Memahami Pembebasan Ribuan Napi Lantaran Corona

Oleh Hamka Mahmud*

MUSIBAH mewabahnya Covid-19 di seluruh dunia menjadi pemicu keluarnya kebijakan baru oleh pemerintah, yaitu membebaskan narapidana kasus pidana umum.

Read More

Ya, kecuali napi yang terkena PP 99. Seperti: narkotika, terorisme, dan korupsi. Itupun jika tuntutan pidana mereka di atas 5 tahun penjara. Kalau di bawah 5 tahun lain halnya.

Kementerian Hukum dan HAM telah membebaskan 30.430 narapidana setelah merebaknya virus ini. Tidak hanya di Indonesia terjadi angin segar bagi napi di penjara. Di beberapa negara juga ditempuh hal yang sama.

Penulis sebagai akitivis rohaniwan di empat Lapas dan dua Rutan di Sulawesi Selatan dapat memahami langkah yang ditempuh pemerintah tersebut. Berdasarkan analisis sederhana berikut:

1. Adanya himbauan bagi warga masyarakat untuk menjaga jarak: sosial distancing dan physical distancing. Sementara hal itu sulit dilakukan jika seluruh Lapas dan Rutan di Indonesia mengalami over kapasitas hingga 300-500 persen.

Maka jalan satu-satunya, napi yang dianggap telah berkelakuan baik pada masa pembinaan, dan masuk dalam pidana umum, dibebaskan. Melalui asimilasi dan pembebasan bersyarat.

Apa itu pembebasan bersyarat? Yaitu mereka dibebaskan, namun melakukan wajib lapor ke Balai Pemasyarakatan dua kali sebulan. Baim kunjungan langsung atau lewat aplilasi media daring. Jadi mereka terpantau, ini mirip dengan istilah tahanan kota.

2. Menyelamatkan dana keuangan negara (APBN) dari resesi. Tidak bisa dipungkiri, wabah Covid-19 telah menyebabkan pedagang tergerus penghasilannya, nelayan raib pasar luar negerinya, buruh harian banyak dirumahkan, lalu ASN terancam tertahan gaji 13 dan 14, lalu para ustaz dibatalkan jadwal ceramahnya.

Semua itu menyebabkan turun daya beli masyarakat. Otomatis terimbas pada pemasukan negara yang nihil bahkan bisa minus. Sementara ada keperluan yang harus dibiayai untuk menyelamatkan jiwa: mencegah wabah virus Covid-19 menyebar dan menyelamatkan nyawa warga yang terkena virus.

3. Membiayai narapidana di penjara membuat kas negara tergerus. Maka dikeluarkanlah yang layak bebas, karena adanya momentum merebaknya wabah Covid-19. Agar dapat menghemat pengeluaran.

Negara sama dengan rumah tangga kalau dirasa tidak ada pemasukan, sementara banyak pengeluaran, maka pasti kepala rumah tangga yang cerdas akan mencari cara mengurangi pengeluaran tersebut.

Tujuanya apa? Agar rumah tangga tetap utuh dan harmonis. Sebab alasan ekonomi sering jadi pemicu retaknya sebuah rumah tangga. Begitu juga sebuah negara.

Sewaktu penulis ikut pertemuan Pokmas Lipas yang diadakan oleh Dirjen Pemasyarakatan Kumham di Jakarta 26-28 Februari 2020. Pada momen itulah penulis mengetahui bahwa biaya hidup seorang napi yang dibiayai oleh negara di penjara sekitar Rp20.000 perhari.

Coba kita hitung: Rp20.000 x 30.430 yang sudah dibebaskan karena pertimbangan wabah covid 19. Hasilnya Rp608.600.000 per hari berhasil negara hemat. Sebab telah kembali kepada keluarga mereka.

Olehnya itu, penulis memberi usul pada pemerintah agar kebijakan pemenjaraan pada pelanggar hukum jangan semuanya di penjara. Tetapi lakukan sanksi fisik, berupa dera atau cambuk beberapa kali.

Sebab hal itu menghemat biaya. Karena mereka tidak diberi makan lagi. Sementara efeknya keras, baik dari segi psikologi maupun sosial. Ini saran penulis sebagai aktivis dakwah di Lapas dan Rutan.

Kalau mencari dalil tentang yang dilakukan pemerintah saat ini, penulis mengaitkan kisah tahanan Perang Badar. Mereka dibebaskan dengan kompensasi harus ditebus oleh kerabat mereka. Berarti menghasilkan dana.

Sementara kebijakan pemerintah saat ini yaitu menghemat APBN, sama imbasnya dengan kebijakan Nabi saat itu. Menuai pro dan kontra.

Bedanya, ketika telah diputuskan oleh Nabi, seluruh sahabat berlapang dada menerima.

Regulasi selalu akan menghasilkan pro dan kontra. Namun jika tujuannya adalah maslahat, maka itu diterima. (*)

*Dai Kamtibmas/Penyuluh Agama Islam Non PNS/DANI-Dai Anti Narkotika. Ini adalah Kajian Seri 528. Penulis bisa dihubungi di nomor HP 081285693559.

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.