Harapan di Akhir Pekan

Imam Dzulkifli. (FOTO: IST)

Oleh Imam Dzulkifli*

INI Ahad yang sejuk. Sejuk dalam arti sebenarnya. Rata-rata di bawah 30 derajat celcius sepanjang siang tadi dan saya jarang menyalakan kipas angin. Entah kalau di tempat Anda membaca tulisan ini.

Read More

Untuk merayakannya, saya baru saja membuat segelas sirup DHT, lalu duduk di pekarangan, menikmati malam di depan bunga-bunga istri saya. Ada anggrek dan satu jenis bunga lagi yang saya tak tahu namanya.

Kepada pemilik bunga-bunga itu, yang tiba-tiba datang untuk memijat ringan pundak saya di dipan bambu (seorang tetangga lewat dan mengucap “Cieee”), saya menceritakan kebahagiaan lain saya hari ini.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Maros memperlihatkan hal yang semestinya hari ini. Tampil ke publik dan mengatakan bahwa kita tidak diam.

Untuk pertama kalinya saya membaca pernyataan ketua gugus di media. Hari-hari sebelumnya teman-teman wartawan selalu mengetik nama jubir. Sampai-sampai saya hafal nama dan kenali wajahnya, Dokter Syarifuddin. Awak redaksi MataMaros.com punya penilaian tersendiri soal sosoknya; ramah dan tabah.

Tetapi hari ini, ketua yang bicara. Beberapa teman iseng mengirim pesan WhatsApp, saking senangnya. Ada yang kirim emoticon guling-guling.

Nyatanya, keterangan pers A Davied Syamsuddin begitu menjanjikan harapan. APD buatan ibu-ibu di Lau itu akhirnya diberi ruang untuk membawa manfaat. Dibagikan kepada petugas yang rutin turun lapangan untuk menyemprotkan disinfektan maupun membawa bantuan.

Gugus juga membagikan masker untuk para penjual ikan di pelelangan. Rumah susun untuk tempat isolasi pasien positif corona sebentar lagi bisa dipakai. Sedangkan untuk tenaga kesehatan, tempat menginapnya bakal sangat representatif; rujab bupati.

Tim medis RSUD Salewangang dikirimi logistik. Saya melihat foto-fotonya, logistiknya cukup bergizi. Ada susu beruangnya pula. Warga yang menjalani isolasi mandiri maupun tetangga-tetangganya pun dibawakan kebutuhan dapurnya.

Bupati kita, Hatta Rahman juga tampak sangat ceria hari ini. Kemungkinan bisa menggelar tes corona dengan alat PCR di Balai Besar Veteriner Maros dia sambut baik. Besok mungkin suratnya sudah tiba di ponsel Syahrul Yasin Limpo, menteri pertanian.

Dengan kemeja lengan panjang yang digulung sedikit ujungnya, Hatta juga mulai menyinggung penambahan anggaran. Dana miliaran yang seharusnya dipakai untuk tahapan pilkada itu sangat mungkin dialihkan. Apalagi memang sudah ada perintah dari pusat.

Kalau tidak PHP, itu sungguh akan berguna. Banyak yang bisa ditanggulangi.

Pekan ini anggaran yang disiapkan Maros untuk penanganan Covid-19 memang jadi bulan-bulanan di medsos. Sebuah surat kabar juga menyoroti. Hanya Rp6 miliar, walaupun saat rapat jarak jauh dengan wakil gubernur bupati menyebut angka Rp11,6 miliar.

Lalu di ruang chatting, kabar-kabar baik lainnya berdatangan. Anak-anak muda di berbagai titik menjadi relawan. Sambil tetap memakai masker dan mengantongi hand sanitizer, mereka membantu semampunya.

Ada yang menyemprot, ada yang menjaga portal dan mengarahkan thermo scan ke jidat pengendara yang hendak masuk, ada yang membantu ibu-ibu belanja di pasar.

Dari seorang lurah saya mendapat cerita bahwa dia berkali-kali menemukan segala macam bahan disinfektan di beranda rumahnya pada pagi hari. Tidak tahu siapa yang kirim, katanya. Tetapi akan sangat bermanfaat untuk warga. Jika relawan bekerja, makanan kadang ada yang tanggung.

Semangat swadaya seperti itu memang semakin tumbuh. Di linimasa saya orang-orang membagikan masker hingga makan siang. Ada juga yang keliling kampung membawa beras dan minyak. Tetangga saya tadi juga menyelipkan panci di sela pagar, isinya sup kepala ikan. Di grup-grup, member saling mengirim doa keselamatan dan kesehatan.

Ah, kalau begini terus, kita bisa semakin semangat tentunya. Bukankah kata beberapa ahli, antusiasme dan rasa bahagia seperti itu bisa berefek seperti vitamin C?

Lalu sebelum menutup laptop, saya membuka kiriman PDF soal update pasien corona di Maros. Tidak ada tambahan pasien positif hari ini.

Sempurna. Weekend yang penuh kasih sayang Allah. Dan, menurut saya, cara mensyukurinya haruslah komplet. Selain mengucap hamdalah, juga berkomitmen untuk terus saling jaga dan saling bantu. Sampai virus dari Wuhan itu pergi. Dan bahkan sampai seterusnya.

Mungkin ini pengingat bahwa sebelum ini kita pernah terlalu lama saling melupakan. Mungkin. (*)

Batangase, 11 April 2020

* Pemimpin Redaksi MataMaros.com

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.