Corona dan Mi Instan

Imam Dzulkifli. (FOTO: IST)

Oleh Imam Dzulkifli*

KITA yang di Maros memasuki petang hari ini dengan kabar agak ngilu. Seorang dokter di RSUD Salewangang positif Covid-19. Lima puluh tenaga medis ikut diisolasi. Mereka yang diyakini pernah kontak. Minimal berdekatan.

Read More

Apa artinya?

Rumah sakit kita sedang kehilangan 51 orang yang teramat penting. UGD kekurangan. Ruang kantor kekurangan. Kamar perawatan kekurangan. Poliklinik kekurangan. Apotek kekurangan. Dan entah bagian apa lagi yang kekurangan.

Itu baru efek dari satu orang yang kena. Bagaimana kalau dua, tiga, seterusnya? Siapa yang akan memeriksa dan merawat pasien di sana? Sedangkan yang butuh diperiksa dan dirawat terus berdatangan.

Itu baru di rumah sakit. Sang dokter tentu punya riwayat bersama orang di lingkungan lain. Di rumahnya sudah jelas. Di kompleks tempat tinggalnya barangkali. Di warung bisa jadi. Di minimarket siapa yang tahu.

Akhirnya –itu pun kalau kita sadar, corona yang wabah memang seperti bah. Kita baru sadar nyawa dalam bahaya ketika airnya sudah sangat dekat. Corona juga sudah dekat. Dokter sudah kena. Pasien positif tersebar di tujuh kecamatan, separuh dari keseluruhan Maros.

Orang-orang saling menularkan. Yang datang dari luar negeri disambut oleh kerabatnya yang rindu dan punya pesanan oleh-oleh. Salaman dan pulang, lalu duduk di depan rumah sebelum bercengkerama lagi dengan keluarganya.

Yang bekerja di Makassar pulang ke Maros setelah kontak yang sering dengan banyak orang dan benda. Mampir di beberapa tempat, bicara dengan beberapa orang lain.

Dan kita memang harus curiga, 12 orang yang positif itu angka minimal. Saya pun percaya, jumlah sebenarnya lebih banyak. Tidak ketahuan saja sebab memang belum banyak yang ikut tes.

Di daerah lain, beberapa orang yang tampak sehat dan kuat, akhirnya harus masuk ruang isolasi karena swab menunjukkan tubuhnya terinfeksi. Meski tidak demam. Tidak batuk. Tidak sakit tenggorokan. Tidak lemas.

Pemda mengaku telah memesan alat rapid test. Tetapi tak kunjung tiba. Kalau pun tiba, hanya yang dianggap benar-benar butuh saja yang akan diperiksa. Hanya 800 biji. Jumlah penduduk kita 397.937 jiwa. Itu pun data lama, 2017. Beberapa teman saya menikah setelah sensus itu dan sudah punya anak.

Hari-hari belakangan kita juga menjadi saksi betapa pemerintah daerah gagap menghadapi virus ini. Kerja tim Gugus Depan yang dibentuk seperti tanpa arah.

Fakta lain, ketua gugus bahkan tak pernah kita dengar atau baca komentarnya. Tidak pernah muncul ke publik.

Pencegahan menjadi samar. Penanganan yang ODP, PDP, positif amburadul dan kurang transparan. Mereka yang isolasi mandiri hanya dikirimi mi instan dan telur.

Kita hanya kenyang imbauan. Pengumuman demi pengumuman dicetak, bahkan saling tumpang tindih.

Kita diminta pakai masker tetapi tak ada masker di apotek. Tidak ada juga yang dibagikan. Kepala desa yang diminta menyisihkan anggaran kertas dan pulpen kantornya untuk masker juga takut masuk bui.

Kita diminta di rumah tetapi tak ada perintah susulan untuk membuka pintu rumah karena sudah ada sembako di depan.

Kita diminta tak ke mana-mana tetapi tempat-tempat keramaian dibiarkan buka.

Ujung-ujungnya kita memang harus berupaya sendiri. Berjuang sebisa mungkin tidak terpapar, namun harus bekerja pula agar beras tetap terbeli. Pulang ke rumah kita mandi dengan sisa sabun yang kita punya, sebelum masuk kamar dan memeluk buah hati.

Kita memang harus tahu diri. Jika merasa tak sehat, sebisa mungkin istirahat. Berharap gizi dan vitamin dari apa saja yang tersisa di dapur.

Para dokter mesti berikhtiar sendiri mencari alat perlindungan dirinya. Seorang teman saya yang buka praktik pagi dan sore sudah sangat cemas karena harus menghadapi pasien dengan jas hujan.

Mudah-mudahan kecurigaan kita meleset jauh. Mudah-mudahan tidak banyak yang positif. Sebab siapa yang akan merawat jika banyak yang kena? Rumah sakit pun sudah kekurangan orang.

Mau isolasi mandiri hanya dikirimi mi instan dan telur. Itu pun sumbangan dari sebuah mal dan beberapa orang yang berbaik hati. Kalau habis bagaimana? (*)

Batangase, 9 April 2020

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi MataMaros.com  

 

 

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.