Setelah Keripik, Kelompok Tani di Mallawa Mau Bikin Kopi Jamur

MAROS, MM – Memang sayang kalau hanya mengandalkan penjualan jamur segar. Banyak yang terbuang. Mending diolah supaya lebih tahan lama.

Begitulah aktivitas Kelompok Tani Hutan Samaenre Bersatu (KTH Samber) empat tahun ini. Mereka binaan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang bikin sektor UMKM juga tumbuh di Kecamatan Mallawa.

Produknya diberi nama Kripik Jamur Mallawa. Ini diproduksi lantaran jumlah jamur tiram kerap kali melimpah. Namun, permintaan kurang.

“Kami kan memang pembudidaya jamur tiram. Selama ini kami hanya jual segar. Per hari biasanya hasilkan 30-40 kilogram. Namun, permintaan hanya 10 kilogram,” ungkap Hapsah Marsudin, Bendahara KTH Samber, Senin, 9 Maret 2020.

Karenanya, mereka dibina untuk membuatnya menjadi produk yang lebih tahan lama. Lebih menguntungkan pula. Meskipun belum seberapa.

“Kalau keuntungan keripik, masih sedikit. Hanya ditakutkan terbuang percuma,” tutur Hapsah.

Sebagai gambarannya, kata dia, kalau dijual segar, harganya mencapai Rp20 ribu per kilogram. “Sementara, kalau dalam bentuk kripik, kita untung Rp10 ribulah per kilo,” sebutnya.

Selain keripik, KTH Samber berencana akan membuat produk lain, seperti tepung jamur, kopi jamur, sampai cokelat jamur. “Kalau tepung bisa cepat. Tetapi kopi dan cokelat mungkin butuh waktu karena butuh pabrik ekstrak sendiri,” kata Hapsah.

Keinginan tersebut muncul usai dirinya mengikuti pelatihan UMKM di Jember, pekan lalu. Cara bikin sudah tahu, sisa alatnya. “Katanya kalau di Sulsel, cuma Unhas yang punya,” imbuhnya

KTH Samber ingin menambah produk dengan tujuan untuk memperluas pasar lagi. Selama ini masih di wilayah Maros dan Makassar.

“Kadang juga ada orang di kampung yang kalau mau ke luar negeri jadikan oleh-oleh. Ada yang mau ke Malaysia, Singapura, sampai Arab Saudi,” ungkap Hapsah. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.