Yusuf Sangdes, Anak Maros yang Panen Dolar dari Desain Grafis

Sebenarnya tidak tiba-tiba juga. Sejak kecil Yusuf suka menggambar, pakai pensil. Waktu itu tidak jago dan cenderung kurang berbakat, katanya. Tetapi diasah terus, beralih ke digital, kini malah jadi tumpuan hidup.

LAPORAN: IMAM DZULKIFLI

Read More

YUSUF besar di Pasar Pakalu, Bantimurung. Rumah orang tuanya (Baco dan Asseng) memang di situ, jualan di situ. Tetapi dia malah tumbuh menjadi lelaki penyuka seni. Senang melukis dan menulis.

Waktu SMA Yusuf menang lomba rancang Kota Maros 5 Tahun ke Depan. Di usia remaja dia menjuarai beberapa lomba penulisan cerpen.

Pemilik nama lengkap Muhammad Yusuf itu mantap berkonsentrasi di desain grafis saat kuliah di Program Studi Seni Rupa Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar, masuk tahun 2007. Semantap pilihannya menikahi wanita idamannya, Nursyafina beberapa waktu kemudian.

Yusuf pun memiliki benteng untuk tidak salah arah dalam pergaulan. Dia bisa maksimal belajar mendesain. Berbagai software desain grafis dia pelajari secara otodidak; dari komputer satu ke komputer.

Begitu punya skill lumayan, Yusuf tidak langsung bertemu dunia microstock seperti sekarang. Dia sempat freelance di beberapa tempat sebelum jadi karyawan desain di Harian FAJAR, Makassar. Kalau Anda membaca FAJAR antara 2012-2017 dan terkesan dengan desain bagus, nah ada campur tangan anak Maros ini di situ.

Dua tahun berturut-turut (2015 dan 2016) logo buatan Yusuf juga yang digunakan FAJAR sebagai logo ulang tahun. Prestasi fenomenal lainnya adalah juara sayembara logo 100 tahun PSM Makassar.

Sambil menyelesaikan desain-desain untuk surat kabar, Yusuf mulai berkenalan dengan microstock. Ternyata ada sarana untuk memajang karya di situ dan berpeluang diunduh orang seplanet bumi. Dibayar pula.

Sekitar tahun 2014 mulailah Yusuf jadi kontributor Shutterstock, penyedia desain dunia paling terkenal saat itu. Hasilnya, cukup bikin ciut. Satu desain yang di-download orang entah di mana, bayarannya di bawah 1 dolar.

“Rata-rata Rp3 ribu per desain,” kenang Yusuf, usai makan sahur, Senin, 18 Mei 2020.

Anehnya, dia tidak mundur. Malah makin semangat karena menyadari, uang banyak akan datang sendiri bila karya bagus.

Dua tahun kemudian, bulan Ramadan, ada desain bertema islaminya yang viral. Diunggah ribuan kali dan jadi top download waktu itu. Pendapatan yang masuk lebih dari USD1.000. Ya kalau sekarang Anda ingin rupiahkan kira-kira Rp15 jutaan. Hanya dari satu desain itu.

Yusuf makin bersemangat. Namanya makin dikenal. Dikenal sebagai Yusuf Sangdes. Di dunia maya rating-nya naik. Di dunia nyata mulai diincar ruang-ruang pelatihan sebagai pemateri.

Dia kemudian yakin microstock ini bisa jadi tumpuan hidup. Tahun 2017, pria yang terus memelihara janggut tipis itu keluar dari FAJAR, lalu berkantor dari rumah kontrakannya. Beberapa teman mengira dia menganggur.

Hingga kini Yusuf terus mendapatkan penghasilan dari Shutterstock. Belakangan ditambah lagi di Freepik, platform lain. Kemudian ada Fiver, situs yang menawarkan jasa desain grafis; ujung-ujungnya bikin desain juga.

Alumni SMAN 1 Bantimurung itu bahkan terpilih jadi brand ambassador Freepik Indonesia pada 2019. Istimewa karena hanya dua orang dari Sabang sampai Merauke yang dinobatkan, salah satunya lahir di Pakalu. Di beberapa negara bahkan cuma satu orang.

Hasil dari kemampuan desain yang dipadu dengan kelihaian melihat peluang secara global, Yusuf sudah mendapatkan cukup banyak materi. Termasuk rumah yang kini sudah tak ngontrak lagi. Pelan-pelan dia membangun hunian dari hasil mendesain. Nursyafina mendampinginya dengan tabah.

Ramadan ini, desain Yusuf hits lagi. Template ucapan puasa dengan hiasan mirip dekor pengantin di tepiannya. Sepasang suami istri tanpa wajah mengucap salam dengan tangan. Ada beduk dan lampu-lampu.

“Dipakai sama Telkomsel, Grab, Tim Ricis, Tim Bakpau, dan beberapa bank,” ucap Sekretaris Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Sulsel tahun 2012 itu.

Tetapi jangan bayangkan dia langsung tiba di fase nyaman. Tahun 2015 akun Shutterstock-nya kena banned, diblokir. Dia frustrasi. Untung tidak menyerah. Di situlah dia mulai juga mengenal Freepik.

Yusuf juga kerap dilanda kelelahan di depan laptop atau komputer. Walau diakuinya momen seperti itu hanya membutuhkan sedikit tidur. Setelah itu on fire lagi. Seperti pacaran dengan benda-benda beradiasi.

Yusuf membuat studio pribadi untuk berkarya. Kalau sudah di situ, agak susah merecokinya dengan urusan lain. Mungkin seperti anak-anak kecil yang sedang menggambar di kertas, mengganggunya berarti siap-siap tak diladeni.

Studio itulah kantornya. Tempatnya mencari nafkah. Mengumpul dolar dari karya-karyanya. Dia termasuk orang yang tak terganggu bila kurs dolar naik. Selisih konversi bahkan menguntungkannya.

Tetapi dia tidak pelit berbagi ilmu. Yusuf membuat akun Youtube dan mengungkap banyak rahasia desain di situ. Dia juga aktif di Instagram. Ketik saja namanya, muncullah wajah dan jejak unggahannya.

Yusuf juga semakin rajin mengisi sesi-sesi pelatihan. Selama kampanye “di rumah aja”, dia banyak terlibat di sharing-sharing online. Kemarin dia baru saja jadi pembicara Tech Talks ’28, digelar Yayasan Teknologi Tanah Air, siaran langsung di IG.

Yusuf mengaku senang jika semakin banyak anak muda yang bisa menghasilkan pendapatan di dunia digital. Makanya dia terbuka untuk berbagi tips dan trik.

Nah, bagaimana kalau anak-anak muda Maros? “Lebih prioritas lagi. Sekampung harus diutamakan,” katanya. (*)

Penulis : | Editor :

Related posts