategori zona merah agar benar-benar tertib berpuasa hasrat untuk tidak kemana-mana.

Jika negara ingin maksimalkan kepatuhan warga pada imbauan, segera kategorisasi pelaku apa saja yang bisa keluar rumah, bentuk satgas yang memantau warga tidak tertib terhadap imbauan negara. Siapkan kebutuhan pangan dan pelindung diri bagi warga agar benar-benar stay di rumah dengan rasa aman dan tanpa kelaparan.

Dan kepada kita, bukalah pikiran dan kesadaran kita, bahwa virus ini bukan hal yang dapat dianggap enteng. Pandemi yang penularannya begitu mudah dan cepat kepada siapa saja. Tetap selalu waspada, dan menghindari kontak langsung kepada siapa saja. Bukan menghilangkan adab dan etika, akan tetapi untuk sementara demi masa depan bangsa, negara, dan orang-orang sekitar kita.

Negara kita sedang berperang melawan makhluk yang tidak kasat mata, lebih kejam dari peran senjata. Dan kita yang mencintai Indonesia, salah satu wujud bela negara adalah masif mencegah. Sembari waspada, setia bermunajah kepada Yang Maha Kuasa agar kondisi ini lekas membaik dan kita tak lagi cemas untuk keluar dari rumah. (*)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.