Tes Massal dan Senyum Syahrini

Imam Dzulkifli. (FOTO: IST)

Oleh Imam Dzulkifli*

MEMANG akan mengagetkan hasilnya. Bukan lagi 18 positif seperti per hari ini. Mungkin puluhan. Ratusan. Tetapi mudah-mudahan tidak.

Read More

Ini soal tes massal. Maros bisa ke arah itu.

Sudah tiga hari ini teman-teman di redaksi MataMaros.com turut mendorong hal tersebut. Hasil diskusi dengan banyak orang. Pakar, pengamat, anggota dewan, dokter, pejabat pemerintah.

Korea Selatan melakukannya. Ridwan Kamil di Bandung juga.

Memang akan butuh biaya. Misalnya lab milik Balai Besar Veteriner (BBVet) di Barandasi itu benar-benar bisa digunakan, pemda tetap harus mengeluarkan uang untuk perlengkapannya. Semisal swab test kit dan reagent atau reaktan.

Namun itu akan jauh lebih murah dibanding menunggu ledakan pasien. Keuntungan lainnya adalah akan segera ada peta penularan. Gugus Depan Pemkab yang dipimpin Sekda, A Davied Syamsuddin itu bisa lebih mudah membuat perencanaan dan eksekusi. Sore tadi saya chat dia. Cukup dingin awalnya, namun manis ujungnya.

“Kalau ini jadi kemungkinan bukan untuk Maros saja, tetapi kawasan timur Indonesia,” ketiknya. Saya menyimpannya baik-baik. Siapa tahu berguna beberapa hari atau pekan ke depan.

Toh, kawasan timur Indonesia yang disebut itu tentu termasuk Batangase, Carangki, Pajjukukang, Patanyamang, Pabbentengan, atau Pakalli juga. Maros juga kan?

Tiga hari lalu, seorang kepala desa di Bantimurung sudah sangat ingin membeli alat tes Covid-19. Agar kita tahu siapa yang perlu ditangani dan dihindari untuk sementara waktu, katanya. Apalagi, belakangan ada pasien positif yang tidak menunjukkan gejala. Sehat dan tampan-tampan saja kelihatan, ternyata setelah dites, mesti diisolasi.

Kalau ini jadi, pak kades mungkin bisa menghemat dananya. Kita semua akan menjalani tes di dekat Balitjas. Atau mungkin tidak semua. Tenaga kesehatan lebih utama. Dan sepertinya memang tidak semua. Beberapa sampel dari sebuah lingkungan sudah cukup.

Pemda juga tak akan sanggup membeli terlalu banyak bahan untuk tes. Kecuali ada pengusaha di daerah ini yang mau berbaik hati menyumbang. Seperti Lippo yang mengirim 1.600 biji reagent ke RS Unhas.

Kalau ini jadi, agak istimewa jadinya. Sebab, seprovinsi Sulsel saja baru dua alat PCR (polymerase chain reaction). Satu di Balitkes Kemenkes, satu di RS Unhas. Dua-duanya di Makassar. Satu lagi yang bakal datang rencananya ditempatkan di RS Wahidin Sudirohusodo.

Kalau ini jadi, Maros akan punya peran dalam upaya penanganan virus corona di negeri ini. Nama siapa yang akan pertama disebut? Hatta Rahman mungkin. Itu akan sangat baik mengingat belakangan ini dia terus-terusan dikritisi. Lamban, kata sebagian warganet. Penakut, kata sebagian lainnya. Kaku, kata sebagiannya lagi.

Tetapi saya yakin, Pak Hatta juga sedang berpikir keras. Ini pengujung masa jabatannya. Banyak yang mesti dipikirkan. Namun sebaliknya, kalau ini berhasil, Maros bisa memberi manfaat untuk kabupaten dan provinsi lain, ini adalah akhir yang indah.

Dan saya juga harus menceritakan ini. Kalau Allah meridai, pemakaian lab di BBVet itu sisa menunggu waktu. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo sudah memberi restu. Kalau memang bisa, silakan, katanya.

Pak SYL hanya butuh selembar surat dari Gugus Tugas Pemkab Maros. Ya dari Andi Davied itu. Sekadar legal standing agar action bisa segera dilakukan.

Pak SYL sudah menunjuk mediator. Andi Muhammad Irfan AB namanya. Anda mungkin kenal. Pria dengan rambut selalu disisir rapi, rebah ke kanan.

Pak Irfan itulah yang mengirim pesan kepada Pak Mentan siang tadi, pukul 14.52 Wita. Dia mengenakan kaus berkerah warna biru, pengikat kepala bermotif burung pemberian seorang tokoh Papua, dan duduk di dekat pohon mangga saat mengetik permohonan itu di WhatsApp.

“Okey Pak Mentan, segera saya tindak lanjuti Gugus Maros menyurat ke Menteri Pertanian,” tulisnya begitu mendapat “angin” dari orang yang dikirimi pesan. Lengkap dengan emoticon tanda hormat yang seperti gerakan yoga itu. Tiga sekaligus.

Sekali lagi, kalau Allah meridai, Maros akan punya lab untuk tes Covid-19.

Ini akan menyelesaikan masalah? Belum tentu. Tetapi paling tidak kita melangkah maju. Tidak berputar di situ-situ saja.

Korea Selatan melakukannya dan berhasil menurunkan angka positif. Drastis. Semakin banyak yang sembuh dan caranya ya seperti itu, tes massal. Orang tidak berkumpul karena sistemnya drive thru, mirip kalau pesan makanan di McD atau KFC tanpa perlu turun dari kendaraan. Langkah lainnya paling soal transparansi ke publik. Masyarakat dilibatkan. Diajak diskusi tetapi tak lupa ditanggung “sembakonya”.

Belakangan, Kang Emil mulai mengikutinya di Jawa Barat dan berharap sukses juga. Tadi dia bikin video, pakai masker bermotif Syahrini sedang tersenyum. Agar semua ikut tersenyum, katanya. Supaya imunnya kuat.

Kini Maros bisa menapaki langkah yang sama. Sambil tersenyum juga, iya khaaaan? (*)

Batangase, 11 April 2020

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi MataMaros.com 

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.