Ramadan di Tengah Corona, Bagaimana Imam Tarawih dan Mubalig?

Hamka Mahmud. (FOTO: IST)

oleh Hamka Mahmud*

JIKA jadi ditetetapkan pemerintah Kamis, 24 April 2020 tepat jatuh 1 Ramadan 1441 H. Maka sungguh ini adalah bulan puasa yang sangat jauh berbeda suasananya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Read More

Mungkin sejak Indonesia merdeka, bahkan sebelum merdeka. Dan mungkin juga suasana yang sama yang dialami negara seluruh dunia. Terutama yang ada umat Islamnya.

Imbas dari wabah Covid-19 masjid-masjid diimbau agar tidak dipakai salat Tarawih, buka puasa, qiyamul lail, iktikaf, dan seluruh kegiatan yang melibatkan orang banyak.

Mau tidak mau, rela tidak rela, hal itu berdampak banyak sektor. Dan yang paling terkena efeknya adalah imam salat Tarawih dan mubalig.

Siapa imam salat Tarawih itu?

Imam Tarawih adalah imam yang dikontrak oleh pengurus masjid untuk memimpin Tarawih dan Witir selama Ramadan. Umumnya mereka adalah santri dari pondok pesantren yang telah menghafal beberapa juz Alquran. Bahkan ada yang hafiz 30 juz.

Mereka mengisi libur dengan jadi imam kontrak. Inilah ajang mereka mengamalkan hafalannya, yang tentunya orang tua mereka sangat bangga melihatnya telah sukses dipercaya masyarakat jadi imam.

Mereka yang masih status santri atau pemula tak pasang tarif nominal, apalagi nilai maksimal. Beragam jumlah uang saku diberikan oleh pengurus masjid usai menunaikan tugas imam Tarawih selama Ramadan.

Ada yang beri Rp2 juta, Rp3 juta, Rp5 juta selama sebulan. Umumnya santri seperti ini hanya cari jam terbang. Upah inilah yang mereka gunakan untuk dibelikan pakaian baru buat Lebaran. Ini kategori imam shalat tarwih pemula atau amatir.

Hal berbeda jika imam Tarawih dari latar belakang mantan peserta MTQ atau qari. Yang umumnya mereka ini dikoordinasikan wadah perkumpulan imam, tapi ada juga yang diundang langsung oleh pengurus masjid. Lalu ditempatkan imam di masjid yang telah disepakati bersama.

Itupun tidak sepenuhnya 30 malam jadi imam.

Jika mereka imam yang sudah punya nama besar, biasanya 10 malam di masjid ini, 10 malam di masjid sana, 10 malam di masjid situ. Rezekinya pun sangat berbeda dengan imam Tarawih amatir.

Dapat dikira-kira selama sebulan mereka bisa bawa pulang puluhan juta rupiah. Tergantung masjidnya, bahkan ada yang sampai ratusan juta rupiah diraih selama Ramadan.

Seperti yang ke wilayah Papua jadi imam di masjid KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan). Saat mereka hendak pulang berbondong-bondonglah jemaah memberikan uang saku di dalam amplop, sebagai tanda syukur dan ucapan terima kasih.

Lalu, kalau mubalig itu siapa?

Mubalig atau ustaz adalah orang perorangan yang menekuni profesi sebagai pendakwah. Selain imam, mubalig punya kontribusi besar menjadikan Ramadan semarak. Sebab selingan antara salat Isya dan Tarawih ada ceramah agama.

Di kota, umumnya masjid dua kali terisi mimbarnya oleh penceramah. Yaitu sebelum Tarawih dan setelah salat Subuh atau antara azan dan iqamat. Masjid seperti ini diisi oleh mubalig kondang atau profesional. Selain imam, mubalig juga ada klasifikasinya.

“Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. (Al Baqarah: 253)

Sepertinya ayat ini yang diterapkan oleh DPP IMMIM Kota Makassar (sebuah wadah yang mendistribusi khatib Jumat dan penceramah Ramadan di Kota Makassar dan sekitarnya) dalam klasifikasi penceramah.

Uang saku yang diterima mubalig saat mengisi ceramah Ramadan bervariasi. Ada yang Rp200 ribu untuk masjid kecil, Rp300 ribu masjid sedang, Rp500-700 ribu masjid besar atau masjid BUMN, masjid perumahan elite, dan semacamnya.

Umumnya mubalig tidak ada yang menentukan tarif dalam mengisi ceramah. Belum pernah penulis dengar dan lihat penceramah yang seperti itu. Kalau pun ada hanya penceramah yang punya manajer, yang berkategori artis.

Mubalig sejati, berapapun dana “transpor” diterima pasti disyukuri. Sebab itu karunia Allah Swt. yang mereka raih sebelum pahala akhirat. Dana dari jemaah yang dititip ke pengurus masjid untuk dikelola. Baik itu untuk pembangunan fisik dan kegiatan keagamaan Islam.

Nah, pasca merebaknya wabah Covid-19 di seluruh dunia dan pemerintah telah mengumumkan bahwa seluruh masjid di Indonesia tidak digunakan untuk salat Tarawih dan kegiatan lainnya, para imam dan mubalig paling terkena dampak. Krisis finansial.

Dan yang paling merasakan adalah mubalig yang bukan PNS, ia bukan juga pedagang. Begitu juga imam salat Tarawih. Namun beberapa hari yang lalu penulis membaca berita sudah ada lembaga yang peduli pada mubalig yang terdampak Covid-19, yaitu Baznas DKI Jakarta.

Dipimpin oleh ahli hadis Dr Ahmad Luthfi Fathullah, Baznas DKI akan bagikan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp500 ribu untuk 1.100 penceramah di Jakarta. Bantuan diberikan untuk bulan April dan Mei.

Untuk klasifikasi sebagai ulama juga berikan bantuan sebesar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Bantuan ini diberikan kepada 145 ulama se-DKI Jakarta selama dua bulan. Total dana yang keluarkan Baznas DKI Jakarta untuk program tersebut adalah Rp5,3 miliar.

Renungan dari musibah ini. Kita tidak tahu dosa apa yang telah kita perbuat hingga Allah Swt. larang kita memakmurkan rumah-Nya di bulan Ramadan ini.

Olehnya itu, melalui tulisan ini penulis mohon maaf jika ada salah dan khilaf yang sengaja maupun tidak.

Dan penulis mengajak mari kita semua tobat nasuha. Kembali pada Allah Swt. dengan tobat inilah yang akan mencabut wabah Covid-19 akan terangkat.

Sebab pasti ada dosa besar yang telah dilakukan manusia, hingga musibah ini merata tak melihat suku, ras, dan agama.

Kita tidak tahu apakah dosa itu dilakukan oleh umat Islam atau umat dari agama lain. Hanya Alquran memberi petunjuk tentang musibah apabila ia datang maka akan pukul rata semua terdampak.

Kualitas iman terlihat saat seseorang tertimpa musibah. (*)

*Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika. Ini adalah kajian
Seri ke-534. Penulis bisa dihubungi lewat nomor HP 081285693559.

Penulis : | Editor :

Related posts